TULUNGAGUNG – Fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung seiring masuknya musim kemarau dalam beberapa hari terakhir.
Suhu udara pada malam hingga menjelang pagi dilaporkan semakin dingin dan mulai dirasakan masyarakat di berbagai wilayah.
Fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung ini diperkirakan akan terus berlangsung selama kondisi langit cerah dengan tutupan awan yang minim.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan suhu tersebut meski bukan termasuk bencana alam.
Kondisi ini menjadi perhatian karena udara dingin berpotensi memicu gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, lanjut usia (lansia), serta penderita penyakit saluran pernapasan.
Karena itu, kewaspadaan masyarakat dinilai tetap diperlukan selama periode kemarau berlangsung.
Bediding mulai terasa di Tulungagung saat musim kemarau
Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung Sudarmaji menjelaskan bahwa fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung akibat masuknya musim kemarau.
Berdasarkan pantauan BMKG, kondisi atmosfer saat ini menunjukkan tutupan awan yang sangat minim.
Hal tersebut menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari.
Akibatnya, suhu minimum menjadi lebih rendah dibandingkan hari-hari biasanya.
“Berdasarkan pantauan BMKG, saat ini memang sudah memasuki musim kemarau. Tutupan awan sangat sedikit sehingga memengaruhi turunnya suhu minimum atau yang biasa dikenal masyarakat sebagai bediding. Fenomena ini rutin terjadi setiap musim kemarau,” ujarnya.
Suhu 21 derajat Celsius masih dirasakan lebih dingin
Menurut Sudarmaji, penurunan suhu tidak hanya terjadi di Tulungagung, tetapi juga di berbagai wilayah Jawa Timur. Di Tulungagung sendiri, suhu minimum tercatat sekitar 21 derajat Celsius.
Meski angka tersebut tidak termasuk ekstrem jika dibandingkan wilayah pegunungan, masyarakat tetap merasakan udara lebih dingin terutama pada malam hingga menjelang pagi.
Kondisi ini menjadi ciri khas utama fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung setiap memasuki musim kemarau.
“Untuk wilayah Tulungagung suhu minimum sekitar 21 derajat Celsius. Meskipun tidak sedingin kawasan pegunungan, masyarakat tetap akan merasakan udara yang lebih dingin, terutama malam hingga pagi,” katanya.
BPBD imbau warga jaga kesehatan selama bediding
BPBD Tulungagung menegaskan bahwa fenomena bediding mulai terasa di Kabupaten Tulungagung perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi daya tahan tubuh jika masyarakat tidak menjaga kondisi fisik dengan baik.
Sudarmaji mengingatkan kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan penderita penyakit saluran pernapasan agar mendapat perhatian lebih selama periode ini berlangsung.
Ia juga meminta masyarakat untuk tetap menjaga pola hidup sehat.
BPBD mengimbau warga mengenakan pakaian hangat saat malam hari, memperbanyak konsumsi makanan bergizi dan minuman hangat, serta menjaga kebugaran tubuh.
Selain itu, masyarakat diminta rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG.
“Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih adalah bayi, lansia, dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Gunakan pakaian hangat, konsumsi makanan bergizi dan minuman hangat, jaga daya tahan tubuh, serta pantau informasi cuaca resmi dari BMKG,” jelasnya.
Sudarmaji menegaskan bahwa fenomena ini merupakan siklus alam yang hampir selalu terjadi saat musim kemarau sehingga masyarakat tidak perlu panik.
Namun, kewaspadaan tetap diperlukan agar dampaknya tidak mengganggu kesehatan maupun aktivitas sehari-hari.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri