TULUNGAGUNG – Fenomena bediding di Tulungagung mulai menjadi perhatian dinas kesehatan (dinkes) setempat.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan karena udara dingin yang biasa muncul pada musim kemarau berpotensi memicu gangguan kesehatan sekaligus menurunkan daya tahan tubuh apabila kondisi fisik tidak dijaga.
Menurut Dinkes, fenomena bediding di Tulungagung merupakan kondisi alam yang terjadi setiap tahun sehingga tidak perlu disikapi dengan kepanikan.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan menerapkan langkah-langkah pencegahan agar dampak terhadap kesehatan dapat diminimalkan.
Imbauan tersebut disampaikan karena fenomena bediding di Tulungagung dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama penyakit saluran pernapasan.
Karena itu, kesiapan masyarakat dalam menjaga kesehatan menjadi salah satu upaya penting selama suhu udara berada pada kondisi yang lebih rendah.
Udara Dingin Berisiko Memicu Gangguan Kesehatan
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, mengatakan bediding merupakan fenomena udara dingin yang lazim terjadi saat musim kemarau.
Meskipun merupakan siklus tahunan, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampaknya.
"Saat ini masyarakat perlu mewaspadai fenomena bediding atau udara dingin yang umumnya terjadi pada musim kemarau. Kondisi ini merupakan fenomena alam yang terjadi setiap tahun, namun tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk siap siaga dan menerapkan langkah-langkah pencegahan," ujarnya.
Desi menjelaskan suhu udara yang lebih rendah dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.
Salah satu yang paling sering muncul adalah infeksi saluran pernapasan seperti batuk, pilek, maupun penyakit pernapasan lainnya.
Selain itu, udara dingin juga dapat menyebabkan daya tahan tubuh menurun.
Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah terserang penyakit apabila tidak menjaga kebugaran dan kondisi fisiknya dengan baik.
"Suhu udara yang lebih rendah dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan seperti batuk, pilek, maupun penyakit pernapasan lainnya. Selain itu, udara dingin juga dapat menurunkan daya tahan tubuh apabila masyarakat tidak menjaga kondisi fisiknya dengan baik," jelasnya.
Kelompok Rentan Perlu Mendapat Perhatian
Dinkes Tulungagung juga mengingatkan bahwa tidak semua kelompok masyarakat memiliki tingkat risiko yang sama saat musim bediding.
Ada beberapa kelompok yang membutuhkan perhatian lebih karena lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.
Kelompok tersebut meliputi bayi, balita, lanjut usia (lansia), serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan maupun penyakit penyerta lainnya.
Desi mengimbau keluarga memastikan anggota keluarga yang termasuk kelompok rentan tetap merasa hangat.
Selain itu, kebutuhan gizi mereka juga harus tercukupi dan kondisi kesehatannya dipantau secara berkala selama suhu udara masih rendah.
"Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih selama musim bediding adalah bayi, balita, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan atau penyakit penyerta lainnya. Kami mengimbau keluarga untuk memastikan mereka tetap merasa hangat, tercukupi kebutuhan gizinya, dan kesehatannya terus dipantau," katanya.
Terapkan Langkah Pencegahan dan Pantau Informasi Cuaca
Untuk mengurangi dampak udara dingin, masyarakat dianjurkan mengenakan pakaian hangat secara berlapis.
Selain itu, konsumsi makanan bergizi, minuman hangat, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, beristirahat yang cukup, serta tetap aktif bergerak juga menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan.
"Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi dampak bediding, di antaranya menggunakan pakaian hangat secara berlapis, mengonsumsi makanan bergizi dan minuman hangat, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, beristirahat yang cukup, serta tetap aktif bergerak agar kondisi tubuh tetap prima," terangnya.
Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar rutin memantau informasi cuaca dari BMKG maupun sumber resmi lainnya.
Informasi tersebut dapat menjadi acuan untuk melakukan antisipasi lebih dini apabila terjadi perubahan kondisi cuaca.
"Kami juga mengingatkan masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca dari BMKG atau sumber resmi lainnya. Dengan mengetahui perkembangan kondisi cuaca, masyarakat dapat melakukan antisipasi lebih dini sehingga risiko gangguan kesehatan akibat suhu dingin dapat diminimalkan," ungkapnya.
Desi menegaskan fenomena bediding bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Yang terpenting adalah meningkatkan kewaspadaan, menjaga kesehatan diri dan keluarga, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat selama musim kemarau.
"Bediding bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, tetapi harus diantisipasi dengan menjaga kesehatan, melindungi diri dan keluarga, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Dengan begitu, masyarakat dapat melewati musim kemarau dengan aman dan tetap sehat," pungkasnya.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri