RADAR TULUNGAGUNG – Upaya menghidupkan kembali pasar tradisional di Kabupaten Tulungagung masih menghadapi tantangan besar.
Selain semakin banyak pedagang yang menutup kios, pemerintah daerah juga belum bisa melakukan revitalisasi secara maksimal karena keterbatasan anggaran.
Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tulungagung Muhammad Khabib mengatakan, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah.
Pemerintah harus mencari cara agar aktivitas perdagangan kembali bergairah meski belum didukung revitalisasi fisik pasar.
"Kami masih cari solusi agar pasar-pasar yang ditinggal pedagang bisa ramai lagi," ujarnya, Rabu (8/7).
Menurut Khabib, revitalisasi pasar memang menjadi salah satu kebutuhan untuk meningkatkan kenyamanan pedagang maupun pembeli.
Namun, pelaksanaannya belum dapat dilakukan secara menyeluruh karena terbentur kemampuan anggaran pemerintah daerah.
Sementara itu, kondisi pasar tradisional terus mengalami penurunan aktivitas. Disperindag mencatat sebanyak 938 pedagang yang tersebar di berbagai pasar tidak lagi aktif berjualan.
Dari jumlah tersebut, 563 pedagang berada di Pasar Wage yang menjadi pasar dengan jumlah kios kosong terbanyak.
Khabib menjelaskan, sebagian besar pedagang menutup usahanya bukan karena kehilangan minat berdagang.
Mereka terpaksa berhenti karena jumlah pembeli terus menurun sehingga pendapatan tidak lagi mampu menutupi biaya operasional sehari-hari.
Baca Juga: Pasar Wage Tulungagung Kehilangan Pamor, Pedagang Daging hingga Konveksi Kini Menghilang
"Karena biaya operasional tinggi mereka memilih untuk tutup. Apalagi kondisi pasar sepi dari pembeli," katanya.
Di sisi lain, Disperindag tetap melakukan penataan administrasi dengan mengirimkan surat teguran kepada para pedagang yang tidak aktif.
Langkah itu bertujuan memastikan status penggunaan kios maupun lapak yang selama ini dibiarkan kosong.
Bagi pedagang yang sudah tidak ingin melanjutkan usaha, pemerintah meminta agar Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dikembalikan sehingga kios dapat dimanfaatkan oleh pedagang lain.
Sementara pedagang yang masih ingin bertahan tetap diberi kesempatan untuk mempertahankan hak penggunaan tempat usahanya.
Menurut Khabib, penataan administrasi saja tidak cukup untuk mengembalikan kejayaan pasar tradisional.
Dibutuhkan strategi yang mampu menarik kembali minat masyarakat berbelanja di pasar agar aktivitas ekonomi kembali hidup dan kios-kios yang kini kosong dapat terisi kembali. (sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri