Kerupuk Rambak Tulungagung Pak Jarwo, Kriuknya Beda dan Bertahan Puluhan Tahun

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 19:50 WIB
Kerupuk rambak Tulungagung Pak Jarwo punya rasa gurih dan kriuk khas. Begini perjalanan usaha serta proses pembuatannya dari kulit sapi segar. (Youtube. com)
Kerupuk rambak Tulungagung Pak Jarwo punya rasa gurih dan kriuk khas. Begini perjalanan usaha serta proses pembuatannya dari kulit sapi segar. (Youtube. com)

TULUNGAGUNG - Kerupuk rambak Tulungagung menjadi salah satu oleh-oleh yang lekat dengan daerah ini. Salah satu produknya adalah Rambak Pak Jarwo yang memiliki ciri khas rasa gurih, tekstur keras, dan bunyi kriuk yang kuat saat digigit.

Kerupuk rambak Tulungagung tersebut tidak dibuat melalui proses instan. Pemilihan kulit, perebusan, pengirisan, penjemuran hingga pasteurisasi membutuhkan waktu sekitar lima sampai tujuh hari sebelum rambak siap dipasarkan.

Usaha Rambak Pak Jarwo juga memiliki perjalanan panjang. Berawal dari kondisi krisis moneter 1998, pemiliknya yang sebelumnya bekerja sebagai tenaga honorer memilih banting setir dan mulai menekuni bisnis kerupuk rambak.

Usaha itu mulai dijalankan dengan berjualan di sekitar Stasiun Tulungagung. Perkembangannya mulai terasa sekitar 2003. Dua tahun kemudian, pemilik memutuskan meninggalkan pekerjaan di sebuah laboratorium untuk fokus mengembangkan usaha rambak.

Baca Juga: Asal-Usul dan Kelezatan Kerupuk Rambak Tulungagung yang Wajib Dicoba dan Cocok untuk Oleh-oleh

Kulit Segar Jadi Kunci Kualitas

Dalam pembuatan kerupuk rambak Tulungagung, bahan baku menjadi salah satu bagian penting. Rambak Pak Jarwo memilih kulit sapi segar yang diperoleh langsung dari tempat penjagalan.

Bahan baku tersebut berasal dari Tulungagung dan daerah sekitar, termasuk Blitar serta Kediri. Pemilihan bahan baku lokal juga berkaitan dengan proses pengurusan sertifikasi halal.

Menurut penjelasan dalam video, penggunaan bahan baku dari daerah lokal memudahkan produsen memastikan proses penyembelihan dilakukan sesuai ketentuan yang diperlukan untuk pengajuan izin halal.

Baca Juga: Kerupuk Rambak Khas Tulungagung Jadi Primadona saat Lebaran Idul Fitri

Setelah kulit tersedia, proses pertama adalah pengerokan. Bulu yang masih menempel harus dihilangkan hingga bersih sebelum kulit masuk ke tahap berikutnya.

Kulit kemudian direbus sampai lunak dan matang. Lama perebusan bergantung pada ketebalan serta kondisi kulit. Secara umum, proses tersebut membutuhkan waktu sekitar empat jam atau lebih.

Direbus, Diiris, Lalu Dijemur

Setelah perebusan selesai, kulit ditiriskan dan dikeringkan. Berikutnya, kulit diiris sesuai ukuran yang dibutuhkan pelanggan.

Proses pengeringan menjadi salah satu tahapan yang cukup menentukan kualitas rambak. Setelah irisan kulit dijemur hingga kering, produsen melakukan pasteurisasi.

Baca Juga: Kerupuk Rambak Khas Tulungagung Jadi Primadona saat Lebaran Idul Fitri

Tahap tersebut memiliki tiga tujuan. Pertama, mengurangi kadar air. Kedua, membersihkan kotoran yang mungkin menempel selama proses penjemuran. Ketiga, melakukan sterilisasi dengan pemanasan.

Pasteurisasi dilakukan sekitar delapan hingga sepuluh jam. Dengan proses tersebut, kuman yang masih terdapat pada bahan dapat dimatikan sehingga rambak lebih aman dan siap masuk tahap selanjutnya.

Total waktu produksi dari bahan baku hingga menjadi kerupuk rambak sekitar lima sampai tujuh hari. Proses tersebut membuat kualitas bahan harus dijaga sejak awal.

Baca Juga: Cerita Perajin Kerupuk Rambak Legendaris di Tulungagung, Dua Dasawarsa Geluti Bisnis Rambak

Pertahankan Kriuk Meski Musim Hujan

Ciri khas Rambak Pak Jarwo terletak pada rasa gurih dan teksturnya. Kerupuk disebut memiliki kerenyahan yang berbeda sehingga menghasilkan sensasi kriuk saat dikonsumsi.

Menjaga kualitas itu bukan perkara mudah, terutama ketika musim penghujan. Proses penjemuran menjadi lebih sulit karena cuaca dapat berubah sewaktu-waktu.

Ketika hujan atau mendung datang, kulit yang sedang dijemur harus kembali dimasukkan. Dalam sehari, aktivitas tersebut bahkan bisa dilakukan hingga empat atau lima kali.

Baca Juga: Cerita Perajin Kerupuk Rambak Legendaris di Tulungagung, Dua Dasawarsa Geluti Bisnis Rambak

Produsen memilih tidak mengandalkan oven untuk mempercepat proses pengeringan. Alasannya, penggunaan oven dinilai dapat menghasilkan tekstur rambak yang kurang maksimal dan mengurangi karakter kriuk yang menjadi ciri khas produknya.

Bertahan dengan Penjualan Online

Perjalanan usaha Rambak Pak Jarwo juga pernah menghadapi tekanan besar ketika pandemi. Penjualan dilaporkan turun hingga 90 persen karena aktivitas masyarakat dan kunjungan wisata ikut berkurang.

Kondisi itu membuat volume produksi dikurangi. Namun, penjualan perlahan kembali bergerak setelah aktivitas masyarakat mulai normal dan sektor pariwisata dibuka.

Penjualan oleh-oleh ikut terbantu dengan kembali ramainya tempat wisata seperti Pantai Gemah. Wisatawan yang datang kemudian membawa rambak sebagai buah tangan.

Baca Juga: Kerupuk Rambak Khas Tulungagung Miliki Citarasa Kuat dan Tekstur Lebih Padat, Kenali Empat Ciri Unik dan Beda Dibanding yang Lain

Selain penjualan langsung di sekitar Stasiun Tulungagung, pemasaran juga dilakukan secara online. Cara tersebut membuat produk rambak bisa menjangkau konsumen dari berbagai wilayah Indonesia.

Untuk pengembangan produk, Rambak Pak Jarwo juga menyiapkan varian rasa baru seperti rumput laut dan balado. Varian tersebut masih melalui proses perizinan sebelum dipasarkan.

Dengan mempertahankan bahan baku lokal, proses produksi yang panjang, serta karakter rasa gurih dan kriuk, kerupuk rambak Tulungagung terus menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas yang memiliki pasar tersendiri.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : Abtv Blitar
Oleh-Oleh Tulungagung rambak sapi Rambak Pak Jarwo kerupuk rambak tulungagung stasiun tulungagung