TULUNGAGUNG - Penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama sekitar tiga pekan memicu efek berantai terhadap perekonomian di Kabupaten Tulungagung.
Tidak hanya menyebabkan harga komoditas peternakan turun, penghentian operasional juga berdampak pada pendapatan mitra penyedia bahan baku hingga masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas dapur MBG.
Dampak penghentian sementara Program MBG menunjukkan besarnya ketergantungan berbagai sektor terhadap program tersebut.
Selama ini, MBG tidak hanya berperan dalam sektor pendidikan dan pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal melalui rantai pasok pangan.
Ketua Mitra SPPG Tulungagung Rifqi Firmansyah mengatakan, penghentian sementara Program MBG langsung memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini terlibat dalam program tersebut.
Harga Komoditas dan Pendapatan Mitra Terdampak
Rifqi menjelaskan, salah satu dampak yang paling cepat terlihat adalah turunnya harga komoditas peternakan.
Sebelum program dihentikan, harga komoditas berada di kisaran Rp 22 ribu hingga Rp 23 ribu per kilogram.
Namun setelah operasional MBG berhenti sementara selama sekitar tiga pekan, harga turun menjadi sekitar Rp 15 ribu per kilogram.
Tidak hanya memengaruhi harga komoditas, penghentian sementara juga berdampak terhadap pelaku usaha yang menjadi mitra penyedia bahan baku maupun operasional program.
"Dari sisi pendapatan, mitra bisa mengalami kerugian hingga sekitar Rp 100 juta dalam tiga minggu," ungkap Rifqi.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa MBG memiliki pengaruh besar terhadap perputaran ekonomi daerah.
Selama program berjalan, aktivitas ekonomi berbagai sektor saling terhubung sehingga ketika operasional berhenti, dampaknya ikut dirasakan secara luas.
Perputaran Ekonomi Ikut Melambat
Rifqi memperkirakan perputaran dana Program MBG di Tulungagung mencapai sekitar Rp 120 miliar setiap bulan.
Dana tersebut mengalir ke berbagai sektor usaha yang menjadi bagian dari rantai pasok kebutuhan pangan.
Petani, peternak, pelaku UMKM hingga tenaga kerja yang terlibat dalam operasional dapur MBG ikut merasakan manfaat dari program tersebut.
"Program MBG mampu menggerakkan ekonomi lokal, termasuk di desa-desa," ujarnya.
Karena itu, ia menilai tata kelola dan keberlanjutan pelaksanaan program perlu diperkuat agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak terganggu ketika terjadi penghentian operasional.
Selain itu, serapan produk lokal juga dinilai masih perlu dioptimalkan sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata, terutama oleh petani dan peternak di Tulungagung.
"Serapan langsung ke peternak masih perlu ditingkatkan agar dampaknya lebih merata," tambahnya.
Pekerja Ikut Kehilangan Mata Pencaharian
Efek berantai penghentian sementara Program MBG juga dirasakan para pekerja yang menggantungkan penghasilan dari operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Burhan, salah seorang pekerja, mengaku kehilangan pemasukan harian sejak operasional SPPG dihentikan sementara.
Kondisi tersebut membuatnya khawatir karena tidak lagi memperoleh pendapatan seperti saat program berjalan normal.
"Sejak SPPG libur, saya cukup khawatir karena tentu tidak ada pemasukan seperti biasanya," katanya.
Kondisi serupa dialami Alam. Ia mengaku harus lebih berhati-hati mengatur pengeluaran rumah tangga karena belum memiliki kepastian penghasilan selama program belum kembali berjalan.
"Selama libur ini saya harus lebih berhati-hati mengatur uang karena tidak ada kepastian penghasilan seperti saat bekerja normal," ujarnya.
Meski penghentian sementara menimbulkan efek berantai terhadap berbagai sektor, Rifqi menegaskan Program MBG secara umum tetap memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.
Menurutnya, evaluasi terhadap konsistensi operasional dan penguatan tata kelola menjadi langkah penting agar manfaat ekonomi program dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh seluruh pelaku usaha yang terlibat.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri