RADAR TULUNGAGUNG – Jembatan gantung di Dusun Genting, Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung akhirnya mendapat perbaikan total.
Akses vital yang menghubungkan Desa Kendalbulur dengan Desa Tawing, Gempolan, dan Gesikan di Kecamatan Pakel, Tulungagung itu mulai direhabilitasi pada Senin (20/7).
Selama proses pengerjaan, jembatan diperkirakan tidak dapat dilalui selama sekitar delapan hingga sepuluh hari.
Perbaikan meliputi penggantian kayu glogor dan papan lantai jembatan, sekaligus penguatan konstruksi besi agar lebih aman digunakan masyarakat.
Kepala Desa Kendalbulur Anang Mustofa mengatakan, jembatan tersebut telah dibangun sejak 1987.
Namun, selama hampir empat dekade keberadaannya, perbaikan yang dilakukan baru sebatas tambal sulam.
“Sejak dibangun pada 1987, baru sekali direhab dan itu pun tidak menyeluruh. Tahun 2022 hanya perbaikan kecil atau tambal-tambal," ujarnya.
Baca Juga: NewHope Bantah Dugaan Kartel, Siap Jadi Jembatan Selesaikan Persoalan Pembudidaya Ikan Tulungagung
Menurut Anang, pemerintah desa hampir setiap tahun mengusulkan pembangunan maupun rehabilitasi jembatan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Namun hingga kini belum pernah mendapat realisasi anggaran dari pemerintah daerah.
Akibatnya, selama ini perawatan jembatan hanya mengandalkan kemampuan pemerintah desa melalui swadaya masyarakat.
“Selama ini ya swadaya pemerintah desa dan masyarakat. Padahal jembatan ini sangat penting bagi aktivitas warga," katanya.
Ia menjelaskan, rehabilitasi total kali ini dapat terlaksana berkat bantuan dana corporate social responsibility (CSR) dari salah satu pabrik rokok di wilayah setempat yang dipadukan dengan swadaya masyarakat.
Warga juga bergotong royong turut menyumbangkan uang dan tenaga bersama pemerintah desa selama proses pengerjaan.
Baca Juga: Ini Tujuh Titik Baru Portal Pembatas Truk selama Pembangunan Jembatan Gondang 1 Tulungagung
Keberadaan jembatan tersebut dinilai menjadi urat nadi mobilitas masyarakat. Selain menghubungkan empat desa, setiap hari jembatan dilintasi warga yang bekerja ke kawasan industri, bahkan menuju Trenggalek.
Tidak hanya itu, akses tersebut juga menjadi jalur utama anak-anak menuju sekolah, sekaligus mendukung distribusi hasil pertanian dan aktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kalau jembatan ini terganggu, otomatis aktivitas ekonomi warga juga ikut terdampak. Banyak pekerja pabrik, petani, pedagang, hingga anak sekolah yang setiap hari melintas di sini," jelasnya.
Anang berharap rehabilitasi kali ini mampu memperpanjang usia layanan jembatan.
Namun, ia menilai dibutuhkan perhatian lebih serius dari pemerintah daerah mengingat usia jembatan yang sudah mendekati 40 tahun.
"Harapan kami ke depan ada perawatan rutin, tidak menunggu rusak parah dulu. Kami juga berharap pemerintah daerah bisa memasukkan pembangunan jembatan ini dalam program prioritas agar ke depan memiliki konstruksi yang lebih kuat dan permanen," pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana