Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Misteri Makam Pendiri Reco Pentung di Pantai Popoh, Dipenuhi Ribuan Arca dan Sarat Filosofi Angka 9

Cholifatun Nisak • Rabu, 1 Juli 2026 | 19:50 WIB
Makam Pendiri Reco Pentung di Pantai Popoh menyimpan ribuan arca, filosofi angka 9, dan kisah budaya yang masih menarik perhatian pengunjung.
Makam Pendiri Reco Pentung di Pantai Popoh menyimpan ribuan arca, filosofi angka 9, dan kisah budaya yang masih menarik perhatian pengunjung.

 

TULUNGAGUNG, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Makam Pendiri Reco Pentung di kawasan Pantai Popoh, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, kembali menjadi perhatian publik. Kompleks pemakaman milik Sumiran Karsodiwiryo, pendiri pabrik rokok legendaris Reco Pentung, memiliki arsitektur unik yang dipenuhi ribuan arca serta menyimpan beragam filosofi dan cerita budaya yang masih dipercaya sebagian masyarakat hingga kini.

Lokasi Makam Pendiri Reco Pentung berada tidak jauh dari kawasan wisata Pantai Popoh. Selain menjadi tempat peristirahatan terakhir Sumiran Karsodiwiryo dan istrinya, kompleks tersebut juga kerap didatangi peziarah maupun wisatawan yang penasaran dengan kemegahan bangunannya.

Keunikan Makam Pendiri Reco Pentung tidak hanya terlihat dari desain bangunan, tetapi juga dari berbagai simbol budaya Jawa yang diterapkan di hampir seluruh sudut kawasan. Mulai dari jumlah anak tangga, ukuran relief, hingga banyaknya arca yang seluruhnya dikaitkan dengan filosofi angka sembilan.

Dibangun Sejak 1990 Sebagai Makam Keluarga

Berdasarkan keterangan penjaga kompleks makam, pembangunan kawasan tersebut dimulai pada 1990 melalui peletakan batu pertama oleh Sumiran Karsodiwiryo.

Proses pembangunan berlangsung sekitar dua tahun sebelum akhirnya diresmikan pada 1995. Kompleks itu sejak awal memang dipersiapkan sebagai makam keluarga sekaligus kawasan yang dapat dikunjungi masyarakat.

Sumiran Karsodiwiryo kemudian dimakamkan di lokasi tersebut setelah wafat pada 21 Februari 1997. Sementara sang istri dimakamkan berdampingan setelah meninggal dunia pada 15 Juni 2013.

Di dalam area utama terdapat bangunan makam yang dikelilingi pagar penuh arca serta sejumlah ornamen khas budaya Jawa yang menjadi ciri utama kompleks tersebut.

Ribuan Arca dan Filosofi Angka Sembilan

Salah satu daya tarik utama kompleks makam adalah keberadaan ribuan arca yang berjajar hampir di seluruh area.

Menurut penjaga, jumlah arca mencapai sekitar 2.899 buah. Angka tersebut sengaja dipilih karena jika dijumlahkan tetap menghasilkan angka sembilan.

Filosofi angka sembilan juga diterapkan pada berbagai bagian bangunan lainnya. Anak tangga menuju makam berjumlah sembilan, relief terkecil berukuran sembilan sentimeter, sementara arca terbesar memiliki tinggi sekitar sembilan meter.

Selain itu, terdapat empat patung naga yang berada di setiap sudut bangunan sebagai pelengkap arsitektur kompleks makam.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, angka sembilan memiliki makna spiritual yang erat kaitannya dengan Wali Songo serta simbol kesempurnaan dalam perjalanan hidup.

Baca Juga: Hasil Piala Dunia 2026: Meksiko Susul Prancis dan Norwegia ke 16 Besar, Mbappe Samai Messi

Kental dengan Nuansa Budaya Jawa

Penjaga kompleks menjelaskan bahwa Sumiran Karsodiwiryo merupakan seorang muslim yang tetap menghormati adat istiadat Jawa.

Karena itulah, banyak unsur budaya tradisional yang dimasukkan ke dalam pembangunan kawasan makam. Menurutnya, proses pembangunan dahulu juga diawali doa bersama yang melibatkan tokoh adat dan berbagai kesenian tradisional sebagai bagian dari tradisi masyarakat Jawa.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama pembangunan bukan untuk pemujaan, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan warisan leluhur.

"Yang dipelihara adalah adat dan budayanya, bukan untuk disembah," ujar penjaga saat menjelaskan filosofi bangunan kepada pengunjung.

Ada Pesanggrahan dan Cerita yang Berkembang

Di dalam kompleks juga terdapat sebuah bangunan yang dikenal masyarakat sebagai Pesanggrahan Nirwana.

Tempat tersebut sering dikaitkan dengan berbagai cerita yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk keberadaan lokasi yang dipercaya sebagian orang memiliki nilai spiritual.

Menurut penjaga, sejumlah pengunjung datang untuk berdoa maupun menjalankan ritual pribadi sesuai keyakinan masing-masing. Namun aktivitas tersebut dilakukan atas inisiatif pengunjung dan bukan menjadi tujuan utama pengelola kawasan.

Di area lain juga terdapat sumber mata air yang dahulu dipercaya memiliki manfaat untuk menyegarkan tubuh. Air tersebut dialirkan menuju sebuah tempat yang dikenal dengan nama Cuci Pak Surya.

Menjadi Jejak Kejayaan Reco Pentung

Kompleks makam ini sekaligus menjadi pengingat kejayaan Reco Pentung, perusahaan rokok yang pernah menjadi salah satu kebanggaan Tulungagung.

Sumiran Karsodiwiryo dikenal sebagai sosok yang membangun industri rokok dari nol hingga mampu mempekerjakan ribuan warga. Pada masa keemasannya, Reco Pentung menjadi salah satu produsen rokok terbesar di wilayah Jawa Timur bagian selatan.

Kini, meski pabriknya sudah tidak lagi beroperasi, nama Sumiran masih dikenang melalui kompleks makam yang berdiri megah di kawasan Pantai Popoh.

Bagi sebagian masyarakat, tempat tersebut bukan hanya menjadi lokasi ziarah keluarga, tetapi juga simbol perjalanan hidup seorang pengusaha lokal yang berhasil membangun industri besar dari kerja keras, sekaligus meninggalkan warisan budaya yang hingga kini masih menarik perhatian para pengunjung.

Baca Juga: Kisah Sumiran Pendiri Reco Pentung, Anak Buruh yang Bangun Kerajaan Rokok hingga Mengubah Ekonomi Tulungagung

Editor : Cholifatun Nisak
#Sumiran Karsodiwiryo #Reco Pentung #Makam Pendiri Reco Pentung #tulungagung #pantai popoh