TULUNGAGUNG - JPL 29 Tulungagung di Jalan Wahid Hasyim, Kenayan, menjadi salah satu titik menarik untuk melihat lalu lintas kereta api. Lokasinya berada tepat di samping Stasiun Tulungagung, Jawa Timur.
JPL 29 Tulungagung digunakan sebagai lokasi berburu atau hunting kereta api. Sejumlah perjalanan kereta terlihat melintas di perlintasan tersebut, mulai Gajayana, Dhoho, hingga Matarmaja.
Aktivitas di JPL 29 Tulungagung juga memperlihatkan bagaimana sistem pengamanan perlintasan kereta api bekerja. Palang pintu akan ditutup sebelum kereta melintas untuk memastikan perjalanan berlangsung aman.
Model Perlintasan dengan Empat Palang
JPL 29 disebut menggunakan model perlintasan yang umum ditemukan di Indonesia. Pada perlintasan tersebut terdapat sepasang lampu flasher yang menjadi tanda adanya satu jalur atau sepur kereta.
Selain lampu kedip, perlintasan juga dilengkapi rambu dan palang pintu. Palang portal di lokasi tersebut menggunakan formasi empat palang pintu yang menutup akses kendaraan dan pengguna jalan.
Ketika kereta akan melintas, lampu peringatan mulai berkedip. Palang kemudian bergerak menutup hingga akses kendaraan benar-benar terhalang.
Setelah palang tertutup, kondisi perlintasan dipastikan aman sebelum kereta melintas. Sistem tersebut menjadi bagian penting dalam mengamankan pengguna jalan yang hendak melewati perlintasan sebidang.
Gajayana dan Dhoho Melintas
Salah satu kereta yang terlihat melintas adalah Kereta Api Gajayana tambahan. Dalam rekaman, kereta tersebut disebut melakukan perjalanan menuju Malang dari Gambir.
Setelah itu, perjalanan kereta api lainnya juga menjadi objek pengamatan. Kereta Api Dhoho terlihat melintas dengan tujuan Kertosono.
Setiap kereta yang mendekati perlintasan membuat palang pintu kembali ditutup. Lampu flasher di kedua sisi juga terlihat berkedip sebagai peringatan bagi pengendara yang berada di sekitar JPL 29.
Aktivitas tersebut membuat lokasi di sekitar Stasiun Tulungagung cukup menarik bagi penggemar kereta api. Dalam satu sesi pengamatan, beberapa perjalanan kereta dapat terlihat dalam rentang waktu yang berbeda.
Baca Juga: Stasiun Bendo Saksi Sejarah Transportasi Masal di Blitar Tinggal Cerita, Begini Kisahnya
Kuripan dan Matarmaja Bersilang
Tidak hanya Gajayana dan Dhoho, Kereta Api Kahuripan juga menjadi bagian dari pengamatan. Kereta tersebut disebut sedang melakukan perjalanan dari Bandung menuju Blitar.
Momen menarik terjadi ketika KA Kahuripan dan KA Matarmaja berada di sekitar Stasiun Tulungagung. Kedua kereta memiliki arah perjalanan berbeda dan disebut masuk ke stasiun untuk bersilang.
KA Kahuripan bergerak menuju Blitar, sedangkan KA Matarmaja melanjutkan perjalanan ke arah Pasar Senen. Aktivitas persilangan kereta menjadi salah satu momen yang dinantikan dalam kegiatan hunting kereta api.
Setelah KA Matarmaja masuk Stasiun Tulungagung, pengamatan dilanjutkan untuk melihat keberangkatannya. Palang pintu di JPL 29 Tulungagung kembali ditutup ketika kereta bersiap melintas.
Matarmaja Berangkat ke Pasar Senen
KA Matarmaja kemudian bersiap meninggalkan Stasiun Tulungagung. Kereta tersebut melintas di depan JPL 29 dengan tujuan akhir Pasar Senen.
Momen keberangkatan tersebut sekaligus menjadi penutup aktivitas berburu kereta di lokasi. Pengamatan dari sisi perlintasan memberikan gambaran mengenai kesibukan jalur kereta api di sekitar Stasiun Tulungagung.
Baca Juga: Yuk Kenalan dengan 4 Stasiun Kereta Api di Madiun Raya, Nomor 2 dan 4 Hanya untuk Persilangan
Bagi penggemar kereta api, keberadaan JPL 29 Tulungagung menjadi lokasi yang menarik karena letaknya berdekatan dengan stasiun. Berbagai kereta dengan rute berbeda dapat diamati dari titik tersebut.
Namun, aktivitas pengamatan tetap perlu dilakukan dengan mengutamakan keselamatan. Pengguna jalan harus mematuhi palang dan sinyal perlintasan serta tidak memaksakan diri melintas ketika tanda peringatan sudah aktif.
Rangkaian perjalanan Gajayana, Dhoho, Kahuripan, hingga Matarmaja memperlihatkan padatnya aktivitas kereta api di kawasan tersebut. JPL 29 pun menjadi saksi lalu lintas kereta yang terus bergerak melayani perjalanan antarkota.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Basman Hardajaya