RADAR TULUNGAGUNG – Gunung Budeg Tulungagung menjadi salah satu destinasi favorit pecinta alam sekaligus wisata sejarah di Jawa Timur. Gunung api purba yang telah ditetapkan sebagai warisan geologi ini tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga menyimpan berbagai legenda, situs pertapaan, hingga jejak sejarah yang diyakini berkaitan dengan Kerajaan Mataram Kuno, Kediri, Majapahit, dan Mataram Islam.
Dalam sebuah pemaparan, pelestari lingkungan sekaligus budayawan Agus Utomo mengungkapkan bahwa Gunung Budeg Tulungagung memiliki sejarah geologi yang sangat panjang. Berdasarkan penelitian para ahli, gunung tersebut diperkirakan terbentuk sekitar 30 juta tahun lalu akibat patahan lempeng di dasar Samudra Selatan yang memunculkan material vulkanik hingga membentuk bukit batu yang kini dikenal sebagai Gunung Budeg.
Menurut Agus, kawasan tersebut kemudian menjadi tempat penting bagi berbagai peradaban yang pernah berkembang di Jawa. Sejak masa Megalitikum, masyarakat telah membangun menhir yang kini dikenal sebagai Watu Joko Budek sebagai simbol penghormatan kepada leluhur.
Jejak Peradaban dari Megalitikum hingga Majapahit
Agus menjelaskan, pada masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit, Gunung Budeg berkembang menjadi lokasi pertapaan bagi para tokoh spiritual. Tradisi masyarakat Jawa kala itu mempercayai bahwa orang-orang yang telah memasuki usia lanjut memilih menyepi di gunung untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dari masa inilah muncul legenda Joko Budek yang masih memiliki keterkaitan dengan kisah Babad Tulungagung, khususnya cerita Roro Kembang Sore.
Dalam cerita rakyat tersebut, Joko Tawang melakukan tapa di Gunung Budeg karena jatuh cinta kepada Roro Kembang Sore. Namun, karena terlalu khusyuk bertapa, ia tidak menyadari kedatangan ibunya, Mbok Rondo Dadapan, yang datang mencarinya.
Kesalahpahaman itu berakhir tragis setelah sang ibu mengucapkan kutukan yang membuat Joko Budek berubah menjadi batu. Batu yang dipercaya sebagai wujud Joko Budek hingga kini masih dikenal masyarakat sebagai salah satu situs budaya di kawasan gunung tersebut.
Mata Air Kuno dan Kisah Mistis
Selain legenda Joko Budek, Gunung Budeg juga dikenal memiliki sejumlah mata air kuno yang diyakini menjadi tempat persinggahan tokoh-tokoh dari era Mataram Kuno hingga Majapahit.
Agus mengakui kawasan itu kerap dikaitkan dengan berbagai kisah mistis. Banyak pendaki mengaku mencium aroma bunga atau dupa ketika melewati titik-titik tertentu di jalur pendakian.
Meski demikian, ia menegaskan Gunung Budeg bukanlah tempat angker, melainkan kawasan yang dianggap wingit karena sejak dahulu digunakan sebagai lokasi pertapaan.
Agus sendiri mengaku pernah mengalami sejumlah peristiwa yang sulit dijelaskan secara logika, termasuk melihat sosok misterius ketika menjaga kawasan gunung pada malam hari. Namun menurutnya, pengalaman tersebut tidak pernah mengganggu keselamatan para pengunjung.
Baca Juga: 7 HP Samsung Galaxy S Turun Harga 2026, Galaxy S25 Ultra hingga Galaxy S23 Ultra Kini Makin Worth It
Menjadi Penyangga Alam Tulungagung
Selain memiliki nilai sejarah dan budaya, Agus menilai Gunung Budeg juga memiliki fungsi ekologis yang sangat penting bagi Kabupaten Tulungagung.
Ia menyebut keberadaan Gunung Budeg bersama sejumlah bukit di sekitarnya dipercaya membantu meredam dampak getaran gempa dari Samudra Selatan. Di sisi lain, kawasan hutan di lereng gunung juga berperan besar menahan longsor serta mengurangi banjir yang berpotensi merusak permukiman dan lahan pertanian.
Karena alasan itu, sejak 2003 Agus mengaku mengabdikan diri melakukan penghijauan secara mandiri di kawasan Gunung Budeg. Selama lebih dari dua dekade, ia menanam ribuan pohon menggunakan dana pribadi.
Pengabdian Merawat Gunung Budeg
Agus mengatakan saat pertama kali datang, sebagian besar lereng Gunung Budeg dalam kondisi gundul dan rawan longsor. Sedikit demi sedikit ia melakukan penanaman hingga kini tutupan vegetasi mencapai sekitar 90 persen.
Ia mengaku sebagian besar biaya penghijauan berasal dari penghasilannya sendiri. Bahkan, lebih dari 70 persen pendapatannya digunakan untuk merawat kawasan tersebut, mulai dari membeli bibit, membangun jalur konservasi, hingga memenuhi kebutuhan operasional pos penjagaan.
Menurutnya, tujuan utama bukan mencari keuntungan, melainkan menjaga warisan alam sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman bencana.
Agus berharap pemerintah dan masyarakat dapat bersama-sama menjaga kelestarian Gunung Budeg sebagai situs geologi, sejarah, budaya, sekaligus kawasan konservasi yang memiliki nilai penting bagi Kabupaten Tulungagung.
Editor : Fadhilah Salsa Bella