Angin Kencang Masih Dominasi Bencana di Tulungagung, Capai 28 dari 32 Kejadian hingga April 2026

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 09:46 WIB
Salah satu rumah warga Tulungagung yang tersapu angin kencang di masa peralihan penghujan ke kemarau.
Salah satu rumah warga Tulungagung yang tersapu angin kencang di masa peralihan penghujan ke kemarau.

 

RADAR TULUNGAGUNG – Musim kemarau bukan berarti ancaman bencana di Tulungagung mereda. Justru, angin kencang masih menjadi jenis bencana yang paling sering terjadi dan perlu diwaspadai masyarakat.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung mencatat, sepanjang Januari hingga April 2026 terjadi 32 kejadian bencana.

Dari jumlah tersebut, 28 kejadian atau hampir 90 persen merupakan angin kencang. Sisanya terdiri atas 1 banjir bandang dan 3 tanah longsor.

Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung Sudarmaji mengatakan, dominasi angin kencang menunjukkan cuaca ekstrem masih menjadi ancaman yang harus diantisipasi, termasuk saat memasuki musim kemarau.

Sebab, embusan angin berkecepatan tinggi masih berpotensi merusak rumah warga maupun menumbangkan pohon.

Baca Juga: Musim Kemarau Picu Krisis Air Bersih di Desa Kalidawe Tulungagung, Debit HIPPAM Menurun, BPBD Salurkan Bantuan

"Selama Januari hingga April 2026 kami mencatat 32 kejadian bencana di Tulungagung. Dari jumlah tersebut 28 kejadian merupakan angin kencang, satu banjir bandang, dan tiga tanah longsor. Artinya, hampir 90 persen kejadian yang kami tangani masih didominasi angin kencang," ujarnya.

Menurutnya, kondisi cuaca pada musim kemarau tetap berpotensi memicu angin kencang, terutama ketika terjadi perubahan cuaca secara tiba-tiba.

Karena itu, masyarakat diminta tidak lengah meski intensitas hujan mulai berkurang. BPBD mencatat seluruh kejadian bencana selama empat bulan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Kerusakan yang terjadi umumnya berupa atap rumah rusak, pohon tumbang, serta gangguan pada sejumlah fasilitas umum yang dapat segera ditangani bersama pemerintah daerah dan unsur terkait.

"Walaupun jumlah kejadian cukup tinggi, kami bersyukur seluruh bencana tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap mitigasi mulai meningkat dan penanganan di lapangan dapat dilakukan lebih cepat," jelasnya.

Baca Juga: Fenomena Bediding Mulai Terasa di Tulungagung, Suhu Malam hingga Pagi Turun saat Musim Kemarau Bikin Warga Dingin

Data tersebut menjadi bahan evaluasi BPBD untuk memperkuat mitigasi bencana hidrometeorologi.

Edukasi kepada masyarakat akan terus ditingkatkan, termasuk melalui koordinasi dengan pemerintah desa, relawan kebencanaan, dan instansi terkait agar respons penanganan semakin cepat ketika bencana terjadi.

BPBD juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang selama musim kemarau.

Warga diminta rutin memeriksa kondisi atap rumah, memangkas ranting atau pohon yang berpotensi tumbang, serta menghindari berteduh di bawah pohon besar ketika angin bertiup kencang. 

"Data ini menjadi bahan evaluasi kami untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang diperkirakan masih berpotensi terjadi," pungkasnya. (bac/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
angin kencang kemarau banjir bandang tanah longsor bencana