Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Fenomena Bediding Mulai Terasa di Tulungagung, Suhu Malam hingga Pagi Turun saat Musim Kemarau Bikin Warga Dingin

Rahiiq Al Bachri • Senin, 6 Juli 2026 | 11:31 WIB
Fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung saat musim kemarau dengan suhu malam hingga pagi yang semakin dingin.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)
Fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung saat musim kemarau dengan suhu malam hingga pagi yang semakin dingin.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)

 

TULUNGAGUNG – Fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung seiring masuknya musim kemarau dalam beberapa hari terakhir.

Suhu udara pada malam hingga menjelang pagi dilaporkan semakin dingin dan mulai dirasakan masyarakat di berbagai wilayah.

Fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung ini diperkirakan akan terus berlangsung selama kondisi langit cerah dengan tutupan awan yang minim.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan suhu tersebut meski bukan termasuk bencana alam.

Kondisi ini menjadi perhatian karena udara dingin berpotensi memicu gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, lanjut usia (lansia), serta penderita penyakit saluran pernapasan.

Karena itu, kewaspadaan masyarakat dinilai tetap diperlukan selama periode kemarau berlangsung.

Baca Juga: BPBD Tulungagung Imbau Warga Hemat Air selama Musim Kemarau, Segera Lapor Desa Jika Mulai Kesulitan Air Bersih

Bediding mulai terasa di Tulungagung saat musim kemarau

Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung Sudarmaji menjelaskan bahwa fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung akibat masuknya musim kemarau.

Berdasarkan pantauan BMKG, kondisi atmosfer saat ini menunjukkan tutupan awan yang sangat minim.

Hal tersebut menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari.

Akibatnya, suhu minimum menjadi lebih rendah dibandingkan hari-hari biasanya.

“Berdasarkan pantauan BMKG, saat ini memang sudah memasuki musim kemarau. Tutupan awan sangat sedikit sehingga memengaruhi turunnya suhu minimum atau yang biasa dikenal masyarakat sebagai bediding. Fenomena ini rutin terjadi setiap musim kemarau,” ujarnya.

Baca Juga: Plastik Kinclong Tutupi Sawah, Cara Petani Pakel Tulungagung Menjaga Semangka Tetap Tumbuh saat Kemarau

Suhu 21 derajat Celsius masih dirasakan lebih dingin

Menurut Sudarmaji, penurunan suhu tidak hanya terjadi di Tulungagung, tetapi juga di berbagai wilayah Jawa Timur. Di Tulungagung sendiri, suhu minimum tercatat sekitar 21 derajat Celsius.

Meski angka tersebut tidak termasuk ekstrem jika dibandingkan wilayah pegunungan, masyarakat tetap merasakan udara lebih dingin terutama pada malam hingga menjelang pagi.

Kondisi ini menjadi ciri khas utama fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung setiap memasuki musim kemarau.

“Untuk wilayah Tulungagung suhu minimum sekitar 21 derajat Celsius. Meskipun tidak sedingin kawasan pegunungan, masyarakat tetap akan merasakan udara yang lebih dingin, terutama malam hingga pagi,” katanya.

Baca Juga: Kemarau 2026 Diprediksi Picu Kekeringan di Tulungagung, Ini Daftar 9 Kecamatan yang Berpotensi Terdampak

BPBD imbau warga jaga kesehatan selama bediding

BPBD Tulungagung menegaskan bahwa fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi daya tahan tubuh jika masyarakat tidak menjaga kondisi fisik dengan baik.

Sudarmaji mengingatkan kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan penderita penyakit saluran pernapasan agar mendapat perhatian lebih selama periode ini berlangsung.

Ia juga meminta masyarakat untuk tetap menjaga pola hidup sehat.

BPBD mengimbau warga mengenakan pakaian hangat saat malam hari, memperbanyak konsumsi makanan bergizi dan minuman hangat, serta menjaga kebugaran tubuh.

Selain itu, masyarakat diminta rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG.

“Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih adalah bayi, lansia, dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Gunakan pakaian hangat, konsumsi makanan bergizi dan minuman hangat, jaga daya tahan tubuh, serta pantau informasi cuaca resmi dari BMKG,” jelasnya.

Sudarmaji menegaskan bahwa fenomena ini merupakan siklus alam yang hampir selalu terjadi saat musim kemarau sehingga masyarakat tidak perlu panik.

Namun, kewaspadaan tetap diperlukan agar dampaknya tidak mengganggu kesehatan maupun aktivitas sehari-hari.(bac)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#fenomena bediidng tulungagung #suhu dingin musim kemarau #cuaca tulungagung terbaru #bmkg tulungagung bediding #imbauan bpbd tulungagung musim kemarau