RADAR TULUNGAGUNG – Ketika mata tak mampu menangkap rupa, telinga dan jemari mengambil peran. Begitulah cara para pelajar tunanetra di Tulungagung mengenal gamelan, satu nada demi satu nada.
Suara pelan bilah gamelan mulai terdengar dari ruang latihan gamelan Taman Bina Bakat dan Kompetensi Siswa (TB2KS) Tulungagung, Jumat (19/6).
Bukan pemandangan yang biasa. Di ruangan itu, sejumlah pelajar tunanetra tampak meraba satu per satu instrumen yang ada di hadapan mereka. Jemari mereka menyusuri bilah, pencon, hingga rangka kayu gamelan. Dari sentuhan dan bunyi itulah mereka mulai mengenal warisan budaya Jawa.
Tak ada lembar notasi yang dibaca. Tak ada pula instruksi visual. Mereka belajar melalui pendengaran dan perabaan dalam pelatihan gamelan berbasis audio-kinestetik yang digagas akademisi seni Tulungagung, Ammy Aulia Renata Anny.
Program tersebut merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat. Tujuannya sederhana, namun bermakna besar, yaitu memastikan pendidikan seni dan budaya dapat diakses secara setara oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
“Harapannya selain memberikan varian pembelajaran musik, juga mengenalkan khazanah budaya lokal Jawa kepada teman-teman tunanetra. Mereka memiliki kepekaan yang tinggi terhadap bunyi dan perabaan, sehingga gamelan sangat potensial untuk dipelajari,” ujar cewek 31 tahun yang akrab disapa Renata itu.
Menurutnya, selama ini banyak pelajar tunanetra lebih akrab dengan instrumen musik Barat seperti piano atau drum. Karena itu, ia ingin membuktikan bahwa gamelan juga mampu menjadi media belajar yang ramah bagi mereka.
Hasilnya cukup mengejutkan. Dalam pelatihan perdana tersebut, peserta yang sebelumnya belum pernah mengenal gamelan mampu mulai memahami bentuk instrumen hingga memainkan nada-nada dasar hanya dalam waktu sekitar satu jam.
Proses belajar dimulai dari tahap paling mendasar. Para peserta diajak mengenali bentuk fisik setiap instrumen melalui perabaan taktil. Mereka merasakan tekstur kayu, logam, hingga bentuk pencon pada bonang dan kenong. Setelah itu, mereka mulai diperkenalkan pada karakter bunyi masing-masing alat.
Untuk membantu orientasi pemain pada instrumen saron dan demung, Renata menempelkan penanda khusus yang diadaptasi dari angka braille pada setiap bilah nada. Cara itu memudahkan peserta membedakan posisi nada yang letaknya berdekatan.
“Kalau untuk bonang, gong, dan kenong tidak diberi penanda karena lebih mudah dikenali berdasarkan posisi. Jadi mereka mengingat letak nada dari arah kanan, kiri, atau tengah,” jelasnya.
Setelah mengenal bentuk dan suara instrumen, latihan berlanjut pada pengenalan nada secara bertahap. Dimulai dari nada terendah, kemudian naik perlahan ke nada yang lebih tinggi. Pengulangan dilakukan berkali-kali agar peserta dapat menghafal pola bunyi dan posisi instrumen.
Baca Juga: Tingkatkan Kapasitas Petani, UNS Dampingi KTPL Klaten Produksi Biochar dan Pupuk Organik
Bagi sebagian orang, memainkan gamelan mungkin terlihat mudah. Namun bagi pelajar tunanetra yang sebelumnya bahkan belum pernah menyentuh gamelan, proses itu menjadi perjalanan baru yang penuh tantangan.
Saat observasi awal dilakukan, hampir seluruh peserta hanya mengetahui gamelan sebatas alat musik pengiring kesenian tradisional. Mereka belum mengenal bentuk, bahan pembuat, maupun karakter suaranya.
Karena itu, keberhasilan mereka mengenali hingga memainkan nada dasar menjadi capaian yang membanggakan. Di balik keterbatasan penglihatan, mereka menunjukkan kemampuan belajar yang luar biasa melalui kekuatan indra lain yang dimiliki.
Renata mengakui tantangan terbesar justru muncul saat menyatukan seluruh pemain dalam satu harmoni. Sebab, setiap instrumen idealnya didampingi seorang pendamping agar proses pengarahan lebih efektif.
Meski begitu, ia optimistis metode audio-kinestetik ini dapat terus dikembangkan. Dengan latihan yang berkelanjutan, para pelajar tunanetra diyakini mampu memainkan gamelan secara utuh layaknya kelompok karawitan pada umumnya.
Baca Juga: Radar Tulungagung Genap 24 Tahun, Heru Tjahjono: Harus Tetap Jadi Media Penyeimbang
“Ketika mereka sudah hafal posisi dan bunyi masing-masing instrumen, akan lebih mudah untuk diarahkan menjadi satu kesatuan yang harmonis,” katanya.
Di tangan para pelajar tunanetra itu, gamelan bukan sekadar alat musik tradisional. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan keterbatasan dengan kesempatan, sekaligus membuktikan bahwa budaya dapat dinikmati dan dipelajari oleh siapa saja. Melalui bunyi yang mereka dengar dan getaran yang mereka rasakan, nada-nada gamelan kini menemukan cara baru untuk hidup dan diwariskan.
Editor : Sandy Sri Yuwana