Pesugihan Monyet Tulungagung, Kisah Mengerikan di Balik Makam Ngunjang

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 19:20 WIB
Pesugihan Monyet Tulungagung menyimpan cerita mistis tentang monyet di makam Ngunjang, ritual kekayaan, tumbal, hingga legenda dua santri. (Youtube. com)
Pesugihan Monyet Tulungagung menyimpan cerita mistis tentang monyet di makam Ngunjang, ritual kekayaan, tumbal, hingga legenda dua santri. (Youtube. com)

TULUNGAGUNG - Pesugihan Monyet Tulungagung menjadi salah satu cerita mistis yang berkembang di kawasan Ngunjang. Ritual mencari kekayaan secara gaib itu dikaitkan dengan keberadaan ratusan hingga ribuan monyet yang disebut hidup di sekitar kompleks pemakaman.

Pesugihan Monyet Tulungagung dikenal masyarakat dengan sebutan pesugihan ketek. Cerita tersebut berkembang di kawasan Ngunjang, wilayah yang berada di sekitar Sungai Brantas. Keberadaan monyet di kompleks pemakaman kemudian dikaitkan dengan berbagai kisah mistis dan ritual pesugihan.

Pesugihan Monyet Tulungagung disebut berbeda dengan cerita babi ngepet. Dalam kisah yang beredar, orang yang menjalani ritual dipercaya memperoleh kekayaan semasa hidup, tetapi harus menanggung konsekuensi setelah meninggal dunia.

Baca Juga: Fakta Sebenarnya Pesugihan Monyet Ngujang Tulungagung, Juru Kunci Bongkar Asal Usul Kera dan Ritual Ngalap Berkah

Monyet di Kompleks Pemakaman Ngunjang

Dalam transkrip video, kawasan yang dikaitkan dengan pesugihan berada di kompleks pemakaman umum. Lokasinya disebut memiliki dua area makam yang saling berhadapan dan dipisahkan jalan raya, yakni pemakaman orang Tionghoa dan pemakaman orang Jawa.

Di kawasan tersebut terdapat banyak monyet. Jumlahnya disebut mencapai ratusan hingga ribuan ekor. Keberadaan hewan itu kemudian dikaitkan dengan makanan yang ditinggalkan keluarga saat berziarah.

Namun, cerita yang berkembang di masyarakat jauh lebih mistis. Monyet-monyet tersebut dipercaya sebagai orang yang pernah menjalani pesugihan atau menjadi tumbal. Mereka disebut akan berubah menjadi monyet setelah meninggal dunia dan menetap di kawasan pemakaman.

Baca Juga: Misteri Legenda Pesugihan Monyet di Tulungagung, Konsekuensi Mengerikan di Balik Ritual Ngujang

Dalam cerita itu, pelaku pesugihan juga diwajibkan membawa tumbal. Tumbal tersebut disebut bisa berasal dari anggota keluarga atau orang terdekat. Setelah ritual dilakukan, pelaku dipercaya akan didatangi monyet putih yang kemudian harus dipelihara layaknya anggota keluarga.

Berawal dari Kisah Dua Santri

Cerita mengenai asal-usul monyet di Ngunjang juga dikaitkan dengan kisah dua santri. Dahulu, kawasan tersebut disebut masih berupa ladang dengan pepohonan rindang, bukan kompleks pemakaman seperti sekarang.

Dua santri dikisahkan bermain dan memanjat pohon hingga lupa mengikuti pengajian di pesantren. Seorang kiai kemudian menegur keduanya karena tidak mengikuti kajian.

Dalam cerita masyarakat, sang kiai menyebut kedua santri tersebut seperti ketek atau kera. Perkataan itu dipercaya menjadi semacam kutukan. Kedua santri kemudian diyakini berubah menjadi monyet dan menjadi awal berkembangnya populasi kera di kawasan tersebut.

Baca Juga: Misteri Pesugihan Kera Ngujang Tulungagung: Kisah Mistis di Balik Makam dan Ratusan Monyet Liar

Cerita itu selanjutnya berkembang menjadi legenda yang dikaitkan dengan pesugihan. Masyarakat juga menghubungkan istilah Ngunjang dengan kawasan yang memiliki sejarah pesantren dan kegiatan menuntut ilmu.

Dipercaya Masih Ada hingga Kini

Dalam kisah yang beredar, pelaku pesugihan harus menemui juru kunci atau kuncen. Mereka disebut menjalani ritual tertentu dan menerima seekor monyet untuk dipelihara.

Pelaku juga dipercaya wajib mengikuti ritual selamatan pada malam 1 Suro serta memberikan sumbangan. Kepercayaan tersebut disebut masih bertahan meski kawasan itu kini juga dikenal sebagai lokasi wisata spiritual.

Baca Juga: Legenda Desa Ngujang Tulungagung: Monyet Keramat, Pesugihan, dan Kearifan Lokal

Menariknya, terdapat pula keterangan kuncen yang membantah sebagian cerita tersebut. Pesugihan di kawasan Ngunjang disebut bukan cara instan untuk memperoleh kekayaan dan tidak menggunakan tumbal.

Kuncen juga menyebut adanya kepercayaan tentang pintu gaib yang menghubungkan dunia manusia dengan alam gaib. Di kawasan tersebut bahkan dipercaya terdapat kerajaan gaib dan sosok-sosok yang dianggap sebagai pemimpin para monyet.

Seluruh kisah tersebut merupakan kepercayaan dan cerita mistis yang berkembang di masyarakat. Keberadaan monyet di kawasan pemakaman tidak otomatis membuktikan bahwa hewan tersebut merupakan jelmaan manusia atau berkaitan dengan pesugihan.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : Kamar JERI
Pesugihan Monyet Tulungagung Ngunjang pesugihan ketek makam Ngunjang mitos monyet Tulungagung