Radar Tulungagung - Misteri meninggalnya seorang pria di sebuah warung kopi (warkop) di Dusun Ngipik, Desa Bono, Kecamatan Boyolangu, mulai menemui titik terang. Berdasarkan hasil pemeriksaan luar yang dilakukan petugas medis bersama kepolisian, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Atas hasil tersebut, keluarga menyatakan menerima peristiwa itu sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi.
Korban diketahui berinisial A.R.W., 26, warga Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu. Peristiwa itu terjadi pada Rabu (22/7) sekitar pukul 13.15 WIB dan sempat mengundang perhatian warga yang berada di sekitar lokasi.
Kapolsek Boyolangu AKP Retno Pujiarsih mengatakan, pihaknya menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya seorang pria yang meninggal dunia secara mendadak di sebuah warung kopi. Menindaklanjuti laporan tersebut, personel Polsek Boyolangu bersama Tim Inafis Polres Tulungagung dan petugas medis langsung mendatangi lokasi untuk melakukan penanganan serta pemeriksaan awal.
"Begitu menerima laporan, anggota bersama Tim Inafis Polres Tulungagung dan petugas medis segera mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan awal terhadap korban," ujarnya.
Di lokasi kejadian, petugas melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sekaligus mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan penyebab meninggalnya korban sekaligus mengantisipasi adanya dugaan tindak pidana.
Retno menjelaskan, berdasarkan hasil olah TKP, korban ditemukan dalam posisi terlentang di dekat meja warung. Saat ditemukan, dari mulut korban keluar air liur dan darah. Selain itu, petugas juga menemukan setengah gelas kopi susu yang sebelumnya diminum korban.
"Berdasarkan hasil olah TKP, korban ditemukan dalam posisi terlentang dengan mulut mengeluarkan air liur dan darah. Di lokasi juga ditemukan setengah gelas kopi susu yang sebelumnya diminum korban," jelasnya.
Korban kemudian dievakuasi ke RSUD dr. Iskak Tulungagung untuk menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan luar, petugas medis tidak menemukan adanya luka maupun tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
"Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya unsur kekerasan. Pihak keluarga juga menyampaikan bahwa korban memiliki riwayat penyakit dan menerima kejadian ini sebagai musibah," terang Retno.
Informasi yang diperoleh polisi dari pihak keluarga menyebutkan, sebelum kejadian korban sempat makan siang di rumah sekitar pukul 12.30 WIB. Setelah itu, korban berpamitan keluar rumah seorang diri menuju warung kopi.
Tidak lama berselang, seorang saksi yang baru pulang sekolah melihat korban telah terjatuh di dekat meja warung dalam kondisi kejang-kejang dan mengeluarkan air liur. Mengetahui kejadian tersebut, saksi segera meminta bantuan kepada pemilik warung dan warga sekitar. Selanjutnya warga menghubungi kepolisian, petugas Puskesmas Boyolangu, serta keluarga korban.
Selain itu, keluarga juga menyampaikan bahwa korban memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi. Dalam sepekan terakhir, korban disebut sering mengikuti kegiatan pentas wayang sehingga diduga mengalami kurang waktu beristirahat. Keterangan tersebut turut menjadi bahan yang dicatat petugas dalam proses penyelidikan.
Setelah menerima penjelasan mengenai hasil pemeriksaan medis dan kepolisian, pihak keluarga menyatakan menerima kejadian tersebut dengan ikhlas sebagai musibah. Keluarga juga membuat surat pernyataan penolakan autopsi. Dengan demikian, jenazah korban kemudian diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
Polisi memastikan penanganan perkara telah dilakukan sesuai prosedur. Berdasarkan hasil olah TKP, pemeriksaan medis, serta keterangan keluarga, tidak ditemukan adanya indikasi tindak kekerasan dalam peristiwa tersebut.
Editor : Rahiiq Al Bachri