TULUNGAGUNG - Ketoprak Siswa Budoyo Tulungagung memiliki sejarah panjang dalam perjalanan kesenian tradisional Jawa Timur. Berdiri sejak 1956, kelompok ini pernah berjaya hingga akhirnya meredup pada era 1990-an akibat perubahan zaman dan minimnya regenerasi.
Ketoprak Siswa Budoyo Tulungagung bukan sekadar kelompok seni pertunjukan. Bagi para penerusnya, kesenian ini menjadi bagian dari kehidupan sekaligus warisan budaya yang harus dipertahankan.
Perjalanan Siswa Budoyo bermula pada 1956. Saat itu bentuk keseniannya belum berupa ketoprak, melainkan wayang orang. Baru pada 19 Juni 1958, Siswa Budoyo mulai menggunakan format ketoprak dan tampil dari desa ke desa.
Berawal dari Empat Tokoh
Siswa Budoyo diinisiasi empat tokoh, yakni Siswondo Harjoswo, Roslan, Kustifar, dan Mulyani. Nama Siswa Budoyo memiliki makna sebagai kelompok yang menjadi “siswa” atau cantrik dalam melestarikan budaya.
Pementasan perdana ketoprak dilakukan di Desa Kiping. Setelah itu, kelompok tersebut berkeliling ke berbagai desa di Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung.
Pada 1960, Siswa Budoyo mulai berani tampil di luar daerah. Kota Blitar menjadi salah satu tujuan awal karena saat itu dikenal sebagai salah satu kota budaya.
Sistem pertunjukan keliling dilakukan dengan konsep tobong. Panggung dan perlengkapan pertunjukan didirikan di sebuah daerah, kemudian dibongkar setelah pementasan selesai untuk dibawa ke lokasi berikutnya.
Baca Juga: Inilah Sosok Pendiri Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, Dia Sampai Minta Ganti Nama ke Orang Tuanya
Perjalanan Siswa Budoyo semakin berkembang ketika mendapat undangan tampil di Yogyakarta pada 1965. Karena Yogyakarta dikenal sebagai tempat lahirnya ketoprak, Siswa Budoyo kemudian menggunakan nama “Ketoprak Gaya Baru Siswa Budoyo”.
Nama tersebut menjadi pembeda dengan ketoprak gaya Mataraman yang berkembang di Yogyakarta. Siswa Budoyo membawa karakter ketoprak pesisiran khas Jawa Timur dengan pembaruan pada panggung, penyutradaraan, hingga efek pertunjukan.
Pernah Memiliki Ratusan Anggota
Masa kejayaan Siswa Budoyo terlihat dari jumlah anggotanya. Dalam satu periode, kelompok ini disebut pernah memiliki sekitar 100 hingga 110 anggota, bahkan jumlah keseluruhan anggota sempat mencapai sekitar 215 orang.
Baca Juga: Inilah Sosok Pendiri Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, Dia Sampai Minta Ganti Nama ke Orang Tuanya
Ukuran tobong yang digunakan juga tidak kecil. Area keseluruhan bersama pagar dan tempat tinggal anggota memiliki panjang sekitar 50 meter dan lebar sekitar 25 meter.
Sementara itu, panggung pertunjukan memiliki panjang sekitar 18 meter dengan bagian tengah atau area utama sekitar 11 meter. Besarnya panggung tersebut menyesuaikan cerita yang dimainkan.
Siswa Budoyo juga berupaya memperhatikan kehidupan para anggotanya. Kelompok ini membentuk yayasan untuk mendukung kesejahteraan, termasuk bantuan kesehatan, kebutuhan ibu hamil, hingga biaya pendidikan anak anggota sampai jenjang sekolah menengah atas.
Bahkan, Siswa Budoyo memiliki taman kanak-kanak. Anak-anak anggota yang masih kecil dapat bersekolah sekaligus mengikuti kehidupan kelompok saat berpindah-pindah lokasi pertunjukan.
Baca Juga: Bukan di Kalangbret, Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung Justru Dibentuk di Desa Ini
Meredup Setelah 1990-an
Popularitas Siswa Budoyo mulai menurun pada era 1990-an. Masuknya video, VCD, dan hiburan modern menjadi tantangan berat bagi pertunjukan teater tradisional.
Kondisi tersebut semakin berat setelah meninggalnya Siswondo Harjoswo pada 1997. Siswa Budoyo sempat mengalami masa sulit hingga harus berpindah-pindah lokasi dan kehilangan banyak penonton.
Namun, kecintaan terhadap ketoprak membuat sejumlah penerus tidak menyerah. Salah satunya memilih kembali ke Tulungagung dan berusaha mempertahankan Siswa Budoyo sebagai bagian dari kehidupannya.
Baca Juga: Ketoprak Siswo Budoyo: Kisah Maestro Kiswondo HS yang Mengangkat Seni Tradisional hingga Mendunia
Upaya pelestarian dilakukan dengan mengajarkan ketoprak di sekolah tingkat SMP dan SMA. Regenerasi juga mulai dibangun dengan melibatkan generasi muda dalam latihan dan pementasan.
Sejak 2017, pendampingan terhadap Ketoprak Siswa Budoyo semakin diarahkan untuk menghidupkan kembali panggung pertunjukan. Upaya tersebut mencakup perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.
Ketoprak Siswa Budoyo kini dipandang bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga tontonan sekaligus tuntunan. Kesenian tersebut menjadi sarana edukasi, hiburan, sekaligus sumber penghidupan bagi pemain, pengrawit, dan kru.
Baca Juga: Inilah Sosok Pendiri Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, Dia Sampai Minta Ganti Nama ke Orang Tuanya
Di tengah semakin sedikitnya seniman tradisional, regenerasi menjadi tantangan utama. Karena itu, membuka ruang bagi anggota baru menjadi salah satu jalan agar Ketoprak Siswa Budoyo Tulungagung tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan tetap hidup di tengah masyarakat.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur