RADAR TULUNGAGUNG – Asal usul Tulungagung menyimpan cerita yang sarat makna tentang doa, pertolongan, dan rasa syukur. Di balik nama kabupaten yang kini dikenal sebagai salah satu daerah penting di Jawa Timur itu, terdapat legenda yang dipercaya masyarakat sebagai cikal bakal lahirnya nama Tulungagung.
Dalam cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, asal usul Tulungagung bermula ketika wilayah tersebut masih berupa lembah yang dikelilingi sungai dan perbukitan. Setiap musim hujan, luapan Sungai Brantas kerap menyebabkan banjir besar yang merendam sawah, permukiman, hingga menghancurkan mata pencaharian warga.
Namun, menurut kisah tersebut, suatu hari terjadi peristiwa yang dianggap sebagai keajaiban. Air yang selama ini menggenangi kawasan itu perlahan surut dan meninggalkan hamparan tanah yang subur. Peristiwa itulah yang diyakini masyarakat sebagai tulunging agung atau pertolongan besar dari Tuhan, yang kemudian melahirkan nama Tulungagung.
Makna Filosofis Nama Tulungagung
Secara etimologis, nama Tulungagung berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni "tulung" yang berarti pertolongan atau bantuan, serta "agung" yang bermakna besar, luhur, dan mulia.
Gabungan kedua kata tersebut dimaknai sebagai pertolongan besar yang datang dari Tuhan kepada masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
Dalam filosofi Jawa, nama bukan sekadar identitas wilayah, tetapi juga doa dan harapan. Karena itu, nama Tulungagung dipercaya menjadi simbol agar masyarakat senantiasa memperoleh perlindungan, keselamatan, dan keberkahan dalam menjalani kehidupan.
Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Jawa tentang eling lan waspada, yakni selalu mengingat Tuhan sekaligus berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Legenda Kiai Bro Mukti
Cerita rakyat juga menyebut sosok Kiai Bro Mukti sebagai tokoh yang memiliki peran penting dalam legenda asal-usul Tulungagung.
Kiai Bro Mukti dikenal sebagai tokoh bijaksana yang tekun beribadah. Ketika banjir besar melanda kawasan tersebut, ia memanjatkan doa di tepi sungai agar masyarakat diselamatkan dari bencana.
Tak lama setelah doa dipanjatkan, air disebut mulai surut hingga akhirnya kawasan itu kembali layak dihuni.
Peristiwa tersebut kemudian diyakini sebagai bentuk tulunging agung atau pertolongan besar dari Tuhan. Sebagai ungkapan syukur, masyarakat pun menamai wilayah itu Tulungagung.
Baca Juga: 7 HP Samsung Galaxy S Turun Harga 2026, Galaxy S25 Ultra hingga Galaxy S23 Ultra Kini Makin Worth It
Dari Ngerowo hingga Kabupaten Tulungagung
Dalam sejarahnya, wilayah yang kini menjadi Tulungagung pernah dikenal dengan nama Ngerowo atau Ngowo. Daerah itu merupakan kawasan subur di sekitar aliran Sungai Brantas yang telah berkembang sejak masa Kerajaan Majapahit.
Setelah Majapahit runtuh, wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram Islam dan berkembang menjadi jalur perdagangan hasil pertanian serta perkebunan.
Memasuki masa kolonial Belanda, kawasan ini semakin dikenal karena memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, mulai dari hasil pertanian, kayu jati, hingga batu marmer yang kini menjadi salah satu ikon Tulungagung.
Dalam narasi yang berkembang di masyarakat, nama Tulungagung mulai digunakan pada masa pendudukan Jepang pada 1943, sebelum kemudian resmi menjadi nama Kabupaten Tulungagung setelah Indonesia merdeka.
Budaya yang Tetap Lestari
Selain memiliki sejarah panjang, Tulungagung juga dikenal sebagai daerah yang masih menjaga berbagai tradisi budaya.
Salah satunya adalah Larung Sembonyo di Pantai Popoh yang digelar sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut sekaligus memohon keselamatan bagi para nelayan.
Tradisi lain seperti Bersih Desa juga masih dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen serta mempererat kebersamaan masyarakat.
Di bidang seni, Tulungagung memiliki kesenian khas seperti Reog Kendang, Jaranan, dan Tayub yang hingga kini masih dilestarikan.
Berbagai tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat Tulungagung yang tetap memegang nilai gotong royong, rasa syukur, dan keyakinan bahwa setiap kesulitan akan diikuti pertolongan besar bagi mereka yang tetap berusaha dan berdoa.
Editor : Fadhilah Salsa Bella