RADAR TULUNGAGUNG – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai memicu krisis air bersih di Desa Kalidawe, Kecamatan Pucanglaban, Tulungagung.
Menurunnya debit sumber air Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) membuat distribusi air ke rumah warga tidak lagi bisa dilakukan setiap hari, tetapi harus digilir.
Kondisi tersebut mendorong Pemdes Kalidawe mengajukan bantuan air bersih kepada BPBD Tulungagung.
BPBD kemudian menyalurkan dua tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga yang mulai kesulitan memperoleh pasokan.
Sekretaris Desa Kalidawe, Endri Gunawan mengatakan, penurunan debit sumber air mulai dirasakan sejak kemarau berlangsung beberapa bulan terakhir.
Wilayah yang berada di ujung jaringan HIPPAM menjadi daerah paling terdampak.
"Debit sumber air HIPPAM terus menurun sehingga ada beberapa titik yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Karena itu, kami mengajukan bantuan ke BPBD," ujarnya kemarin.
Menurut Endri, sebelum kemarau, air HIPPAM mengalir setiap hari. Namun, kini distribusi harus dilakukan bergilir sekitar tiga hari sekali agar seluruh pelanggan tetap mendapatkan pasokan.
"Setelah satu wilayah mendapat aliran, distribusi dipindahkan ke RT atau dusun lain yang belum mendapat giliran. Dengan cara itu, semua warga tetap bisa memperoleh air meski tidak setiap hari," jelasnya.
Bantuan air bersih dari BPBD dimanfaatkan warga untuk kebutuhan pokok, mulai memasak, mandi, hingga mencuci.
Pemdes Kalidawe bahkan berencana kembali mengajukan bantuan karena kemarau diperkirakan masih berlanjut.
"Kemungkinan minggu depan kami mengajukan bantuan lagi karena kondisi sumber air belum membaik," katanya.
Endri menyebut wilayahnya hampir tidak diguyur hujan sejak April.
Dampaknya, debit mata air terus menyusut sehingga HIPPAM tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan seluruh pelanggan secara normal.
Selain krisis air bersih, warga juga menghadapi fenomena bediding. Siang hari suhu terasa sangat panas, sedangkan malam berubah sangat dingin.
Perubahan cuaca ekstrem tersebut mulai berdampak pada kesehatan masyarakat.
"Banyak warga mengalami demam, batuk, dan pilek karena perbedaan suhu siang dan malam cukup ekstrem," ungkapnya.
Pemdes Kalidawe berharap hujan segera turun agar debit sumber air kembali normal.
Sementara itu, koordinasi dengan BPBD dan pengelola HIPPAM terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri