Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Tulungagung Lengkap: Asal Usul Nama, Berdirinya Kabupaten, hingga Jejak Kerajaan Majapahit yang Jarang Diketahui

Fadhilah Salsa Bella • Minggu, 28 Juni 2026 | 16:29 WIB
Sejarah Tulungagung mengungkap asal usul nama, Prasasti Lawadan, Candi Gayatri, hingga perubahan dari Ngrowo menjadi Tulungagung (Pinterest).
Sejarah Tulungagung mengungkap asal usul nama, Prasasti Lawadan, Candi Gayatri, hingga perubahan dari Ngrowo menjadi Tulungagung (Pinterest).

RADAR TULUNGAGUNG Sejarah Tulungagung menyimpan perjalanan panjang yang membentang sejak era Kerajaan Kediri hingga berkembang menjadi salah satu kabupaten penting di Jawa Timur. Selain dikenal sebagai daerah penghasil marmer terbesar di Indonesia, Tulungagung juga memiliki warisan budaya, situs bersejarah, dan kisah asal usul nama yang masih dipercaya masyarakat hingga sekarang.

Dalam catatan sejarah Tulungagung, hari jadi kabupaten ini ditetapkan pada 18 November 1205 Masehi. Penetapan tersebut mengacu pada Prasasti Lawadan yang diterbitkan pada masa pemerintahan Raja Kertajaya, penguasa terakhir Kerajaan Kediri. Sejak 2003, tanggal tersebut resmi diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung.

Tak hanya kaya akan peninggalan sejarah, sejarah Tulungagung juga mencatat wilayah ini pernah berada di bawah pengaruh sejumlah kerajaan besar di Nusantara, mulai dari Singhasari, Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram Islam.

Dua Versi Asal Usul Nama Tulungagung

Terdapat dua versi yang berkembang mengenai asal usul nama Tulungagung.

Versi pertama menyebut nama Tulungagung berasal dari istilah "Pitulungan Agung" yang berarti pertolongan besar. Kisah ini berkaitan dengan legenda Joko Baru atau Baru Klinting, seorang pemuda yang dikisahkan mampu mengeringkan kawasan Ngrowo dengan menutup sumber-sumber air menggunakan lidi pohon aren. Dalam cerita rakyat tersebut, lidah Joko Baru yang terpotong kemudian berubah menjadi tombak pusaka yang hingga kini dipercaya masih disimpan masyarakat.

Sementara versi kedua menyebut nama Tulungagung berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni "tulung" yang berarti sumber air dan "agung" yang berarti besar. Nama tersebut menggambarkan kondisi wilayah Tulungagung pada masa lampau yang dipenuhi sumber mata air besar sehingga banyak kawasan tergenang air, baik saat musim hujan maupun kemarau.

Baca Juga: 13 Wisata Terbaru di Malang yang Lagi Viral 2026, Ada Hidden Gem Bernuansa Jepang hingga Surga Kebun Teh yang Wajib Dikunjungi

Prasasti Lawadan Jadi Penanda Hari Jadi

Salah satu bukti sejarah penting Tulungagung adalah Prasasti Lawadan yang diterbitkan pada 18 November 1205 Masehi. Prasasti tersebut mencatat penghargaan Raja Kertajaya kepada masyarakat tani Lawadan atas kesetiaan mereka dalam menghadapi serangan musuh dari timur Kerajaan Kediri.

Tanggal keluarnya prasasti inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Tulungagung. Keputusan tersebut sekaligus memperkuat posisi Tulungagung sebagai salah satu daerah bersejarah yang telah berusia lebih dari delapan abad.

Jejak Majapahit Masih Bertahan

Warisan sejarah Majapahit masih dapat ditemukan di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu. Di kawasan ini berdiri Candi Gayatri yang dipercaya menjadi tempat pendharmaan Sri Rajapatni Gayatri, istri Raden Wijaya sekaligus nenek Raja Hayam Wuruk.

Nama Boyolangu juga tercatat dalam Kitab Negarakertagama sebagai Bayalangu, sebuah kawasan yang digunakan sebagai tempat penyucian diri pada masa Kerajaan Majapahit. Keberadaan candi tersebut menjadi bukti penting hubungan Tulungagung dengan kejayaan kerajaan terbesar di Nusantara.

Baca Juga: 13 Wisata Terbaru di Malang yang Lagi Viral 2026, Ada Hidden Gem Bernuansa Jepang hingga Surga Kebun Teh yang Wajib Dikunjungi

Dari Ngrowo hingga Menjadi Tulungagung

Sebelum menggunakan nama Tulungagung, wilayah ini dikenal sebagai Kabupaten Ngrowo. Pemerintahan Ngrowo diawali dari pusat pemerintahan di Kalangbret yang dipimpin Kyai Ngabehi Mangun, kemudian dilanjutkan oleh sejumlah penguasa lainnya.

Catatan sejarah yang lebih lengkap mulai muncul pada masa Raden Mas Tumenggung Pringgoniningrat yang memimpin Kabupaten Ngrowo pada 1824 hingga 1830.

Dalam perjalanan sejarahnya, wilayah Tulungagung juga pernah menjadi bagian dari Katumenggungan Wajak yang berdiri pada masa pemerintahan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram. Setelah melalui berbagai perubahan administrasi pada masa kolonial, pusat pemerintahan akhirnya berkembang menjadi Kabupaten Ngrowo.

Nama Ngrowo sendiri telah dikenal sejak 1194 Masehi berdasarkan Prasasti Kemulan dan kembali disebut dalam Kitab Negarakertagama.

Perubahan Nama pada Masa Kolonial

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, nama Tulungagung awalnya hanya digunakan sebagai nama salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Ngrowo.

Perubahan besar terjadi pada 1 April 1901 ketika pemerintah kolonial secara resmi mengganti nama Kabupaten Ngrowo menjadi Kabupaten Tulungagung. Pergantian nama tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Bupati Ngrowo ke-11, Raden Tumenggung Partowijoyo.

Sejak saat itu, nama Tulungagung terus digunakan hingga sekarang dan menjadi identitas resmi kabupaten yang dikenal sebagai sentra industri marmer, pertanian, serta destinasi wisata pantai di pesisir selatan Jawa Timur.

Baca Juga: Itinerary Wisata Malang 5 Hari 4 Malam, Jelajahi Bromo, Tumpak Sewu hingga Teluk Asmara, Segini Biaya Naik Kereta dari Jakarta

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#asal usul Tulungagung #sejarah tulungagung #Candi Gayatri #prasasti lawadan #kabupaten tulungagung