TULUNGAGUNG – Marmer Tulungagung telah menjadi salah satu produk unggulan Indonesia yang dikenal hingga pasar internasional. Berasal dari batu gamping yang ditambang di wilayah selatan Kabupaten Tulungagung, marmer ini diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, mulai dari ubin, patung, hingga ornamen interior yang diekspor ke berbagai negara.
Di balik kesuksesan marmer Tulungagung sebagai komoditas ekspor, muncul kekhawatiran terhadap semakin berkurangnya kawasan perbukitan batu gamping yang menjadi sumber utama bahan baku. Aktivitas penambangan yang terus berlangsung dinilai berpotensi mengubah bentang alam jika tidak diimbangi dengan pengelolaan yang berkelanjutan.
Bagi masyarakat setempat, marmer Tulungagung bukan sekadar hasil tambang, tetapi telah menjadi bagian dari sejarah, budaya, dan sumber mata pencaharian selama puluhan tahun. Namun, kebutuhan industri yang terus meningkat memunculkan pertanyaan mengenai keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Berawal dari Perbukitan Batu Gamping
Kabupaten Tulungagung sejak lama dikenal memiliki kawasan perbukitan batu gamping yang menyimpan cadangan marmer berkualitas.
Batu-batu tersebut terbentuk melalui proses geologi selama ribuan tahun sebelum akhirnya ditambang dan diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Menurut sejarah yang disampaikan dalam dokumentasi tersebut, aktivitas penambangan marmer di Tulungagung telah berlangsung sejak sekitar tahun 1934. Kecamatan Campurdarat menjadi salah satu pusat industri marmer terbesar yang masih aktif hingga kini.
Diolah Menjadi Produk Bernilai Tinggi
Setelah ditambang, bongkahan marmer berukuran besar dibawa ke pabrik untuk dipotong menggunakan mesin khusus yang dialiri air agar batu tidak mengalami panas berlebih saat proses pemotongan.
Hasilnya kemudian diolah menjadi berbagai produk, mulai dari lantai marmer, meja, patung, hingga kerajinan dekoratif.
Selain marmer biasa, terdapat pula batu onyx yang memiliki karakter bening dan transparan sehingga banyak digunakan sebagai material dekorasi premium.
Pembuatan satu patung marmer bahkan dapat memakan waktu hingga dua atau tiga minggu karena proses pengerjaannya membutuhkan ketelitian tinggi.
Ekspor Besar, Identitas Daerah Belum Menonjol
Produk marmer dari Tulungagung telah dipasarkan ke berbagai negara dengan nilai penjualan yang mencapai miliaran rupiah setiap tahun.
Namun, sebagian produk ekspor disebut masih menggunakan merek dari luar negeri sehingga banyak konsumen mancanegara belum mengetahui bahwa marmer tersebut berasal dari Tulungagung.
Selain itu, pelaku usaha juga menghadapi tantangan berupa biaya ekspor dan pajak yang dinilai cukup tinggi karena marmer dikategorikan sebagai komoditas mineral.
Penopang Ekonomi Sekaligus Ancaman Lingkungan
Industri marmer menjadi sumber penghasilan bagi banyak warga, mulai dari penambang, pengrajin, hingga pelaku usaha ekspor.
Meski memberikan manfaat ekonomi yang besar, aktivitas penambangan batu gamping secara terus-menerus juga memunculkan kekhawatiran terhadap keberadaan bukit-bukit alami di wilayah tersebut.
Perbukitan yang dahulu menjadi ruang terbuka bagi masyarakat perlahan berubah menjadi area tambang untuk memenuhi kebutuhan industri.
Menjaga Warisan Alam Tulungagung
Keberadaan marmer telah menjadi identitas Kabupaten Tulungagung selama puluhan tahun.
Karena itu, pengembangan industri marmer diharapkan tetap memperhatikan aspek pelestarian lingkungan agar cadangan batu gamping tidak habis dalam waktu singkat.
Dengan pengelolaan yang seimbang, Tulungagung dapat terus mempertahankan reputasinya sebagai daerah penghasil marmer berkualitas dunia tanpa mengorbankan kelestarian bentang alam yang menjadi sumber kekayaan tersebut.
Editor : Maylanni Diana Fitri