Embung Bantengan Tulungagung Kian Dangkal, Sedimentasi dan Musim Kemarau Bikin Daya Tampung Air Terus Menurun

Dharaka R. Perdana • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 10:35 WIB
Kondisi debit air di embung Desa Bantengan, Kecamatan Bandung, Tulungagung, yang makin menyusut saat kemarau tiba. Selain itu juga dipicu pendangkalan akibat sedimentasi menumpuk.(DR PERDANA/RATU)
Kondisi debit air di embung Desa Bantengan, Kecamatan Bandung, Tulungagung, yang makin menyusut saat kemarau tiba. Selain itu juga dipicu pendangkalan akibat sedimentasi menumpuk.(DR PERDANA/RATU)

 

RADAR TULUNGAGUNG – Kondisi Embung Desa Bantengan, Kecamatan Bandung, Tulungagung, kembali memprihatinkan. Memasuki musim kemarau, debit air di embung terus menyusut.

Di saat bersamaan, endapan sedimentasi yang semakin tebal membuat daya tampung air terus berkurang sehingga fungsi embung tidak lagi optimal.

Kepala Desa Bantengan, Asrofi mengatakan, penyusutan volume air memang menjadi kondisi yang hampir selalu terjadi setiap musim kemarau.

Namun, persoalan utama bukan hanya berkurangnya pasokan air, melainkan sedimentasi yang terus menumpuk dari tahun ke tahun.

“Saat ini debit air di embung memang menyusut,” katanya, kemarin (26/7).

Menurut dia, dasar embung dipenuhi lumpur sehingga kedalaman kolam semakin berkurang. Kondisi tersebut membuat embung yang berada di kawasan pegunungan itu lebih cepat mengalami penyusutan air dibanding saat masih memiliki kedalaman ideal.

Baca Juga: Dulu Hanya untuk Pengairan Sawah, Embung Sidomulyo di Pagerwojo Tulungagung Kini Ramai Jadi Tempat Mancing Favorit

“Karakteristik embung di wilayah pegunungan memang seperti ini. Saat kemarau, debit air turun, sementara sedimentasi terus bertambah sehingga lumpur semakin banyak mengendap,” imbuhnya.

Menurut dia, normalisasi sebenarnya pernah dilakukan sekitar dua tahun lalu dengan mengeruk endapan lumpur. Namun, upaya tersebut belum mampu memberikan dampak jangka panjang karena sedimentasi kembali terjadi.

“Hingga sekarang kondisinya belum banyak berubah. Lumpur kembali menumpuk sehingga kapasitas tampung air terus berkurang,” katanya.

Padahal, beberapa tahun lalu embung tersebut sempat menjadi salah satu lokasi favorit warga untuk memancing. Untuk mendukung rencana tersebut, pemerintah desa sempat beberapa kali menebarkan benih ikan agar aktivitas memancing semakin ramai.

Sayangnya, program tersebut akhirnya dihentikan karena dinilai tidak memberikan hasil yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Baca Juga: Banjir Berulang di Desa Ngentrong Campurdarat Tulungagung, Warga Desak Pembangunan Embung dan Cekdam

“Dulu sempat ramai pemancing. Kami juga pernah menebar ikan karena ingin mengembangkan embung sebagai wisata alternatif desa. Tetapi akhirnya berhenti karena merugi,” jelasnya.

Asrofi berharap pemerintah kembali memberikan perhatian terhadap kondisi embung tersebut melalui program normalisasi.

Pengerukan sedimentasi dinilai menjadi langkah paling mendesak agar kapasitas tampung air kembali meningkat dan embung dapat berfungsi optimal, baik sebagai penampung air maupun ruang aktivitas masyarakat.

“Kami berharap ada normalisasi lagi, terutama pengerukan sedimentasi. Kalau kedalamannya kembali normal, fungsi embung bisa optimal lagi dan berpotensi dimanfaatkan masyarakat seperti dulu,” pungkasnya. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
sedimentasi kemarau embung bandung