TULUNGAGUNG - Ketoprak Siswa Budoyo kembali menghadirkan kisah Joko Tingkir dalam pementasan yang memadukan cerita kerajaan, percintaan, konflik kekuasaan, hingga pertarungan. Lakon ini membawa penonton menyusuri perjalanan Karebet atau Joko Tingkir menuju Demak Bintara.
Ketoprak Siswa Budoyo menampilkan cerita dengan latar kehidupan Joko Tingkir yang harus meninggalkan Desa Tingkir dan menuju Demak Bintara. Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari kisah yang disajikan melalui dialog berbahasa Jawa, musik tradisional, humor, dan adegan peperangan.
Cerita diawali pertemuan Karebet dengan Sunan Kalijaga. Dalam pertemuan tersebut, Karebet mendapat pesan agar meninggalkan Tingkir dan pergi ke Demak Bintara. Ia juga menerima pusaka berupa keris Kyai Sengkelat sebagai bekal dalam perjalanan.
Joko Tingkir Menuju Demak Bintara
Karebet kemudian berangkat menuju Demak dengan ditemani pamannya. Sebelum perjalanan dimulai, sang paman mengingatkan Karebet agar menjaga sikap dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan baru di lingkungan kerajaan.
Sesampainya di Demak Bintara, Karebet berhadapan dengan lingkungan istana dan para tokoh penting. Ia kemudian mendapat tugas serta arahan dari Tumenggung Probo Semi.
Karebet digambarkan sebagai sosok yang memiliki keberanian, tetapi juga harus belajar mengendalikan diri. Dalam salah satu adegan, ia terlibat percakapan mengenai kemampuan melompat yang kemudian berkembang menjadi candaan khas pertunjukan ketoprak.
Karebet juga mulai mengenal kehidupan di lingkungan kerajaan. Salah satu bagian cerita mempertemukannya dengan Putri Sekar Kedaton yang bekerja dan beraktivitas di lingkungan Tamansari.
Baca Juga: Inilah Sosok Pendiri Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, Dia Sampai Minta Ganti Nama ke Orang Tuanya
Pertemuan tersebut kemudian berkembang menjadi kisah asmara. Karebet dan Sekar Kedaton saling menyimpan perasaan, meski hubungan keduanya terbentur status sosial dan posisi di lingkungan kerajaan.
Kisah Cinta Berujung Konflik
Hubungan Karebet dengan Sekar Kedaton tidak berjalan mudah. Perasaan tersebut diketahui pihak lain dan memunculkan persoalan di lingkungan kerajaan.
Karebet menyadari bahwa dirinya hanyalah pemuda dari Tingkir, sedangkan Sekar Kedaton merupakan putri kerajaan. Perbedaan kedudukan tersebut membuat hubungan mereka menjadi semakin rumit.
Konflik kemudian berkembang ketika Karebet mendapatkan hukuman dan harus meninggalkan Demak. Ia bahkan kembali diarahkan untuk pulang ke Tingkir setelah dianggap melakukan kesalahan.
Baca Juga: Bambang Wijanarko, Seniman Teater dan Ketoprak (2 Habis)
Di sisi lain, kisah juga menghadirkan Sunan Kalijaga yang berhadapan dengan Sambiroto. Adegan tersebut menjadi bagian penting karena memperlihatkan upaya mengingatkan manusia agar tidak menggunakan kekerasan dan merampok demi memenuhi kebutuhan hidup.
Sunan Kalijaga kemudian mengajarkan nilai-nilai agama kepada Sambiroto. Ia mengajak tokoh tersebut mengenal Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum menjalankan kewajiban salat.
Sayembara Menentukan Senopati
Konflik utama semakin memuncak ketika muncul persoalan mengenai Sekar Kedaton dan posisi Karebet. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, muncul gagasan mengadakan sayembara untuk memilih Senopati Demak Bintara.
Sayembara itu menjadi arena pertarungan. Peserta yang menang akan memperoleh ganjaran dan kesempatan mendapatkan Sekar Kedaton.
Pementasan kemudian menampilkan adegan perkelahian dan peperangan dengan iringan musik serta tepuk tangan penonton. Konflik tidak hanya menyangkut asmara, tetapi juga harga diri, kekuasaan, dan masa depan kerajaan.
Pada bagian akhir, kemenangan dalam sayembara membawa perubahan besar bagi Karebet. Ia mendapat perhatian dari lingkungan kerajaan dan berpeluang memperoleh kedudukan lebih tinggi.
Baca Juga: Inilah Sosok Pendiri Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, Dia Sampai Minta Ganti Nama ke Orang Tuanya
Melalui lakon Joko Tingkir tersebut, Ketoprak Siswa Budoyo tidak sekadar menawarkan hiburan. Dialog, humor, musik, kisah asmara, dan konflik kerajaan dirangkai menjadi pertunjukan yang juga menyampaikan nilai tentang keberanian, tanggung jawab, agama, serta pentingnya menjaga perilaku.
Pementasan ini sekaligus menunjukkan bagaimana ketoprak tradisional tetap memiliki ruang untuk menyampaikan cerita sejarah dan budaya Jawa kepada masyarakat melalui seni pertunjukan yang komunikatif dan menghibur.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Kesenian Indonesia