RADAR TULUNGAGUNG – Mengembalikan kejayaan Pantai Popoh sebagai ikon wisata pesisir Tulungagung bikin pemkab berpikir keras.
Mereka pun mulai menyiapkan strategi baru dengan mendorong pengembangan Pantai Popoh menjadi destinasi wisata tematik.
Konsep tersebut diarahkan agar Popoh tidak hanya mengandalkan panorama pantai, tetapi juga memiliki daya tarik tambahan melalui unsur edukasi, budaya, dan aktivitas keluarga.
Harapannya, destinasi yang pernah menjadi primadona wisata Tulungagung tersebut kembali memiliki magnet kuat bagi wisatawan.
Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin mengatakan, keberadaan kegiatan adat dan budaya di kawasan Popoh menjadi salah satu modal penting untuk memperkuat identitas wisata.
Baca Juga: Malam 1 Sura di Pantai Popoh Tak Sekadar Tradisi, Jadi Strategi Bangkitkan Pariwisata Tulungagung
Tradisi masyarakat tidak hanya dipertahankan sebagai warisan leluhur, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana promosi.
“Selain menjaga adat, kegiatan seperti ini juga mengenalkan kepada masyarakat bahwa Popoh masih siap menjadi tempat wisata. Kita ingin meramaikan kembali kawasan ini,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan wisata tidak boleh hanya mengejar jumlah pengunjung, tetapi harus tetap mempertahankan karakter lokal yang menjadi pembeda.
Karena itu, nilai budaya pesisir akan terus dikolaborasikan dengan konsep wisata modern.
“Nguri-nguri adat tetap jalan, tetapi sekaligus kita promosikan agar masyarakat tahu potensi Popoh,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tulungagung Muhamad Ardian Candra mengakui, persaingan destinasi semakin terbuka setelah JLS membuat akses menuju sejumlah pantai selatan lebih mudah.
“Dulu Popoh menjadi salah satu tujuan utama karena aksesnya paling mudah. Sekarang banyak pantai baru yang berkembang sehingga Popoh perlu dikembangkan dengan konsep yang lebih kuat,” jelasnya.
Pengembangan wisata tematik menjadi salah satu opsi yang tengah disiapkan.
Popoh nantinya diarahkan memiliki konsep yang mampu menarik wisatawan keluarga, termasuk segmen anak-anak.
“Popoh punya keunggulan karena lebih ramah keluarga. Ke depan, arahnya bisa ke wisata edukasi maupun tematik,” katanya.
Baca Juga: Pengusaha Soroti Nasib Pantai Popoh Tulungagung, Dinilai Kini Lebih Cocok Jadi Kawasan Perikanan
Pemilihan konsep wisata tematik di Pantai Popoh memang cukup beralasan.
Mengingat, ada tradisi sedekah Sura yang dijalankan masyarakat nelayan Pantai Popoh diyakini telah berlangsung selama puluhan tahun bahkan lintas generasi.
Hingga kini, ritual tersebut tetap dipertahankan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur.
Sesepuh adat Pantai Popoh, Mbah Nyadi menuturkan, tradisi tersebut telah ada jauh sebelum dirinya terlibat dalam pelaksanaannya.
Bahkan saat dirinya mulai melaut di kawasan Popoh pada 1978, ritual itu sudah menjadi agenda rutin masyarakat nelayan.
Baca Juga: Tunggu Berkah JLS, Pantai Popoh Tulungagung Masih Sepi dan Minim Pembenahan
"Tradisi ini sudah ada sejak saya kecil. Saya mulai bekerja mencari ikan di Popoh tahun 1978 dan saat itu tradisi ini sudah berlangsung," ujarnya.
Menurutnya, keberlangsungan tradisi tersebut tidak lepas dari peran para sesepuh terdahulu yang secara turun-temurun menjaga adat yang diwariskan leluhur.
"Sebelum saya ada Pak Sumiran, sebelumnya lagi ada sesepuh-sesepuh yang memimpin ritual ini. Tradisi ini adalah warisan nenek moyang yang terus dilestarikan," katanya.
Mbah Nyadi menjelaskan, perubahan yang terjadi selama puluhan tahun lebih banyak pada sosok pelaksana ritual.
Sementara tata cara, nilai adat, serta uba rampe pokok yang digunakan dalam prosesi tetap dipertahankan.
"Perubahan hanya terjadi pada pelaksananya, tetapi adat dan uba rampe pokoknya tetap sama,"ujarnya. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri