TULUNGAGUNG - Stasiun Tulungagung ternyata tetap ramai meski malam hari. Pengalaman perjalanan dari Tulungagung menuju Malang menggunakan kereta ekonomi menunjukkan suasana stasiun tidak sesepi yang dibayangkan.
Stasiun Tulungagung menjadi titik awal perjalanan malam menuju Malang. Penumpang yang baru pertama kali melakukan perjalanan malam mengaku sempat membayangkan suasana stasiun bakal gelap, sepi, bahkan terasa menyeramkan.
Namun, anggapan tersebut ternyata tidak terbukti. Stasiun Tulungagung pada malam hari masih terlihat terang dan cukup ramai oleh calon penumpang yang menunggu keberangkatan kereta.
Perjalanan tersebut dilakukan menggunakan kereta ekonomi Dhoho/Penataran. Penumpang berangkat sekitar pukul 19.49 dan memilih datang lebih awal agar tidak terburu-buru ketika proses keberangkatan dimulai.
Datang Lebih Awal, Sempat Menunggu Lama
Saat tiba di stasiun, waktu masih sekitar pukul 18.54. Artinya, masih terdapat waktu hampir satu jam sebelum kereta yang dituju berangkat.
Waktu menunggu kemudian digunakan untuk melakukan pengecekan tiket dan menyiapkan kartu identitas. Penumpang juga sempat berkeliling melihat fasilitas yang tersedia di kawasan stasiun.
Datang lebih awal memang membuat waktu tunggu terasa cukup lama. Namun, hal tersebut dianggap lebih baik dibandingkan datang terlambat dan harus terburu-buru mencari peron atau gerbong.
Suasana Stasiun Tulungagung juga mulai semakin ramai menjelang waktu keberangkatan. Beberapa calon penumpang terlihat berada di area peron untuk menunggu kereta masing-masing.
Ada Kereta Majapahit dan Kereta Ekspedisi
Sembari menunggu, penumpang melihat aktivitas kereta lain yang masuk ke stasiun. Salah satunya kereta ekspedisi yang membawa barang-barang dalam sejumlah kardus.
Tak lama kemudian, aktivitas di peron semakin menarik karena ada kereta Majapahit. Kereta tersebut memiliki kelas berbeda dengan kereta ekonomi yang hendak digunakan menuju Malang.
Posisi kereta juga membuat penumpang harus berpindah tempat menunggu. Kereta Majapahit berada di jalur pertama, sedangkan kereta yang menuju Malang akan datang melalui jalur kedua.
Perpindahan posisi tersebut dilakukan agar calon penumpang tidak terhalang ketika kereta Majapahit berada di jalur sebelah. Petugas kemudian mengarahkan penumpang untuk menunggu di peron yang sesuai.
Fasilitas Stasiun Cukup Lengkap
Meski bukan stasiun besar, sejumlah fasilitas di Stasiun Tulungagung dinilai cukup memadai. Penumpang bisa menemukan toilet, musala, tempat duduk prioritas, area merokok, hingga koperasi yang menjual makanan ringan.
Toilet pria dan wanita juga tersedia di kawasan stasiun. Kondisi toilet yang digunakan dalam perjalanan tersebut disebut bersih dan cukup nyaman.
Ada pula Koperasi Bangkit yang menjual berbagai makanan dan camilan. Harga makanan dinilai masih terjangkau dan tidak mengalami kenaikan berlebihan seperti yang terkadang ditemui di lokasi wisata.
Baca Juga: Stasiun Kediri Tak Hanya Melayani Penumpang di Era Kolonial, Ternyata Langganan Pabrik Gula Berikut
Bagi penumpang yang membutuhkan tempat untuk menunggu, fasilitas tersebut cukup membantu. Area merokok juga tersedia sehingga penumpang dapat menggunakannya sesuai lokasi yang telah disediakan.
Naik Kereta Malam Ternyata Lebih Lengang
Kereta ekonomi yang ditunggu akhirnya tiba. Penumpang kemudian harus berjalan cukup jauh menuju gerbong yang sesuai karena posisi gerbong berada di bagian belakang rangkaian.
Setelah masuk, kondisi kereta malam ternyata cukup lengang. Kursi yang tersedia tidak terlalu penuh sehingga penumpang bisa duduk lebih leluasa.
Baca Juga: Daftar 9 Stasiun Kereta Api Aktif di Wilayah Malang Raya, Mana yang Paling Sering Kamu Singgahi?
Kondisi tersebut menjadi salah satu pengalaman menarik perjalanan malam dari Tulungagung menuju Malang. Ruang yang lebih longgar memungkinkan penumpang meluruskan kaki dan menikmati perjalanan dengan lebih santai.
Namun, perjalanan malam juga memiliki kekurangan. Karena kondisi di luar gelap, penumpang tidak dapat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.
Untuk mengisi waktu, penumpang memilih mendengarkan musik, membaca buku, hingga bersantai di kursi. Rasa bosan tetap muncul karena perjalanan malam minim pemandangan yang bisa dilihat.
Kereta juga sempat berhenti cukup lama di Stasiun Blitar. Setelah perjalanan dilanjutkan, suasana di dalam kereta masih relatif lengang.
Perjalanan akhirnya tiba di Malang. Meski lupa merekam momen ketika turun dari kereta, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa perjalanan malam dari Stasiun Tulungagung menuju Malang bisa menjadi pilihan yang cukup nyaman bagi penumpang yang menyukai suasana lebih tenang.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : MOUZIDAN