RADAR TULUNGAGUNG – Kisah asal usul Tulungagung menjadi salah satu legenda yang masih hidup di tengah masyarakat Jawa hingga saat ini. Cerita tersebut mengisahkan perjuangan seorang pemuda bernama Jaka Baru yang berhasil memenangkan sayembara mengeringkan Rawa Ngerowo dan kemudian diangkat menjadi patih oleh Adipati Betak.
Legenda asal usul Tulungagung bermula ketika Kadipaten Betak mengalami persoalan serius akibat semakin banyaknya pendatang yang ingin menetap. Sayangnya, wilayah yang tersedia untuk dijadikan permukiman sudah habis. Satu-satunya kawasan yang masih tersisa hanyalah rawa luas bernama Ngerowo.
Melihat kondisi tersebut, Adipati Betak memutuskan untuk mengeringkan rawa agar dapat dimanfaatkan sebagai kawasan pemukiman baru. Namun, berbagai upaya yang dilakukan selalu berakhir gagal. Setiap kali air berhasil dikuras, genangan kembali memenuhi kawasan itu karena terdapat sumber mata air yang terus mengalir tanpa henti.
Baca Juga: Cari Elektronik Baru? Ini Dia 6 Produk SHARP Terbaru di Blibli.com
Sayembara Mengeringkan Rawa Ngerowo
Kegagalan yang terus berulang membuat Adipati Betak merasa putus asa. Atas saran penasihatnya, sang adipati kemudian menggelar sayembara bagi siapa saja yang mampu mengeringkan Rawa Ngerowo.
Hadiah yang dijanjikan pun sangat menggiurkan. Orang yang berhasil menyelesaikan tugas tersebut akan diangkat menjadi patih kepercayaan Kadipaten Betak.
Kabar sayembara itu segera menyebar ke berbagai penjuru negeri. Banyak orang sakti, pendekar, hingga masyarakat biasa datang untuk mencoba peruntungan. Meski demikian, tidak sedikit pula yang meragukan keberhasilan sayembara tersebut karena luasnya rawa dan derasnya sumber air yang terus bermunculan.
Hari demi hari berlalu. Para peserta silih berganti mencoba berbagai cara, tetapi semuanya gagal. Air selalu kembali menggenang sehingga rawa tetap tidak bisa dikeringkan.
Munculnya Jaka Baru dari Lereng Gunung Wilis
Ketika hari terakhir sayembara hampir berakhir tanpa hasil, seorang pemuda bernama Jaka Baru datang menghadap Adipati Betak. Ia mengaku berasal dari lereng Gunung Wilis dan berniat mengikuti sayembara tersebut.
Sebelum memulai, Jaka Baru meminta izin pulang terlebih dahulu untuk memohon restu kepada ayahnya, Ki Ageng Mangir.
Sang ayah memberikan restu sekaligus petunjuk penting. Ia meminta Jaka Baru mencari pohon aren, mengambil segenggam ijuk dan sebatang lidi. Menurut Ki Ageng Mangir, kedua benda itulah yang menjadi kunci untuk menutup sumber mata air di dasar rawa.
Jaka Baru pun mengikuti semua petunjuk tersebut. Dalam perjalanan menuju Kadipaten Betak, ia menemukan pohon aren, mengambil ijuk serta lidi, lalu menyimpannya hingga tiba di lokasi sayembara.
Berhasil Mengeringkan Rawa
Sesampainya di tepi Rawa Ngerowo, Jaka Baru lebih dahulu memanjatkan doa memohon perlindungan kepada Sang Pencipta dan alam.
Ia kemudian menyelam mencari sumber mata air yang selama ini menjadi penyebab rawa tidak pernah kering.
Setelah menemukan sumber tersebut, Jaka Baru segera menyumbatnya menggunakan segenggam ijuk aren. Setelah itu, ia menancapkan sebatang lidi di samping sumber air tersebut.
Keajaiban pun terjadi. Aliran air yang sebelumnya tidak pernah berhenti mendadak terhenti. Perlahan-lahan air rawa mulai surut hingga akhirnya seluruh kawasan benar-benar mengering.
Keberhasilan itu disaksikan langsung oleh Adipati Betak beserta para pengawal dan masyarakat yang hadir di lokasi.
Awal Mula Nama Tulungagung
Adipati Betak merasa sangat bersyukur atas keberhasilan Jaka Baru. Ia menganggap keberhasilan tersebut sebagai pertolongan besar dari Tuhan.
Dalam ungkapan rasa syukurnya, sang adipati berulang kali mengucapkan kalimat "pitulungan agung" yang berarti pertolongan besar.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya, Jaka Baru resmi diangkat menjadi Patih Kadipaten Betak sesuai janji sayembara.
Seiring berjalannya waktu, kawasan bekas rawa tersebut mulai dihuni masyarakat dan berkembang menjadi pusat pemerintahan baru. Dari ucapan "pitulungan agung" yang terus dikenang masyarakat, lambat laun penyebutannya berubah menjadi Tulungagung, nama daerah yang dikenal hingga sekarang.
Legenda ini bukan hanya menceritakan keberanian Jaka Baru, tetapi juga menggambarkan pentingnya ketekunan, doa, serta kebijaksanaan dalam menghadapi persoalan besar. Kisah tersebut pun terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari kekayaan budaya dan sejarah masyarakat Jawa.
Editor : Fadhilah Salsa Bella