Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sukses Dengan GuN2 Bike kini Nahkodai Menara Feedmill, Bentuk Kepedulian Henry Gunawan Untuk Petani Ikan di Tulungagung 

Sandy Sri Yuwana • Minggu, 19 Juli 2026 | 05:51 WIB
Henry Gunawan saat memantau produksi pakan ikan Menara Feedmill melalui ruang kontrol
Henry Gunawan saat memantau produksi pakan ikan Menara Feedmill melalui ruang kontrol

 

RADAR TULUNGAGUNG - Dari toko sepeda hingga pabrik pakan ikan, Henry Gunawan memilih jalan yang tak pernah ia rencanakan. Keputusan itu lahir bukan karena ambisi bisnis, melainkan karena satu kalimat sederhana: berbakti kepada orang tua. 

Kini, di bawah kepemimpinannya, Mentari Nusantara (Menara Feedmill) di Desa Batokan, Kecamatan Ngantru, Tulungagung, bertransformasi menjadi perusahaan yang menempatkan kualitas, tata kelola, dan kemanusiaan sebagai fondasi utama.

 

Tidak banyak yang tahu, ketika bisnis GuN2 Bike berkembang menjadi salah satu toko sepeda dan perlengkapan olahraga yang paling dikenal di Tulungagung, Henry Gunawan justru dihadapkan pada pilihan yang jauh dari zona nyamannya.

 

Dua tahun lalu, tepatnya pada tahun 2024 ketika kedua orang tuanya mulai sakit, tongkat estafet perusahaan keluarga diserahkan kepadanya. Saat itulah ia menerima amanah memimpin Mentari Nusantara Feedmill (Menara), produsen pakan ikan, pakan kucing, dan pakan anjing yang telah berdiri sejak 2004.

 

"Sebenarnya saya tidak punya passion di bidang pakan. Tapi ini adalah bentuk bakti kepada orang tua. Saya menerima estafet itu karena memang harus saya jalankan," kenangnya.

 

Keputusan tersebut menjadi awal perjalanan yang tidak mudah. Saat pertama masuk ke perusahaan, Henry melihat banyak hal yang harus dibenahi. Namun, alih-alih bergerak tergesa-gesa, ia memilih memulai dari hal paling mendasar, memperbaiki sistem.

 

Visinya sederhana, tetapi tegas. Menjadikan Menara memiliki tata kelola yang lebih profesional, kualitas produk yang konsisten, serta budaya kerja yang sehat.

 

Dalam setiap langkahnya, Henry mengaku selalu melibatkan Tuhan. Baginya, banyak jalan keluar justru hadir melalui orang-orang yang dipertemukan dalam perjalanan.

 

"Saya percaya Tuhan selalu memberi petunjuk. Tiba-tiba saya bertemu SDM yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dari situ perubahan mulai berjalan," ujarnya.

 

Berbeda dengan gaya kepemimpinan yang serba instruksi, Henry justru lebih menyukai pendekatan bottom up. Ia ingin setiap karyawan merasa memiliki ruang untuk menyampaikan ide.

 

Baginya, perusahaan tidak boleh hanya berjalan mengikuti kehendak pimpinan.

 

"Saya lebih senang mendengar masukan. Saya tidak suka kalau semuanya hanya 'asal bos senang'. Saya ingin semua ikut berpikir bagaimana perusahaan ini bisa lebih baik." Ungkapnya kepada Radar Tulungagung (18/7).

 

Budaya kekeluargaan yang diwariskan sang ayah pun tetap dipertahankan. Bahkan, itu menjadi nilai yang paling ia jaga hingga hari ini.

 

Ia mengaku lebih sering menyebut para pekerja sebagai "anak-anak pabrik" dibanding sekadar karyawan.

