Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Arjunawiwaha Tak Sekadar Terpahat, tetapi Sarat Nilai Filosofis dan Spiritualitas

Rahiiq Al Bachri • Kamis, 16 Juli 2026 | 23:36 WIB
Relief di Goa Selomangleng, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, menyimpan kisah Kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa. (RAHIIQ AL BACHRI/ RADAR TULUNGAGUNG)
Relief di Goa Selomangleng, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, menyimpan kisah Kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa. (RAHIIQ AL BACHRI/ RADAR TULUNGAGUNG)

Radar Tulungagung - Relief yang menghiasi dinding Goa Selomangleng di Kota Kediri tidak hanya menjadi karya seni pahat peninggalan masa lampau. Panel-panel relief tersebut menyimpan kisah  Arjunawiwaha, kakawin karya Mpu Kanwa yang menjadi salah satu tonggak kejayaan sastra Jawa Kuno pada masa Kerajaan Kadiri, sekaligus memuat pesan moral dan spiritual yang masih relevan hingga kini.

Anggota Asta Gayatri Tulungagung, Lana Faizatussulaimah, menjelaskan bahwa relief Goa Selomangleng mengisahkan perjalanan Arjuna sebagaimana tertuang dalam Kakawin Arjunawiwaha. Menurutnya, karya sastra tersebut merupakan pengembangan baru dari tokoh-tokoh dalam Mahabharata.

"Panel-panel relief di Goa Selomangleng menggambarkan kisah Arjunawiwaha, sebuah kakawin karya Mpu Kanwa yang mengangkat tokoh-tokoh dari Mahabharata dan mengembangkannya menjadi cerita baru. Jika dianalogikan dengan istilah sekarang, kisah ini dapat disebut sebagai bentuk fanfiction pada masanya," ujarnya.

Lana menambahkan, keberhasilan Mpu Kanwa melahirkan Arjunawiwaha menjadi pemantik berkembangnya karya-karya sastra Jawa Kuno lainnya. Kondisi tersebut menjadikan masa Kerajaan Kadiri dikenal sebagai salah satu periode kejayaan sastra di Nusantara.

Selain nilai kesusastraan, Arjunawiwaha juga merekam pandangan masyarakat terhadap perempuan pada abad ke-11. Dalam kakawin tersebut, perempuan digambarkan dalam berbagai peran, mulai dari penyebab konflik, ujian bagi laki-laki, sumber keseimbangan, hingga pemberi solusi.

"Tokoh Supraba menjadi contoh bagaimana perempuan tidak hanya digambarkan sebagai objek cerita, tetapi juga sosok yang mampu menemukan kelemahan Niwatakawaca sehingga membawa kemenangan bagi kahyangan," jelasnya.

Sementara itu, anggota Komunitas Asta Gayatri, Agung Cahyadi, menjelaskan bahwa hingga kini masih terdapat perbedaan pendapat mengenai masa pembangunan Goa Selomangleng.

Menurutnya, arkeolog Bernet Kempers memperkirakan goa tersebut dibangun pada abad ke-10 karena memiliki kemiripan dengan relief di Petirtaan Jalatunda. Sebaliknya, N.J. Krom berpendapat Goa Selomangleng berasal dari masa Majapahit berdasarkan adanya mahkota berciri kirita makuta serta ornamen pita yang terpahat pada salah satu relief.

"Terdapat dua pendapat mengenai waktu pembangunan Goa Selomangleng. Pendapat pertama dikemukakan oleh Bernet Kempers yang memperkirakan goa ini dibangun pada abad ke-10 karena kemiripan reliefnya dengan relief di Petirtaan Jalatunda. Sementara itu, N.J. Krom berpendapat Goa Selomangleng berasal dari masa Majapahit berdasarkan ciri mahkota dan ornamen yang terdapat pada relief," katanya.

Agung menambahkan, Goa Selomangleng diyakini bukan sekadar tempat berlindung, melainkan bagian dari kawasan karesyan, yakni kompleks pertapaan pada masa Hindu-Buddha.

"Di bagian atas goa terdapat lapik yang oleh masyarakat dikenal sebagai Candi Meja dengan hiasan tapak dara. Sementara pada pipi tangganya terdapat pahatan dua ekor harimau yang mengingatkan pada kisah Bubuksah dan Gagang Aking, dua pertapa yang mendapat godaan dari harimau jelmaan Dewa Siwa," paparnya.

Makna filosofis relief tersebut turut dijelaskan Pegiat Budaya Rinaldy Achmad Subekti. Ia menilai relief Goa Selomangleng merupakan media penyampaian ajaran spiritual yang mengajarkan pentingnya pengendalian diri.

"Relief-relief di Goa Selomangleng bukan sekadar hiasan, melainkan alegori tentang pentingnya laku tapa, brata, semedi, yoga, dan proses mengenal diri sendiri. Nilai-nilai spiritual tersebut menjadi inti dari perjalanan hidup manusia menurut pandangan masyarakat pada masa itu," ujarnya.

Menurut Rinaldy, pesan tersebut sejalan dengan kisah Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha. Setelah berhasil menjalani laku spiritual, Arjuna memperoleh senjata Pasupati yang kemudian digunakan untuk mengalahkan Raja Niwatakawaca.

"Dalam Kakawin Arjunawiwaha diceritakan bahwa setelah menjalani laku spiritual, Arjuna memperoleh anugerah berupa senjata Pasupati. Penggalan kisah tersebut juga tergambar pada relief-relief di Goa Selomangleng, sehingga relief ini tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga menjadi media penyampaian ajaran moral dan spiritual," pungkasnya. 

Editor : Rahiiq Al Bachri
Sumber : Radar Tulungagung
arjunawiwaha radar tulungagung goa selomangleng Relief