RADAR TULUNGAGUNG – Ratusan warga di Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, mengalami gangguan kesehatan diduga setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Pakisrejo pada Senin (27/7) lalu.
Kasus munculnya gejala kesehatan tersebut baru diketahui Satuan Tugas (Satgas) MBG Tulungagung pada Rabu (29/7).
Karena kejadian tersebut, SPPG Pakisrejo ditutup sementara.
Ketua Satgas MBG Tulungagung Johannes Bagoes Kuncoro membenarkan adanya kejadian tersebut.
Menurut dia, setelah informasi diterima, tim satgas yang terdiri atas sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) langsung melakukan mitigasi di lokasi.
Baca Juga: 8 Dapur SPPG Tulungagung Diusulkan Suspend Permanen, Satgas MBG Masih Tunggu Konfirmasi BGN Pusat
“Benar. Tim satgas dari beberapa dinas melakukan mitigasi di lokasi. Tim satgas konsentrasi pada penanganan korban bekerja bersama dengan puskesmas,” ujarnya.
Bagoes mengakui laporan kejadian tersebut baru diterima Satgas MBG pada Rabu.
Menurut dia, sebelumnya tidak ada laporan yang masuk melalui grup komunikasi Badan Gizi Nasional (BGN).
“Karena tidak ada laporan di grup BGN,” imbuhnya.
Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, dr Aris Setiawan, mengatakan menerima informasi mengenai kasus tersebut pada Rabu siang setelah jam istirahat.
Setelah memperoleh laporan dari kepala puskesmas, dinkes langsung menerjunkan tim ke lokasi.
Tim tersebut melibatkan petugas surveilans serta tenaga kesehatan lain untuk melakukan pemantauan sesuai tugas masing-masing.
“Begitu mendapatkan laporan, kami langsung ke lokasi bersama tim dari dinkes. Kami tidak bisa sendiri. Ada teman-teman surveilans dan teman-teman lain yang ikut melakukan pemantauan,” terangnya.
Pengecekan tidak hanya dilakukan di sekolah-sekolah, tetapi juga diarahkan ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyiapkan makanan MBG tersebut yaitu SPPG Pakisrejo.
Dia juga merinci menu MBG hari Senin yang diduga menyebabkan gangguan kesehatan tersebut, terdiri dari nasi putih, oseng daging, orek tempe dan kacang, krupuk udang, dan buah jeruk.
Dari hasil pendataan sementara yang diterima dinkes hingga Kamis (30/7) malam, terdapat 103 orang yang dilaporkan mengalami gejala.
Data tersebut merupakan gabungan penerima manfaat dan kelompok lainnya.
Aris merinci, di antara data yang diterima terdapat 15 balita, 5 ibu menyusui, 6 guru, dan 7 siswa.
Dinkes masih melakukan pendataan serta pemantauan terhadap kondisi masyarakat yang mengalami gejala.
“Data yang kami dapat sementara total 103 yang bergejala, itu gabungan, mulai dari siswa, ibu hamil, balita, dan lainnya,” ujarnya.
Untuk memastikan penyebab munculnya gejala tersebut, dinkes melakukan pengambilan sejumlah sampel.
Sampel makanan dari dapur SPPG telah diambil dan dikirim ke BBLK (Balai Besar Laboratorium Kesehatan) di Surabaya untuk pemeriksaan.
Selain sampel makanan, petugas juga mengambil sampel air yang selanjutnya akan diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Tulungagung.
Dinkes juga telah berkoordinasi dengan rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan terhadap penjamah makanan.
Pemeriksaan tersebut mencakup pengambilan sampel swab terhadap petugas yang menangani makanan.
“Untuk sampel sudah kita ambil dan dikirim untuk pemeriksaan laboratorium. Sampel air juga sudah diambil. Kami juga sudah bersurat ke rumah sakit untuk pemeriksaan penjamah makanan, termasuk uji swab,” jelas Aris.
Di sisi penanganan korban, dinkes berkoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Puskesmas, pustu, polindes maupun pos kesehatan di wilayah penerima manfaat diminta bersiap memberikan pelayanan apabila ada masyarakat yang mengalami keluhan.
Masyarakat yang mengalami gejala diarahkan mendapatkan pemeriksaan melalui fasilitas kesehatan terdekat.
Hingga kini, penyebab pasti munculnya gejala belum dapat dipastikan.
Dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari sampel makanan, air, maupun pemeriksaan terkait penjamah makanan.
Aris menyebut hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan tidak dapat diketahui dalam waktu singkat.
Karena itu, dinkes masih melakukan pemantauan terhadap kondisi korban sekaligus menunggu hasil uji laboratorium sebagai dasar untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri