Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tradisi Larung Sembonyo di Pantai Sidem Tulungagung Kembali Digelar, Warga Sidem Gelar Kirab, Doa Bersama, dan Larung Sesaji sebagai Wujud Syukur

Rahiiq Al Bachri • Senin, 13 Juli 2026 | 08:41 WIB
Warga Dusun Sidem, Desa Besole, Kecamatan Besuki, berebut gunungan di ritual adat Larung Sembonyo, Minggu (12/7/2026).(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)
Warga Dusun Sidem, Desa Besole, Kecamatan Besuki, berebut gunungan di ritual adat Larung Sembonyo, Minggu (12/7/2026).(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)

 

RADAR TULUNGAGUNG - Kirab mengelilingi kampung, doa bersama, hingga prosesi melarung sesaji di Pantai Sidem kembali mewarnai tradisi Larung Sembonyo yang digelar masyarakat Dukuh Sidem, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung, Minggu (12/7).

Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap bulan Sura itu menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil bumi dan hasil laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.

Prosesi diawali dengan Muter Gelang, yakni kirab mengelilingi Dukuh Sidem.

Setelah itu, masyarakat berjalan menuju Pantai Sidem untuk mengikuti prosesi larung sesaji sebagai puncak rangkaian Sedekah Bumi.

Juru kunci Larung Sembonyo, Bakat, menegaskan bahwa tradisi tersebut pada hakikatnya merupakan wujud syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan kepada masyarakat, khususnya hasil pertanian dan hasil laut.

Baca Juga: Plt Bupati Ahmad Baharudin Dorong Larung Sembonyo Popoh Jadi Magnet Wisata Budaya di Tulungagung

Larung Sembonyo merupakan upacara adat Sedekah Bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi dan hasil laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Sidem, ujarnya.

Menurut Bakat, doa yang dipimpin sebelum prosesi larung bukanlah bentuk penyembahan kepada selain Allah SWT.

Doa tersebut merupakan penghormatan kepada para leluhur yang pertama kali membuka wilayah Sidem sekaligus memohon keberkahan dan keselamatan bagi seluruh warga. 

Kami tetap hanya menyembah Allah SWT. Nilai utamanya adalah bersyukur kepada Allah serta menghormati para leluhur yang telah berjasa membuka wilayah ini, tegasnya.

Ketua Pemuda Dukuh Sidem, Sunyoto menambahkan, Larung Sembonyo merupakan puncak rangkaian Sedekah Bumi yang telah diawali dengan kerja bakti membersihkan lingkungan, doa bersama, dan pengajian.

Baca Juga: Larung Sembonyo Pantai Sine Tulungagung Jadi Simbol Syukur Nelayan dan Upaya Pelestarian Budaya Pesisir

Hari ini (kemarin) merupakan acara puncaknya. Sebelumnya ada kerja bakti, doa bersama, dan pengajian, katanya.

Menurut dia, tradisi tersebut tidak pernah kehilangan dukungan masyarakat. Setiap tahun warga bergotong royong mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan sebagai bentuk menjaga warisan budaya sekaligus mempererat kebersamaan.

Sementara itu, Kepala Desa Besole, Suratman, mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam melestarikan tradisi Larung Sembonyo.

Dia berharap Sedekah Bumi tetap menjadi pengingat pentingnya rasa syukur, gotong royong, dan kebersamaan di tengah kehidupan masyarakat pesisir.

“Tradisi ini harus terus dilestarikan karena wujud syukur dan guyubnya warga Sidem,” tuturnya. (bac/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Larung Sesaji #doa bersama #Bulan Sura #Pantai Sidem #larung sembonyo