 

"Saya selalu berpikir bagaimana mereka tetap bekerja. Ketika saya mulai memimpin, mereka hanya bekerja dua sampai tiga hari dalam seminggu. Target saya sederhana, semoga mereka bisa bekerja penuh selama satu minggu sehingga kesejahteraan mereka ikut meningkat." katanya.

 

Bagi Henry, ukuran keberhasilan perusahaan bukan hanya besarnya keuntungan, melainkan seberapa banyak keluarga yang kehidupannya ikut terbantu.

 

Menara Feedmill lahir dari kegelisahan sang ayah yang melihat Tulungagung sebagai salah satu sentra budidaya ikan air tawar.

 

Potensi besar itu mendorong lahirnya pabrik pakan lokal yang mampu mendukung para pembudidaya.

 

Kini, perusahaan tidak hanya memproduksi pakan ikan konsumsi, tetapi juga pakan ikan hias, unggas, serta pakan kucing dan anjing.

 

Namun, menurut Henry, kualitas produk adalah sebagian dari tanggung jawab perusahaan.

 

Ia menyadari, ketika hasil panen ikan menurun, pakan hampir selalu menjadi pihak pertama yang disalahkan. Padahal, keberhasilan budidaya juga dipengaruhi teknik pemeliharaan, kualitas air, hingga pola pemberian pakan.

 

Karena itulah Menara menghadirkan layanan konsultasi dan dokter ikan yang bisa dimanfaatkan seluruh pembudidaya, tanpa melihat merek pakan yang digunakan.

 

"Kami ingin memberikan edukasi. Kalau ada yang ingin belajar budidaya, silakan datang. Layanan ini gratis. Tidak harus memakai pakan Menara." terangnya.

 

Baginya, inilah cara sederhana membalas jasa daerah tempat ia dilahirkan.

"Saya lahir di Tulungagung. Hampir setengah abad hidup di sini. Saya ingin memberikan sesuatu untuk masyarakat Tulungagung." ujarnya penuh semangat.

 

Nilai-nilai yang dipegang Henry bukan lahir dari buku bisnis, melainkan dari teladan kedua orang tuanya.

 

Ia masih mengingat bagaimana sang ayah hampir setiap pagi membeli pisang atau jajanan dari pedagang kecil, lalu membagikannya kepada seluruh karyawan.

Sikap sederhana namun penuh kepedulian itu membentuk cara pandangnya hingga sekarang.

 

"Papa saya selalu mengajarkan jujur, bekerja keras, dan menepati janji. Beliau juga sangat sayang kepada karyawan." Ucapnya lirih sambil meneteskan air mata, mengingat sang ayah yang sudah tiada.

 

Bagi Henry, bisnis memang harus menghasilkan keuntungan. Namun keuntungan tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan.

 

Ia ingin Menara tumbuh bersama para pembudidaya, distributor, maupun masyarakat sekitar melalui hubungan yang saling menguntungkan.

 

Perusahaan tersebut juga memiliki dokter ikan dan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi siapa saja para pembudidaya ikan yang ingin belajar ataupun mengembangkan usaha budidaya.

 

"Kami ingin semua sama-sama berkembang. Kalau ada yang ingin belajar budidaya, silakan datang. Kami siap mendampingi."

 

Di akhir perbincangan, Henry kembali mengingat slogan lama yang pernah dibuat bersama sang ayah.

"Iwake lemu-lemu sing nduwe ngguyu-ngguyu."

 

Kalimat sederhana berbahasa Jawa itu menyimpan harapan besar. Ketika ikan tumbuh sehat dan panen berhasil, para pembudidaya pun ikut sejahtera.

 

Kini, slogan tersebut bukan lagi sekadar kalimat promosi. 

Di tangan Henry Gunawan, semboyan itu menjadi komitmen bahwa setiap produk yang keluar dari Menara Feedmill harus mampu menghadirkan manfaat, bukan hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor perikanan.

Editor : Sandy Sri Yuwana
menara feedmil henry gunawan pakan ikan tulungagung gun2 sport