Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rawat Nilai Kebinekaan dan Ketahanan Nasional di Tulungagung Lewat Kesenian Ketoprak Kridho Yuwono 

Sandy Sri Yuwana • Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19 WIB
Dewan Pertimbangan PPAL Rayon Tulungagung, Laksda (Purn) Harry Yuwono, (baju putih) saat memerankan Mpu Tantular. (SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)
Dewan Pertimbangan PPAL Rayon Tulungagung, Laksda (Purn) Harry Yuwono, (baju putih) saat memerankan Mpu Tantular. (SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)

 

RADAR TULUNGAGUNG – Pergelaran Kesenian Ketoprak Kridho Yuwono di Lotu's Garden Resto, Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Jumat (26/6) malam, bukan sekadar pertunjukan seni tradisional.

Pergelaran yang diprakarsai Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut (PPAL) RayonTulungagung bersama sejumlah pelaku budaya itu menjadi ruang merawat nilai kebinekaan, memperkuat karakter bangsa, sekaligus mempererat silaturahmi para pewaris kerajaan dan kesultanan dari berbagai daerah di Nusantara.

Sejak pukul 19.00, para undangan dan penonton mulai berdatangan untuk menyaksikan seni Ketoprak tersebut. 

Suasana malam itu semakin istimewa dengan kehadiran para raja, sultan, dan pewaris kerajaan dari berbagai wilayah.

Di antaranya Sultan Banten, Pangeran Jayakarta IX, wakil Kasultanan Ngayogyakarta, wakil Kasultanan Surakarta, Pangeran Bangkalan, perwakilan Kasultanan Samudra Pasai, Kasultanan Bengkulu, Kasultanan Pajajaran, Kasultanan Kalimantan, Kasultanan Bone, Kasultanan Bulungan, hingga seorang datuk dari Malaysia.

Dewan Pertimbangan PPAL Rayon Tulungagung, Laksda (Purn) Harry Yuwono menuturkan, lakon yang dipentaskan mengangkat kisah Kitab Sutasoma. Pemilihan cerita tersebut bukan tanpa alasan.

Menurutnya, Sutasoma menyimpan pesan luhur yang relevan dengan kehidupan bangsa Indonesia saat ini.

 

"Ketoprak ini hanyalah medianya. Yang paling penting adalah nilai yang terkandung di dalam lakonnya, terutama nilai kebinekaan. Dari kisah Sutasoma lahir filosofi Bhinneka Tunggal Ika, bahwa berbeda-beda tetapi tetap satu," ujarnya.

Malam itu Harry Yuwono tampil memerankan tokoh Mpu Tantular. Seorang Mpu yang menulis karya sastra Jawa Kuno. 

Karya ini ditulis pada abad ke-14 di masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Kitab ini sangat bersejarah karena di dalamnya memuat frasa "Bhinneka Tunggal Ika", yang kini menjadi semboyan nasional Indonesia.

Tak hanya piawai memainkan peran, Harry Yuwono juga tampil jenaka hingga kerap membuat para penonton terbahak.

Harry menjelaskan, Indonesia dibangun dari keberagaman suku, budaya, bahasa, hingga adat istiadat. Perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi kekuatan yang menyatukan bangsa.

Selain mengangkat nilai persatuan, lakon tersebut juga memuat ajaran Pancasila yang berisi tuntunan moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Mulai larangan membunuh, korupsi, mencuri, berjudi, berbuat asusila, hingga mabuk-mabukan.

Menurut Hary, pesan-pesan tersebut tetap relevan menghadapi tantangan zaman modern. Bahkan, makna "membunuh" tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga membunuh karakter, kreativitas, maupun jati diri seseorang.

"Kalau karakter orang dimatikan, ide-idenya dibungkam, itu juga bentuk membunuh. Nilai-nilai seperti inilah yang harus diwariskan kepada generasi muda," katanya.

Ia juga menyinggung persoalan korupsi, perjudian daring, hingga lunturnya moral masyarakat sebagai tantangan yang harus dihadapi bersama.

Karena itu, pendidikan karakter melalui jalur budaya dinilai menjadi salah satu solusi yang perlu terus dikembangkan.

Harry meyakini nilai-nilai yang hidup dalam budaya Nusantara turut menginspirasi lahirnya dasar negara Indonesia. 

Semangat persatuan, gotong royong, dan penghormatan terhadap keberagaman menjadi fondasi yang kemudian dirumuskan para pendiri bangsa dalam Pancasila.

"Budaya itu membentuk karakter manusia. Dari karakter yang baik lahirlah masyarakat yang kuat dan pada akhirnya memperkuat bangsa," jelasnya.

Kehadiran para pewaris kerajaan dari berbagai daerah, menurut Harry, juga memiliki makna strategis.

Indonesia lahir dari penyatuan berbagai kerajaan dan kesultanan yang kemudian sepakat berada dalam satu negara.

Karena itu, silaturahmi antarkerajaan diharapkan mampu memperkuat semangat persatuan sekaligus menjaga komitmen bersama terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

"Yang ingin kita bangun adalah satu visi. Indonesia jangan sampai terpecah. Perbedaan budaya adalah kekayaan, tetapi tujuan kita tetap sama, menjaga NKRI," tegasnya.

Lebih jauh, Harry menilai pelestarian budaya merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. 

Menurutnya, budaya menjadi pondasi pembentukan karakter masyarakat yang nantinya berpengaruh terhadap kekuatan ideologi, politik, ekonomi, hingga ketahanan Nasional.

 

"Ketahanan nasional itu saling berkaitan. Budaya menjadi salah satu fondasi penting karena dari sanalah karakter bangsa dibentuk," imbuhnya.

Ia berharap pemerintah terus memberikan perhatian terhadap pelestarian seni dan budaya melalui dukungan regulasi maupun fasilitasi kegiatan.

Meski demikian, masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.

Melalui berbagai kegiatan yang rutin digelar di Lotu's Garden Resto, Harry ingin menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk kembali mengenal akar budayanya. 

Berbagai aktivitas seni, budaya, dan religi diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan bangsa.

"Harapan kami sederhana, mari kembali pada jati diri bangsa melalui seni dan budaya. Budaya bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan yang membentuk karakter generasi penerus," pungkasnya. (sri)

Editor : Sandy Sri Yuwana
#tulungagung #harry yuwono #ketoprak #ketoprak tulungagung #PPAL