Kasus HIV pada Usia Muda di Tulungagung Meningkat, 630 Orang Terinfeksi, KPAD Minta Orang Tua Perkuat Komunikasi dengan Anak

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 11:02 WIB
KPAD Tulungagung menilai keluarga memegang peran paling penting dalam mencegah anak terjerumus ke perilaku berisiko.(ILUSTRASI)
KPAD Tulungagung menilai keluarga memegang peran paling penting dalam mencegah anak terjerumus ke perilaku berisiko.(ILUSTRASI)

 

RADAR TULUNGAGUNG - Meningkatnya temuan kasus HIV pada kelompok usia muda di Tulungagung menjadi peringatan bagi para orang tua.

Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Tulungagung menilai keluarga memegang peran paling penting dalam mencegah anak terjerumus ke perilaku berisiko.

Sekadar diketahui, data kumulatif 2006–2026 mencatat  630 orang usia 15–24 tahun terinfeksi HIV.

Bahkan, belakangan ditemukan pergeseran kasus ke kelompok usia 15–19 tahun yang sebagian masih berstatus pelajar.

Sekretaris I KPAD Tulungagung, Ifada Nur Rohmaniah mengatakan, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi anak.

Baca Juga: Kasus HIV/AIDS di Tulungagung Bergeser ke Remaja, 630 Usia Sekolah Terdiagnosis Sejak 2006, KPAD Minta Edukasi Diperkuat

Kehadiran secara emosional dan komunikasi yang terbuka menjadi benteng utama dalam pencegahan.

"Warning-nya adalah orang tua harus mengambil sikap. Jangan hanya berpikir semoga anak saya tidak seperti itu. Ajak anak berdiskusi," ujarnya.

Menurut Ifada, kedekatan dengan anak harus dibangun sejak dini melalui quality time yang rutin.

Kehadiran orang tua tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara pikiran dan emosional agar anak merasa memiliki tempat yang aman untuk bercerita. 

"Anak itu bukan hanya soal fasilitas. Anak juga membutuhkan komunikasi, kedekatan psikologis, dan kehadiran orang tua secara psikologis," jelasnya.

Baca Juga: KPAD Tulungagung Ungkap 6 dari 10 Remaja Diduga Sudah Berhubungan Seks, Kasus HIV Usia 15-19 Tahun Jadi Sorotan

Dia menuturkan, saat bersama anak, orang tua perlu benar-benar fokus sehingga mampu memahami persoalan yang dihadapi anak, termasuk pergaulan maupun hubungan dengan lawan jenis.

"Ketika bersama anak, pikiran, tubuh, dan hati kita juga harus hadir di situ. Jangan secara fisik bersama anak, tetapi pikiran masih ke mana-mana," katanya.

Selain membangun komunikasi, keluarga juga diminta mulai mengenalkan pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi sesuai usia anak.

Menurutnya, pendidikan tersebut bukan sekadar melarang, melainkan juga menanamkan nilai agama, norma, serta pemahaman mengenai batasan terhadap tubuh sendiri.

"Anak perlu memahami bahwa tubuhnya tidak boleh sembarangan disentuh atau diperlihatkan kepada orang lain. Mereka juga harus tahu bagaimana menjaga batasan dan mengatakan tidak," ungkapnya.

Baca Juga: Dinkes Tulungagung Bekali Siswa Bahaya HIV/AIDS dan Cegah Bullying di MPLS

Ifada menambahkan, kemampuan menolak ajakan berisiko perlu dilatih sejak dini.

Sebab, pendekatan menuju perilaku seksual berisiko tidak selalu dilakukan dengan paksaan, tetapi juga melalui perhatian, rayuan, maupun kedekatan emosional.

Karena itu, orang tua diminta tidak hanya bangga memiliki anak yang penurut, tetapi juga membekali mereka dengan keberanian berpikir kritis dan mengambil keputusan yang benar.

"Orang tua jangan hanya senang anaknya manut. Ketika remaja, anak juga harus tahu kapan harus berkata tidak dan menolak sesuatu," tegasnya. (sri/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
kpad tulungagung peran keluarga hiv/aids remaja