RADAR TULUNGAGUNG - Haul Akbar Pondok PETA memiliki magnet tersendiri. Bahkan, jemaah dari jarak jauh pun rela datang ke Tulungagung untuk kegiatan tahunan ini.
Haul Akbar Pondok Pesantren PETA ke-57 kembali menjadi magnet bagi jemaah dari berbagai daerah.
Ribuan orang memadati kawasan pondok sejak pagi hari, Minggu (21/6/2026), untuk mengikuti rangkaian doa, pengajian, dan haul para masyayikh yang telah menjadi tradisi tahunan.
Jemaah yang hadir tidak hanya berasal dari Tulungagung dan wilayah sekitar, tetapi juga datang dari berbagai kota di Jawa Timur.
Mereka rela menempuh perjalanan jauh demi mengikuti kegiatan yang dinilai memiliki nilai spiritual sekaligus menjadi ajang silaturahmi antarjemaah.
Salah satunya Yatmin, sopir rombongan jemaah asal Bojonegoro. Dia mengaku berangkat bersama rombongan sejak pukul 03.00 dini hari agar bisa tiba tepat waktu di lokasi acara.
Sebelum menuju Pondok PETA, rombongan juga sempat singgah di Pondok Ringinagung.
"Kami berangkat sekitar pukul 03.00 dini hari dari Bojonegoro. Ini sudah menjadi rutinitas tahunan, sehingga meskipun jauh, jemaah tetap antusias berangkat," ujarnya.
Menurut Yatmin, antusiasme jemaah dari daerahnya cukup tinggi. Dari kampungnya, terdapat sekitar 13 mobil yang berangkat menuju Tulungagung untuk menghadiri haul.
Jumlah tersebut belum termasuk rombongan lain yang datang secara terpisah dari wilayah Bojonegoro.
Dia menuturkan, kehadiran dalam haul bukan sekadar mengikuti pengajian, mealinkan juga menjadi sarana silaturahmi dan mencari keberkahan. Karena itu, dia hampir selalu hadir setiap tahun.
"Selain mengikuti pengajian, kami juga ingin bersilaturahmi dan mencari keberkahan," tambahnya.
Jemaah lain yang datang dari luar kota adalah Ari, asal Sidoarjo. Dia mengaku sengaja meluangkan waktu untuk datang ke Tulungagung karena memiliki suasana yang khas dan penuh kekeluargaan.
"Saya datang dari Sidoarjo karena ingin mengikuti pengajian dan doa bersama. Suasananya sangat khidmat dan membuat hati lebih tenang," ujarnya.
Baca Juga: Menjemput Cahaya yang Redup: Otokritik di Bilik Pesantren
Menurut Ari, perjalanan yang cukup jauh tidak menjadi kendala karena setiap kali mengikuti haul selalu mendapatkan pengalaman spiritual yang berkesan.
"Perjalanan jauh terbayar ketika bisa mengikuti seluruh rangkaian acara dan berkumpul dengan jemaah dari berbagai daerah," katanya.
Sementara itu, Ashlihah, jemaah asal Trenggalek, mengaku hampir tidak pernah absen menghadiri Haul Akbar Pondok PETA. Baginya, kegiatan tersebut menjadi momen untuk berdoa sekaligus mengenang jasa para ulama.
"Saya hampir setiap tahun datang karena suasananya selalu khidmat dan penuh keberkahan," tuturnya.
Di balik ramainya pelaksanaan haul, terdapat kerja keras panitia yang telah melakukan berbagai persiapan sejak jauh hari.
Arif, salah satu panitia, mengatakan, keterlibatannya dalam penyelenggaraan haul sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
"Persiapan dilakukan jauh-jauh hari, mulai penataan lokasi, pengaturan parkir, hingga pelayanan jamaah," katanya.
Menurut Arif, jumlah jemaah yang terus membeludak dari tahun ke tahun menunjukkan besarnya kecintaan masyarakat terhadap Pondok PETA dan para masyayikh yang menjadi bagian penting dalam sejarah pondok tersebut. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri