RADAR TULUNGAGUNG - Surat teguran yang dilayangkan kepada 938 pedagang pasar tradisional mulai membuahkan hasil.
Namun, jumlah pedagang yang memilih mengembalikan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) masih sangat sedikit.
Hingga kini, jumlahnya bahkan belum mencapai 10 orang.
Kabid Pengelolaan Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tulungagung, Muhammad Khabib mengatakan, sebagian pedagang mulai mendatangi kantor disperindag untuk berkoordinasi setelah menerima surat teguran.
Ada yang memutuskan mengembalikan SITU, tetapi mayoritas masih mempertahankan hak penggunaan kios.
Baca Juga: Biarkan Kios Pasar Kosong, 938 Pedagang di Tulungagung Kena Tegur, Terbanyak dari Pasar Wage
"Yang sudah mengembalikan SITU masih sangat sedikit, tidak sampai 10 orang. Salah satunya dari Pasar Domasan," ujarnya, kemarin (12/7).
Menurut Khabib, banyak pedagang memilih mencari orang lain yang bersedia menempati kiosnya. Padahal, mekanisme tersebut tidak dibenarkan.
Apabila pemilik sudah tidak lagi berjualan, mereka wajib lebih dahulu mengembalikan SITU kepada disperindag sebelum kios dapat dialokasikan kepada pedagang baru.
"Masih ada yang mencari pengganti sendiri. Padahal aturannya, SITU harus dikembalikan dulu. Nanti penempatan pedagang baru menjadi kewenangan kami," tegasnya.
Dia menjelaskan, hingga kini disperindag masih memberikan kesempatan kepada para pedagang untuk menentukan sikap.
Setiap surat teguran memiliki masa tenggang selama 10 hari. Selama periode tersebut, pedagang dapat memilih kembali berjualan atau menyerahkan SITU apabila sudah tidak berminat memanfaatkan kios.
"Kalau tidak ingin mengembalikan SITU, syaratnya ya harus berjualan lagi," katanya.
Mayoritas pedagang saat ini masih menerima surat teguran pertama. Namun, khusus pemilik kios di lantai atas Pasar Wage, sebagian sudah memperoleh surat teguran kedua karena sebelumnya tidak memberikan tindak lanjut.
Disperindag masih menunggu respons para pedagang sebelum mengambil langkah berikutnya.
Penataan dilakukan karena di sisi lain mulai bermunculan calon pedagang baru yang ingin berjualan, tetapi belum dapat memperoleh tempat lantaran banyak kios masih berstatus aktif meski bertahun-tahun kosong.
Khabib mengakui tutupnya ratusan kios dipengaruhi berbagai faktor. Pedagang pakaian menjadi kelompok yang paling terdampak karena kalah bersaing dengan maraknya perdagangan melalui platform daring.
Sementara di Pasar Wage, banyak pedagang sayur memilih pindah ke Pasar Ngemplak yang dinilai lebih ramai pembeli.
"Kami ingin aset pasar bisa dimanfaatkan secara optimal. Kalau memang sudah tidak digunakan, lebih baik dikembalikan agar bisa ditempati pedagang lain yang benar-benar ingin berjualan," pungkasnya.
Di sisi lain, salah satu pedagang di Pasar Wage yang namanya enggan disebut mengaku jika mayoritas kios yang tutup masih ada yang memiliki.
Namun yang bersangkutan memilih untuk tidak berjualan karena beberapa sebab, salah satunya kondisi yang tidak sama dengan sebelumnya.
"Masih ada yang punya meskipun tidak tampak ada aktivitas lagi di kios tersebut," ungkap pria ramah ini. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri