BNNK Tulungagung Waspadai Pesisir Selatan, Tingginya Mobilitas Pendatang dan Nelayan Dinilai Rawan Peredaran Narkoba

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 10:50 WIB
Aktivitas nelayan di pesisir selatan Kota Marmer terus masuk radar BNNK Tulungagung karena terhitung menjadi area rawan peredaran narkoba.(DR PERDANA/RDAR TULUNGAGUNG)
Aktivitas nelayan di pesisir selatan Kota Marmer terus masuk radar BNNK Tulungagung karena terhitung menjadi area rawan peredaran narkoba.(DR PERDANA/RDAR TULUNGAGUNG)

 

RADAR TULUNGAGUNG – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Tulungagung memberi perhatian khusus terhadap kawasan pesisir selatan.

Tingginya mobilitas pendatang dan aktivitas nelayan yang berhari-hari hingga berminggu-minggu berada di laut dinilai memiliki potensi kerawanan penyalahgunaan maupun peredaran narkoba sehingga perlu diantisipasi sejak dini.

Kepala BNNK Tulungagung Wasbeka Abie Yuwono mengatakan karakteristik wilayah pesisir berbeda dengan kawasan perkotaan.

Banyaknya masyarakat yang keluar masuk kawasan pantai membuat pengawasan tidak mudah dilakukan sehingga memerlukan langkah pencegahan yang lebih intensif. 

"Daerah pantai memang menjadi perhatian kami karena banyak pendatang. Kita tidak pernah tahu mereka datang dari mana, membawa apa, dan aktivitasnya seperti apa. Mobilitas di kawasan pesisir cukup tinggi sehingga perlu menjadi perhatian bersama," ujarnya.

Baca Juga: Rehabilitasi Narkoba Gratis di BNNK Tulungagung Belum Maksimal, Stigma Takut Diproses Hukum Masih Kuat

Selain tingginya arus pendatang, aktivitas nelayan juga menjadi perhatian BNNK.

Menurut Abie, sapaan akrabnya, nelayan dapat berada di tengah laut hingga hampir satu bulan sebelum kembali ke daratan.

Kondisi tersebut membuat pengawasan menjadi lebih sulit dan berpotensi dimanfaatkan oleh jaringan narkoba.

"Nelayan bisa melaut sampai hampir satu bulan. Selama berada di tengah laut tentu mereka jauh dari pengawasan. Kondisi seperti itu sangat rentan dimanfaatkan jaringan narkoba apabila tidak diantisipasi sejak dini," katanya.

Meski demikian, pria berkacamata ini menegaskan perhatian terhadap kawasan pesisir bukan berarti wilayah selatan Tulungagung telah menjadi jalur utama peredaran narkoba.

Baca Juga: Lebih Banyak Pengguna Double L yang Datang Sukarela untuk Rehabilitasi dalam Kasus Narkoba di Tulungagung

Namun, tingginya mobilitas orang dan barang dinilai menjadi potensi kerawanan yang harus diwaspadai.

"Kita tidak tahu apa yang dibawa dari tengah laut ataupun siapa saja yang keluar masuk kawasan pesisir. Di situ ada potensi yang memang harus diantisipasi. Karena itu kami melihat perlunya edukasi dan deteksi dini di wilayah pesisir," jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan, BNNK akan memperluas sosialisasi bahaya narkoba kepada masyarakat pesisir, termasuk komunitas nelayan.

Edukasi diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai modus peredaran narkotika.

Selain itu, BNNK juga merencanakan deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan dan tes urine di kawasan pesisir.

Namun, pelaksanaannya masih menyesuaikan ketersediaan anggaran dan alat pendukung.

Dia berharap upaya pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab BNNK, tetapi juga melibatkan pemerintah desa, kelompok nelayan, tokoh masyarakat, hingga media massa agar kawasan pesisir selatan Tulungagung tetap aman dari ancaman penyalahgunaan maupun peredaran narkoba. (bac/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
kawasan pantai BNNK Tulungagung narkoba pesisir selatan