RADAR TULUNGAGUNG – Musim kemarau mulai memberi tekanan terhadap lahan pertanian di Tulungagung. Sedikitnya 11 hektare sawah dilaporkan terdampak kekeringan sepanjang Juli 2026.
Kondisinya memang masih tergolong ringan, tetapi menjadi sinyal awal bagi petani untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak kemarau.
Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung mencatat lahan terdampak tersebar di Kecamatan Pakel dan Campurdarat, Tulungagung.
Rinciannya, 2 hektare berada di Desa Ngebong dan 5 hektare di Desa Suwaluh, Kecamatan Pakel. Di Kecamatan Campurdarat, masing-masing 2 hektare berada di Desa Pelem dan Desa Wates.
Kepala Dispertan Tulungagung, Suyanto mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan lahan yang mengalami puso maupun kerusakan tanaman secara meluas. Seluruh laporan yang masuk masih berada pada kategori kekeringan ringan.
Baca Juga: BRI Tulungagung Salurkan Bantuan Sarana Air Bersih Rp186 Juta, Dukung Wilayah Terdampak Kekeringan
"Berdasarkan laporan Juli 2026, total lahan padi yang terdampak kekeringan mencapai 11 hektare dan seluruhnya masih berkategori ringan," ujarnya.
Namun, kondisi tanaman di setiap wilayah berbeda. Di Desa Ngebong, sebagian besar tanaman padi sudah mendekati masa panen sehingga kekurangan air tidak terlalu berpengaruh.
Berbeda dengan Desa Suwaluh. Tanaman di wilayah tersebut masih berusia sekitar enam minggu atau berada pada fase vegetatif yang membutuhkan pasokan air cukup untuk menunjang pertumbuhan.
Sementara di Desa Pelem, sebagian lahan sudah dialihkan ke komoditas lain yang lebih menyesuaikan kondisi kemarau.
Di Desa Wates, sebagian sawah bahkan telah memasuki masa panen dan sebagian lainnya tidak kembali ditanami padi.
Meski dampaknya masih ringan, dispertan tidak menunggu kondisi memburuk. Seluruh lokasi yang dilaporkan terdampak telah mendapat penanganan melalui pompanisasi untuk memastikan tanaman tetap memperoleh pasokan air.
"Semua lokasi yang masuk laporan sudah kami tangani melalui pompanisasi agar kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi," jelas mantan camat Ngantru ini.
Pompanisasi menjadi langkah cepat untuk menahan dampak kekeringan. Sebab, semakin lama sawah kekurangan air, risiko terganggunya pertumbuhan tanaman semakin besar, terutama bagi tanaman yang masih berada pada fase vegetatif.
Di sisi lain, ancaman belum sepenuhnya berlalu. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Karena itu, pemantauan lahan terus dilakukan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL).
"Prediksi BMKG, kita mulai memasuki puncak kemarau pada Agustus sampai September. Untuk Tulungagung memang ada kekeringan, tetapi bukan kekeringan ekstrem," tuturnya.
Suyanto menegaskan, kecepatan laporan menjadi salah satu kunci agar kekeringan tidak berkembang menjadi ancaman serius bagi produksi pertanian.
Kelompok tani dan penyuluh diminta aktif melaporkan perubahan kondisi lahan sehingga intervensi dapat segera dilakukan.
"Semakin cepat laporan kami terima, semakin cepat pula penanganan di lapangan bisa dilakukan sehingga tanaman masih bisa diselamatkan," pungkasnya. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri