RADAR TULUNGAGUNG – Warga di sejumlah desa yang berada di sepanjang bantaran Sungai Ngrowo mengaku resah setelah ratusan pohon di tepi sungai tiba-tiba dipotong dan dibabat, Jumat (3/7). Penebangan tersebut terjadi di kawasan Desa Plandaan, Ketanon, Winong, Mangunsari hingga Tawangsari tanpa sosialisasi yang dinilai melibatkan masyarakat sekitar.
Keresahan warga muncul karena pohon-pohon besar yang selama ini menjadi penahan angin sekaligus penyangga bantaran sungai kini telah hilang. Mereka khawatir kondisi tersebut akan meningkatkan risiko longsor dan memperparah dampak saat hujan deras.
Pemerhati lingkungan Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Sugeng Sugiarto, mengaku menerima banyak keluhan dari masyarakat. Menurutnya, sebelum pekerjaan dilakukan hanya ada pertemuan yang disebut sebagai sosialisasi, namun warga terdampak tidak diundang.
"Memang ada istilah sosialisasi di sebuah warung, tetapi masyarakat sekitar tidak dilibatkan. Hari itu juga setelah pertemuan langsung dilakukan penebangan. Jadi masyarakat benar-benar tidak mengetahui rencana tersebut," ujarnya.
Sugeng mengaku dirinya juga tidak menghadiri pertemuan tersebut. Informasi yang diterimanya justru berasal dari unggahan media sosial, sementara pada hari yang sama alat berat dan pekerja sudah melakukan penebangan di lokasi.
Menurutnya, pohon-pohon berukuran besar di sepanjang bantaran Sungai Ngrowo menjadi sasaran penebangan. Lokasinya tersebar di wilayah Tawangsari, Majan, Winong hingga Plandaan.
"Yang dipotong pohon-pohon besar di bantaran sungai. Di beberapa titik sekarang sudah habis," katanya.
Ia menilai keberadaan pepohonan memiliki fungsi penting sebagai pelindung alami kawasan bantaran sungai. Hilangnya vegetasi tersebut dikhawatirkan akan berdampak terhadap keselamatan warga, terutama saat musim penghujan.
"Kalau nanti hujan disertai angin kencang, tidak ada lagi pohon sebagai penahan. Selain itu debit air Sungai Ngrowo juga sangat deras ketika hujan. Di wilayah Tanon, dekat area pemakaman, pohonnya juga hampir habis," ungkapnya.
Sugeng berharap pemerintah maupun pihak yang bertanggung jawab segera melakukan penanaman kembali sebagai bentuk pemulihan lingkungan.
"Kalau bisa ditanami lagi. Pemerintah selama ini mencanangkan penghijauan, tetapi di sini justru pohon-pohon ditebang," tegasnya.
Ia juga mempertanyakan dokumen yang menjadi dasar kegiatan tersebut. Menurutnya, surat yang beredar tidak secara jelas mencantumkan adanya agenda penebangan pohon di bantaran sungai sehingga menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung, Anang Pratistianto, membenarkan pihaknya telah menerima aduan dari masyarakat terkait penebangan pohon di bantaran Sungai Ngrowo.
Namun, ia menjelaskan DLH Kabupaten Tulungagung tidak memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan karena lokasi penebangan berada di lahan milik Perum Jasa Tirta I.
"Kami juga menerima laporan dari masyarakat. Tetapi lokasi tersebut merupakan aset Perum Jasa Tirta I, sehingga kewenangan penanganannya bukan berada di DLH Kabupaten Tulungagung," jelasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak Perum Jasa Tirta I mengenai alasan penebangan pohon, dasar pelaksanaan kegiatan, maupun rencana mitigasi lingkungan pascapenebangan. Warga berharap penjelasan tersebut segera disampaikan agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan. (sri)
Editor : Sandy Sri Yuwana