RADAR TULUNGAGUNG – Sejarah Tulungagung menyimpan perjalanan panjang yang dimulai sejak masa prasejarah hingga berkembang menjadi salah satu kabupaten maju di Jawa Timur. Berbagai temuan arkeologi, prasasti kuno, hingga peninggalan kerajaan besar membuktikan bahwa wilayah ini telah menjadi pusat aktivitas manusia selama lebih dari seribu tahun.
Dalam perjalanan sejarah Tulungagung, wilayah ini tidak hanya menjadi tempat hunian manusia purba, tetapi juga berkembang sebagai kawasan penting pada masa Kerajaan Medang, Kediri, Singhasari, Majapahit, hingga pemerintahan Islam dan kolonial Belanda. Warisan tersebut masih dapat ditemukan melalui situs-situs bersejarah yang tersebar di berbagai kecamatan.
Jejak panjang sejarah Tulungagung juga tercermin dari perkembangan budaya, pertanian, hingga industri yang terus bertahan sampai sekarang. Kabupaten ini berhasil memadukan kekayaan sejarah dengan pembangunan modern tanpa meninggalkan identitas lokalnya.
Jejak Manusia Purba di Tulungagung
Wilayah Tulungagung telah dihuni manusia sejak masa prasejarah. Bukti keberadaan mereka ditemukan di sejumlah gua kawasan Pegunungan Selatan seperti Song Gentong, Song Terus, dan Song Banyu Urip.
Para arkeolog menemukan alat batu, alat serpih, kapak genggam, hingga sisa tulang hewan buruan yang menunjukkan masyarakat saat itu hidup secara nomaden dengan mengandalkan aktivitas berburu dan meramu.
Selain itu, ditemukan pula peninggalan masa Neolitikum dan Megalitikum berupa menhir, dolmen, serta sarkofagus di beberapa wilayah seperti Campurdarat dan Kalidawir. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat kala itu telah mengenal sistem kepercayaan terhadap roh leluhur dan tradisi penguburan yang cukup maju.
Pengaruh Kerajaan Hindu hingga Majapahit
Memasuki abad ke-8 Masehi, Tulungagung mulai berada dalam pengaruh Kerajaan Kanjuruhan. Meski pusat pemerintahannya berada di sekitar Malang, pengaruh budaya Hindu, sistem pertanian, serta tata pemerintahan mulai berkembang di wilayah selatan Sungai Brantas.
Pada abad ke-10, kawasan ini masuk dalam kekuasaan Kerajaan Medang di bawah Mpu Sindok. Salah satu bukti penting adalah Prasasti Lawadan di Boyolangu yang berasal dari tahun 921 Masehi. Prasasti tersebut mencatat penetapan wilayah sebagai tanah sima atau perdikan yang dibebaskan dari pajak karena memiliki fungsi keagamaan.
Selanjutnya, Tulungagung berkembang menjadi daerah penyangga penting pada masa Kerajaan Kediri. Kondisi geografis yang subur menjadikan wilayah ini sebagai salah satu lumbung pangan kerajaan sekaligus pusat pertanian yang menopang kebutuhan masyarakat.
Ketika Singhasari berkuasa pada abad ke-13, sistem administrasi semakin tertata. Sinkretisme Hindu Siwa dan Buddha juga berkembang sehingga melahirkan berbagai peninggalan arca dan situs pemujaan yang masih dapat ditemukan hingga kini.
Masa Kejayaan Majapahit dan Arca Gayatri
Puncak kejayaan sejarah Tulungagung terjadi pada era Majapahit. Wilayah ini menjadi daerah strategis yang menyuplai hasil pertanian, hasil hutan, dan berbagai kebutuhan logistik kerajaan.
Salah satu peninggalan paling terkenal adalah Arca Gayatri di Boyolangu. Arca tersebut diyakini sebagai penghormatan kepada Sri Rajapatni Gayatri, ibu Raja Hayam Wuruk sekaligus permaisuri Raden Wijaya.
Keberadaan arca tersebut memperlihatkan bahwa Boyolangu memiliki kedudukan spiritual yang sangat penting pada masa Majapahit. Hingga sekarang, kawasan tersebut masih menjadi tujuan napak tilas bagi pecinta sejarah dan komunitas budaya.
Islamisasi hingga Masa Kolonial
Memasuki abad ke-15, proses islamisasi berlangsung secara damai melalui jalur perdagangan, dakwah budaya, perkawinan, dan pendidikan. Tradisi lokal kemudian berbaur dengan ajaran Islam sehingga melahirkan budaya khas masyarakat Tulungagung yang masih bertahan hingga kini.
Setelah berada di bawah Kesultanan Demak, Pajang, dan Mataram Islam, wilayah ini mengalami perubahan sistem pemerintahan sekaligus perkembangan pesantren, masjid, dan lembaga pendidikan agama.
Pada era kolonial Belanda, Tulungagung yang saat itu dikenal sebagai Ngrowo menjadi pusat produksi pertanian. Pemerintah kolonial membangun jaringan irigasi, jalan, serta infrastruktur transportasi untuk menunjang perkebunan dan distribusi hasil bumi.
Tahun 1901 menjadi tonggak penting ketika nama Ngrowo secara resmi diubah menjadi Tulungagung. Nama tersebut diambil dari kata "tulung" yang berarti sumber air dan "agung" yang bermakna besar, merujuk pada keberadaan mata air yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat.
Perjuangan Kemerdekaan hingga Kabupaten Modern
Saat pendudukan Jepang dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Tulungagung menjadi salah satu basis gerilya di Jawa Timur. Kawasan pegunungan seperti Sendang, Besuki, dan Campurdarat dimanfaatkan sebagai markas perjuangan melawan Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai membangun struktur pemerintahan daerah, memperkuat pelayanan publik, serta mengembangkan sektor pendidikan dan pertanian.
Pada masa Orde Baru, Tulungagung berkembang sebagai salah satu sentra produksi padi nasional. Industri marmer di Campurdarat juga tumbuh pesat hingga dikenal sebagai salah satu penghasil marmer terbaik di Indonesia.
Kini, Tulungagung terus berkembang melalui sektor pertanian, industri marmer, UMKM, pariwisata, hingga batik khas daerah. Berbagai festival budaya dan pelestarian situs sejarah menjadi bukti bahwa kabupaten ini mampu menjaga warisan masa lalu sekaligus melangkah menuju masa depan.
Editor : Fadhilah Salsa Bella