Radar Tulungagung - Di balik relief-relief yang menghiasi dinding Goa Selomangleng, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, masih tersimpan satu teka-teki yang belum sepenuhnya terjawab. Hingga kini, para arkeolog belum mencapai kesepakatan mengenai kapan situs bersejarah tersebut dibangun. Perbedaan penafsiran terhadap gaya relief dan ornamen membuat Goa Selomangleng diperkirakan berasal dari dua periode berbeda, yakni masa Kadiri atau Majapahit.
Anggota Komunitas Asta Gayatri Tulungagung, Agung Cahyadi, menjelaskan bahwa terdapat dua pendapat utama mengenai usia Goa Selomangleng. Masing-masing didasarkan pada karakter relief dan unsur artistik yang masih dapat diamati hingga sekarang.
"Terdapat dua pendapat mengenai waktu pembangunan Goa Selomangleng. Pendapat pertama dikemukakan oleh Bernet Kempers yang memperkirakan goa ini dibangun pada abad ke-10 karena kemiripan reliefnya dengan relief di Petirtaan Jalatunda. Sementara itu, N.J. Krom berpendapat Goa Selomangleng berasal dari masa Majapahit berdasarkan ciri mahkota dan ornamen yang terdapat pada relief," katanya.
Menurut Agung, perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa Goa Selomangleng masih menyimpan ruang kajian yang luas bagi para arkeolog maupun sejarawan. Penelitian terhadap gaya seni, ikonografi, hingga konteks sejarah terus diperlukan untuk memperkuat penanggalan situs.
Ia menambahkan, fungsi Goa Selomangleng pada masa lalu juga tidak sekadar sebagai tempat berlindung, melainkan bagian dari kawasan karesyan atau kompleks pertapaan masyarakat Hindu-Buddha.
"Di bagian atas goa terdapat lapik yang oleh masyarakat dikenal sebagai Candi Meja dengan hiasan tapak dara. Sementara pada pipi tangganya terdapat pahatan dua ekor harimau yang mengingatkan pada kisah Bubuksah dan Gagang Aking, dua pertapa yang mendapat godaan dari harimau jelmaan Dewa Siwa," paparnya.
Selain menjadi objek kajian arkeologi, Goa Selomangleng juga menyimpan kekayaan sastra Jawa Kuno. Relief-relief yang terpahat pada dinding goa menggambarkan kisah Kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, salah satu karya sastra penting pada masa Kerajaan Kadiri.
Anggota Asta Gayatri Tulungagung, Lana Faizatussulaimah, mengatakan kisah tersebut merupakan pengembangan tokoh-tokoh Mahabharata yang kemudian melahirkan cerita baru.
"Panel-panel relief di Goa Selomangleng menggambarkan kisah Arjunawiwaha, sebuah kakawin karya Mpu Kanwa yang mengangkat tokoh-tokoh dari Mahabharata dan mengembangkannya menjadi cerita baru. Jika dianalogikan dengan istilah sekarang, kisah ini dapat disebut sebagai bentuk fanfiction pada masanya," ujarnya.
Sementara itu, pegiat budaya Rinaldy Achmad Subekti menilai keberadaan relief tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga menjadi media penyampaian ajaran spiritual masyarakat pada masa Hindu-Buddha.
"Relief-relief di Goa Selomangleng bukan sekadar hiasan, melainkan alegori tentang pentingnya laku tapa, brata, semedi, yoga, dan proses mengenal diri sendiri. Nilai-nilai spiritual tersebut menjadi inti dari perjalanan hidup manusia menurut pandangan masyarakat pada masa itu," ujarnya.
Menurut Rinaldy, pesan tersebut tergambar melalui perjalanan spiritual Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha yang akhirnya memperoleh senjata Pasupati sebagai simbol keberhasilan mengendalikan diri.
"Dalam Kakawin Arjunawiwaha diceritakan bahwa setelah menjalani laku spiritual, Arjuna memperoleh anugerah berupa senjata Pasupati. Penggalan kisah tersebut juga tergambar pada relief-relief di Goa Selomangleng, sehingga relief ini tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga menjadi media penyampaian ajaran moral dan spiritual," pungkasnya.
Editor : Rahiiq Al BachriSumber : Radar Tulungagung