TULUNGAGUNG – Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Nglinci mengharapkan dukungan pemerintah daerah untuk pengembangan destinasi wisata di pesisir selatan Tulungagung yang selama ini masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat.
Pantai Nglinci di Dusun Panggungpucung, Desa/Kecamatan Pucanglaban, Tulungagung, menjadi salah satu destinasi yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih optimal.
Harapan Pokdarwis Pantai Nglinci mengharapkan dukungan pemerintah daerah untuk pengembangan destinasi wisata tersebut disampaikan Ketua Pokdarwis Pantai Nglinci, Tulus.
Dia menyebut, potensi wisata di kawasan selatan sebagian besar masih berkembang melalui inisiatif masyarakat tanpa dukungan maksimal dari pemerintah.
Menurutnya, Pantai Nglinci menawarkan panorama alam yang masih asri, mulai dari laut lepas, tebing karang, hingga hamparan pasir putih alami yang mulai dikenal wisatawan.
Namun, pengelolaan yang masih terbatas membuat pengembangannya belum optimal.
“Harapan kami, pemkab segera menangkap potensi wisata di wilayah selatan. Akses menuju lokasi sebenarnya sudah mulai terbuka sehingga akan lebih mudah jika ada perhatian untuk pengembangannya,” ujarnya.
Dikelola Swadaya, Fasilitas Dibangun Mandiri
Tulus menjelaskan, seluruh fasilitas di Pantai Nglinci saat ini dibangun secara swadaya oleh Pokdarwis tanpa bantuan pemerintah.
Pengembangan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan kelompok masyarakat setempat.
Meski terbatas, upaya tersebut tetap dilakukan untuk menjaga agar kawasan wisata tetap bisa dikunjungi dengan nyaman.
Pokdarwis juga terus melakukan penataan kawasan secara gotong royong oleh 11 anggota yang aktif setiap hari.
“Semua yang ada di sini dibangun sendiri oleh pokdarwis. Sampai sekarang belum ada bantuan. Kami mengembangkan sedikit demi sedikit sesuai kemampuan,” jelasnya.
Kendala Akses dan Legalitas Pengelolaan
Selain keterbatasan fasilitas, keluhan wisatawan juga masih banyak berkaitan dengan akses jalan menuju Pantai Nglinci.
Jalan dari jalur utama menuju lokasi dinilai masih perlu pembenahan agar lebih nyaman dilalui pengunjung.
“Pengunjung banyak yang mengeluhkan kondisi akses masuk. Kami hanya bisa meminta mereka bersabar karena memang itu di luar kewenangan kami,” kata Tulus.
Saat ini, pengelolaan Pantai Nglinci dilakukan melalui perjanjian kerja sama (PKS) dengan Perhutani sejak 2022.
Hal itu dilakukan karena sebagian area pantai berada di kawasan hutan sehingga membutuhkan dasar pengelolaan yang jelas.
Namun hingga kini, pengelola belum memberlakukan tiket masuk kepada wisatawan.
Pengunjung hanya dikenakan biaya penitipan kendaraan karena proses legalitas pengelolaan masih dalam tahap penyelesaian.
“Kami belum menarik retribusi masuk. Yang ada hanya biaya penitipan kendaraan. Legalitasnya masih berproses sehingga kami memilih menunggu sampai semuanya benar-benar selesai,” ungkapnya.
Harapan Pengembangan Lebih Lanjut
Dengan segala keterbatasan tersebut, Pokdarwis Pantai Nglinci tetap optimistis potensi wisata di kawasan tersebut dapat berkembang.
Keindahan alam serta karakteristik Pantai Nglinci dinilai menjadi modal penting untuk menjadikannya destinasi unggulan di Kecamatan Pucanglaban.
Nama Pantai Nglinci sendiri memiliki keunikan tersendiri, diambil dari batu besar di bibir pantai yang jika dilihat dari ketinggian menyerupai seekor kelinci.
Ciri khas ini menjadi identitas yang memperkuat daya tarik wisata baru di pesisir selatan Tulungagung.
Tulus berharap pemerintah daerah dapat segera memberikan perhatian, terutama pada peningkatan akses jalan dan kepastian legalitas pengelolaan.
Dengan demikian, pengembangan wisata dapat berjalan lebih cepat dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dengan dukungan yang tepat, Pantai Nglinci dinilai berpeluang menjadi salah satu destinasi unggulan yang mampu menggerakkan sektor pariwisata di wilayah selatan Tulungagung.(sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri