Ketoprak Siswa Budoyo Sajikan Perang Sengit, Tembang Jawa hingga Pesan Pelestarian Budaya

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 20:25 WIB
Ketoprak Siswa Budoyo tampil dengan adegan perang sengit, tembang Jawa, humor, dan pesan pelestarian budaya yang menarik untuk disimak. (Youtube. com)
Ketoprak Siswa Budoyo tampil dengan adegan perang sengit, tembang Jawa, humor, dan pesan pelestarian budaya yang menarik untuk disimak. (Youtube. com)

TRENGGALEK - Ketoprak Siswa Budoyo tampil dengan pertunjukan penuh energi melalui adegan peperangan, tembang Jawa, humor, dan dialog khas bahasa Jawa. Pementasan tersebut menghadirkan suasana palagan yang riuh sekaligus menyelipkan pesan tentang pentingnya menjaga budaya tradisional.

Ketoprak Siswa Budoyo dalam pertunjukan ini tidak hanya mengandalkan cerita dan dialog. Panggung dipenuhi teriakan para pemain, gerakan perkelahian, musik pengiring, serta tembang Jawa yang membuat suasana pementasan semakin hidup.

Sejak awal, penonton disuguhi adegan yang menggambarkan bentrokan antartokoh. Seruan seperti “maju” dan “aja mundur” berulang terdengar ketika para pemain memasuki arena. Situasi tersebut membuat pertunjukan terasa dinamis dan sarat aksi.

Baca Juga: Ketoprak Siswo Budoyo dari Tulungagung Pernah Rajai Panggung Jawa, Begini Kisah Kiswondo HS Membangun Legenda Seni Tradisional

Adegan Palagan Jadi Pusat Perhatian

Bagian peperangan menjadi salah satu daya tarik utama. Para pemain digambarkan saling berhadapan dan menantang lawan. Dialog yang disampaikan dengan gaya khas ketoprak membuat adegan serius tetap diselingi humor.

Salah satu bagian menampilkan seruan “bala sewu ora bakal mundur”. Kalimat tersebut menggambarkan keberanian pasukan yang terus maju menghadapi lawan.

Pertarungan kemudian semakin ramai. Pemain saling mengejar, berteriak, dan memberikan tantangan. Beberapa dialog bahkan dibuat jenaka sehingga ketegangan dalam adegan perang tidak berlangsung monoton.

Baca Juga: Ketoprak Tulungagung Harus Dihidupkan Kembali untuk Membangkitkan Seniman yang Mati Suri lewat Lakon Gayatri Rajapadni–Gajah Mada Sumpah Palapa

Karakter pemain juga dibangun melalui bahasa Jawa yang lugas dan ekspresif. Teriakan, tangisan, tawa, hingga musik pengiring menjadi bagian dari dramaturgi pertunjukan.

Pementasan seperti ini memperlihatkan karakter ketoprak sebagai seni pertunjukan yang menggabungkan cerita, akting, musik, tembang, dan unsur komedi dalam satu panggung.

Tembang Jawa Memperkaya Pementasan

Selain adegan perang, Ketoprak Siswa Budoyo juga menampilkan tembang Jawa. Salah satunya mengangkat gambaran kehidupan masyarakat dan suasana alam melalui syair mengenai bunga serta tanaman kopi.

Baca Juga: Peringati Hardiknas dengan Pagelaran Ketoprak, Bupati Tulungagung

Tembang tersebut menggambarkan bunga kopi, daun yang hijau, serta suasana ayem tentrem. Ada pula bagian yang menyebut masa panen kopi yang biasanya berlangsung setahun sekali.

Kehadiran tembang menjadi penyeimbang setelah penonton menyaksikan rangkaian adegan pertarungan. Suasana panggung berubah dari riuh menjadi lebih musikal dan menggambarkan kehidupan masyarakat.

Di bagian lain, muncul pula tembang yang menyebut aktivitas budaya dan karawitan. Pesan yang disampaikan mengarah pada ajakan untuk terus bergerak dan menjaga kegiatan seni budaya.

Baca Juga: Ketoprak Siswo Budoyo: Kisah Maestro Kiswondo HS yang Mengangkat Seni Tradisional hingga Mendunia

Hal tersebut memperlihatkan bahwa pertunjukan ketoprak bukan semata-mata menghadirkan cerita untuk hiburan. Musik tradisional dan tembang menjadi unsur penting untuk memperkuat suasana sekaligus menjaga warisan seni Jawa.

Hiburan Sekaligus Pelestarian Budaya

Unsur budaya semakin terlihat melalui penggunaan bahasa Jawa sepanjang pementasan. Dialog antartokoh menggunakan gaya percakapan sehari-hari, sementara tembang menghadirkan nuansa tradisional yang kuat.

Pementasan juga memperlihatkan bagaimana humor ditempatkan di tengah cerita. Beberapa tokoh saling mengejek dan melontarkan candaan, termasuk ketika berhadapan dengan karakter yang digambarkan sebagai lawan tangguh.

Baca Juga: Bukan di Kalangbret, Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung Justru Dibentuk di Desa Ini

Perpaduan tersebut membuat ketoprak memiliki karakter yang khas. Penonton dapat mengikuti konflik, menikmati kelucuan pemain, sekaligus mendengarkan musik dan tembang tradisional.

Di tengah perkembangan hiburan modern, keberadaan pementasan ketoprak menjadi bagian dari upaya mempertahankan kesenian tradisional. Pertunjukan seperti ini memberi ruang bagi bahasa Jawa, karawitan, tembang, dan seni peran tradisional untuk terus hadir di hadapan masyarakat.

Melalui adegan perang yang atraktif hingga tembang bernuansa budaya, Ketoprak Siswa Budoyo menunjukkan bahwa kesenian tradisional tetap bisa dikemas menarik. Bukan hanya tontonan, pementasan tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan kembali seni budaya Jawa kepada generasi berikutnya.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : Sokor Nyang Channel
Ketoprak Siswa Budoyo tembang Jawa karawitan ketoprak budaya jawa