TULUNGAGUNG - Kerupuk rambak Tulungagung menjadi salah satu oleh-oleh khas yang banyak diburu. Di sentra produksi Kelurahan Sembung, Kabupaten Tulungagung, kulit sapi dan kerbau diolah menjadi kerupuk renyah dengan proses panjang.
Kerupuk rambak Tulungagung bukan makanan yang bisa dibuat dalam waktu singkat. Dari kulit sapi atau kerbau hingga siap digoreng, prosesnya membutuhkan waktu paling cepat sekitar 10 hari saat musim kemarau.
Produksi kerupuk rambak Tulungagung bahkan meningkat setelah Idul Adha. Melimpahnya kulit sapi dari hewan kurban membuat bahan baku tersedia dalam jumlah besar. Selain dari Tulungagung, kulit sapi juga didatangkan dari Blitar dan daerah sekitarnya.
Baca Juga: Bisnis Kerupuk Rambak Pasutri Bogor, dari Kaki Lima Kini Produksi 2,5 Ton dan Masuk 12.000 Gerai
Di Kelurahan Sembung sendiri terdapat sekitar 40 tempat usaha yang memproduksi kerupuk rambak. Salah satunya produksi Rambak Intan Jaya milik Waluyo dan Fufa yang menjadi lokasi pengamatan proses pembuatan rambak dari awal hingga siap dikonsumsi.
Kulit Diawetkan dengan Garam
Kulit sapi yang baru datang masih dalam kondisi basah. Agar tidak cepat membusuk dan menimbulkan bau, kulit tersebut terlebih dahulu melalui proses penggaraman.
Penggaraman dilakukan dengan cara mengoleskan garam pada bagian dalam kulit. Proses ini membutuhkan tenaga karena satu lembar kulit sapi cukup berat dan harus ditarik serta dibersihkan secara menyeluruh.
Baca Juga: Kerupuk Rambak Khas Tulungagung Jadi Primadona saat Lebaran Idul Fitri
Pekerja juga menggunakan sarung tangan untuk menghindari iritasi pada tangan. Setelah diawetkan, kulit bisa langsung diproses atau dijemur terlebih dahulu agar lebih tahan lama.
Untuk kulit yang sudah lama disimpan, proses pembersihan bulunya berbeda. Kulit sapi direndam menggunakan kapur selama satu malam agar bulunya lebih mudah dihilangkan.
Sementara itu, kulit kerbau terlebih dahulu dibakar untuk menghilangkan bulu. Proses pembakaran harus dilakukan dengan hati-hati agar kulit tidak gosong. Setelah bersih, kulit kerbau direndam semalaman sebelum dikerok dan dipotong.
Baca Juga: Industri Kerupuk Rambak di Kelurahan Sembung Tulungagung Terus Bertahan di Tengah Persaingan Pasar
Direbus hingga Empuk dan Dijemur
Kulit sapi maupun kerbau kemudian direbus menggunakan api besar. Produsen menggunakan kayu bakar dan LPG untuk menjaga panas selama proses perebusan.
Kulit sapi yang masih baru membutuhkan waktu sekitar enam jam untuk direbus. Durasi tersebut bisa lebih panjang jika kulit sudah lama disimpan atau memiliki ketebalan yang lebih besar.
Setelah matang dan empuk, kulit ditiriskan lalu didinginkan hingga teksturnya mengeras. Kulit kemudian diiris tipis secara manual satu per satu.
Baca Juga: Industri Kerupuk Rambak di Kelurahan Sembung Tulungagung Terus Bertahan di Tengah Persaingan Pasar
Potongan tersebut tidak langsung dijemur. Kulit terlebih dahulu diangin-anginkan sekitar satu malam. Setelah itu, potongan kulit baru dijemur.
Saat musim kemarau, proses pengeringan kulit bisa membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Kulit yang sudah kering kemudian dapat disimpan sebagai bahan baku untuk produksi berikutnya.
Dua Kali Penggorengan Bikin Rambak Mekar
Setelah kering, potongan kulit digunting menjadi bagian-bagian kecil. Selanjutnya, kulit diberi bumbu berupa garam, bawang putih, dan sedikit gula pasir untuk menghasilkan rasa asin serta gurih.
Kerupuk rambak tidak langsung digoreng hingga mengembang. Ada tahapan penggorengan pertama yang membutuhkan waktu cukup panjang, bahkan sekitar delapan jam. Dalam proses tersebut, produsen dapat mengolah puluhan kilogram rambak sekaligus.
Setelah penggorengan pertama, minyak dikurangi menggunakan mesin spinner. Rambak kemudian masuk ke tahap penggorengan akhir.
Tahap ini justru berlangsung cepat. Kerupuk hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua menit untuk mengembang. Namun, proses menggoreng harus dilakukan sambil terus mengaduk agar rambak tidak gosong.
Baca Juga: Bisnis Kerupuk Rambak Pemalang Produksi 1 Kuintal per Hari, Dijual hingga Pekalongan
Dalam sehari, produksi rambak bisa mencapai sekitar 125 kilogram. Ketika hari libur, jumlahnya bahkan dapat meningkat hingga 200 kilogram.
Rambak Kerbau Paling Diminati
Seluruh rangkaian pembuatan kerupuk rambak membutuhkan waktu sekitar 10 hari saat musim kemarau. Ketika musim hujan, proses pengeringan bisa membuat waktu produksi mencapai sekitar satu bulan.
Rambak kulit kerbau menjadi salah satu produk yang paling diminati. Harganya sekitar Rp38.000 per 100 gram dan Rp75.000 per 250 gram. Sementara rambak kulit sapi dijual sekitar Rp39.000 per 100 gram.
Baca Juga: Cerita Perajin Kerupuk Rambak Legendaris di Tulungagung, Dua Dasawarsa Geluti Bisnis Rambak
Beragam jenis rambak tersedia, termasuk rambak kerbau, rambak sapi segar, hingga olahan kulit bagian luar kerbau. Karena menjadi salah satu kuliner khas daerah, kerupuk rambak juga kerap diburu wisatawan yang berkunjung ke Tulungagung.
Proses panjang tersebut menjadi alasan kerupuk rambak tidak sekadar camilan. Di balik teksturnya yang renyah dan rasa gurih, terdapat ketelitian serta tenaga besar para perajin untuk mengolah kulit menjadi oleh-oleh khas Tulungagung.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : CNN Indonesia