RADAR TULUNGAGUNG – Asal usul Tulungagung menyimpan kisah panjang yang hingga kini masih hidup dalam cerita rakyat masyarakat Jawa Timur. Di balik berkembangnya kabupaten yang dikenal sebagai salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia, tersimpan legenda tentang perjuangan mengubah hamparan rawa Bonorowo menjadi wilayah yang subur dan layak dihuni.
Legenda asal usul Tulungagung menceritakan bahwa kawasan tersebut dahulu merupakan rawa luas bernama Bonorowo. Genangan air yang tak kunjung surut membuat masyarakat kesulitan bercocok tanam maupun membangun permukiman. Kondisi itu memicu lahirnya berbagai kisah kepahlawanan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam cerita yang paling populer, tokoh utama bernama Kiai Menak Sopal tampil sebagai sosok pemimpin yang bertekad membebaskan rakyat dari ancaman banjir. Perjuangannya kemudian menjadi bagian penting dalam legenda asal usul Tulungagung, yang hingga kini masih dikenal luas oleh masyarakat setempat.
Baca Juga: 5 HP Samsung Galaxy A Turun Harga 2026, Galaxy A57 hingga Galaxy A16 Kini Makin Worth It Dibeli
Perjuangan Menak Sopal Mengeringkan Bonorowo
Dikisahkan, Menak Sopal menyadari bahwa satu-satunya cara menyelamatkan Bonorowo adalah dengan membangun bendungan untuk mengendalikan aliran air rawa. Namun, usaha tersebut tidak berjalan mulus.
Rakyat bergotong royong mengangkut batu dan tanah setiap hari. Anehnya, setiap kali bendungan hampir rampung, bangunan itu selalu runtuh secara misterius. Peristiwa tersebut memunculkan berbagai kepercayaan mengenai adanya kekuatan gaib yang menghalangi pembangunan.
Tidak menyerah, Menak Sopal kemudian melakukan tapa dan memohon petunjuk kepada Sang Pencipta. Dalam semedinya, ia memperoleh isyarat bahwa bendungan hanya dapat berdiri kokoh apabila diberi sesaji berupa kepala gajah putih.
Petunjuk tersebut membuat Menak Sopal memulai perjalanan panjang menembus hutan dan pegunungan demi menemukan gajah putih yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual.
Bendungan Bagong Menjadi Titik Balik
Setelah melalui perjalanan yang penuh tantangan, Menak Sopal akhirnya berhasil memperoleh gajah putih. Kepala hewan itu kemudian dijadikan sesaji sebagai bagian dari pembangunan bendungan yang kini dikenal dalam legenda sebagai Dam Bagong.
Menurut cerita rakyat, setelah sesaji diletakkan, bendungan tidak lagi runtuh. Air rawa perlahan surut hingga meninggalkan hamparan tanah subur yang siap dimanfaatkan masyarakat.
Perubahan itu membawa kehidupan baru. Penduduk mulai membangun rumah, membuka sawah, serta mengembangkan kawasan yang sebelumnya hanya berupa rawa menjadi daerah yang makmur.
Dari peristiwa tersebut, muncul istilah "Tulung Agung" yang dimaknai sebagai "pertolongan besar". Nama itu dipercaya menjadi simbol keberhasilan perjuangan Menak Sopal menyelamatkan rakyatnya dari bencana banjir.
Legenda Baru Kelinting
Selain kisah Menak Sopal, masyarakat juga mengenal legenda Baru Kelinting sebagai versi lain asal mula kawasan rawa di Tulungagung.
Baru Kelinting diceritakan sebagai naga sakti yang berubah menjadi seorang anak kecil dengan penampilan sederhana. Kehadirannya justru ditolak dan dihina oleh sebagian warga desa. Hanya seorang nenek bernama Nyai Latung yang bersedia menolong dan memberinya makanan.
Merasa diperlakukan tidak adil, Baru Kelinting menggelar sayembara mencabut sebatang lidi yang ditancapkannya di tengah desa. Tidak ada seorang pun yang mampu mencabutnya.
Ketika Baru Kelinting sendiri mencabut lidi tersebut, air memancar sangat deras dari dalam tanah hingga menenggelamkan seluruh desa. Hanya Nyai Latung yang selamat karena sebelumnya telah diperingatkan untuk menyelamatkan diri.
Legenda ini mengandung pesan moral agar manusia tidak mudah merendahkan orang lain hanya berdasarkan penampilan.
Menjadi Identitas Budaya Tulungagung
Meski kedua kisah tersebut merupakan legenda yang diwariskan secara turun-temurun, keduanya memiliki benang merah yang sama, yakni menggambarkan perubahan kawasan rawa menjadi wilayah kehidupan baru.
Seiring perjalanan waktu, Tulungagung berkembang menjadi daerah penting di Jawa Timur yang dikenal memiliki lahan pertanian subur, berbagai situs sejarah peninggalan kerajaan, hingga industri marmer yang telah dipasarkan ke berbagai negara.
Cerita tentang Menak Sopal maupun Baru Kelinting pun tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat. Selain menyimpan nilai sejarah, legenda tersebut juga mengajarkan pentingnya gotong royong, pengorbanan, kepedulian terhadap lingkungan, serta sikap rendah hati dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca Juga: 7 HP Samsung Galaxy S Turun Harga 2026, Galaxy S25 Ultra hingga Galaxy S23 Ultra Kini Makin Worth It
Editor : Fadhilah Salsa Bella