102 Kali Evakuasi Ular di Tulungagung hingga Awal Agustus 2026, DPKP Ungkap Penyebab Reptil Masuk Permukiman

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:53 WIB
Hingga awal Agustus 2026, petugas DPKP Tulungagung telah melakukan 102 kali evakuasi ular dari rumah maupun lingkungan warga.
Hingga awal Agustus 2026, petugas DPKP Tulungagung telah melakukan 102 kali evakuasi ular dari rumah maupun lingkungan warga.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Kemunculan ular di kawasan permukiman masih menjadi salah satu kondisi darurat nonkebakaran yang paling banyak ditangani Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Tulungagung.

Hingga awal Agustus 2026, petugas DPKP Tulungagung telah melakukan 102 kali evakuasi ular dari rumah maupun lingkungan warga.

Jumlah tersebut menjadikan evakuasi ular sebagai salah satu layanan penyelamatan dengan frekuensi tertinggi sepanjang tahun ini di Tulungagung. 

Hampir setiap pekan, petugas DPKP Tulungagung menerima laporan masyarakat yang menemukan ular berada di dalam rumah maupun area sekitar permukiman.

Lokasi penemuan ular pun beragam. Mulai dari ruang tamu, dapur, kamar mandi, plafon rumah, gudang, pekarangan, kandang ternak, saluran air, hingga kebun yang berada di sekitar rumah warga.

Baca Juga: Belum Akhir Tahun, Kasus Kebakaran di Tulungagung Tembus 68 Kejadian, Damkarmat Ingatkan Warga Lebih Waspada

Sebagian besar warga memilih meminta bantuan petugas karena khawatir ular yang ditemukan merupakan jenis berbisa.

Kasi Operasional dan Pengendalian DPKP Kabupaten Tulungagung, Bambang Pidekso mengatakan evakuasi ular masih mendominasi laporan penyelamatan satwa yang diterima pihaknya sepanjang 2026.

"Sampai saat ini sudah ada 102 laporan evakuasi ular yang kami tangani. Mayoritas ditemukan di rumah maupun lingkungan permukiman warga," ujarnya.

Dari ratusan kejadian tersebut, jenis ular yang paling sering dievakuasi adalah piton, kobra Jawa, dan ular keriting. Ketiganya kerap ditemukan bersembunyi di lokasi yang lembap, rimbun, atau memiliki banyak sumber makanan.

Menurut Bambang, keberadaan tikus di sekitar rumah menjadi salah satu faktor yang menarik ular masuk ke lingkungan permukiman.

Baca Juga: Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Kandang Sapi di Kesambi

Selain itu, perubahan cuaca dan menyempitnya habitat alami juga membuat reptil tersebut lebih sering bersinggungan dengan aktivitas manusia.

"Kemunculan ular biasanya dipengaruhi kondisi lingkungan, seperti perubahan cuaca, keberadaan sumber makanan, maupun habitat yang mulai terganggu sehingga ular mencari tempat baru," katanya.

Ia menjelaskan, ular piton umumnya masuk ke permukiman untuk mencari mangsa seperti tikus atau unggas. Sementara kobra Jawa lebih sering ditemukan di area semak, kebun, maupun saluran air yang berada di sekitar rumah.

Adapun ular keriting juga cukup sering ditemukan di pekarangan maupun tumpukan barang yang jarang dipindahkan.

Karena itu, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan dengan memangkas semak, membersihkan tumpukan barang yang tidak terpakai, serta mengendalikan populasi tikus agar tidak menjadi sumber makanan bagi ular.

Baca Juga: Sarang Tawon Masih Jadi Ancaman di Tulungagung, Damkar Sudah Evakuasi 570 Sarang hingga Pertengahan 2026

Selain itu, warga juga diminta lebih waspada ketika beraktivitas di area yang minim pencahayaan atau banyak ditumbuhi vegetasi, terutama pada malam hari ketika ular mulai aktif mencari makan.

Bambang menegaskan masyarakat tidak disarankan menangkap maupun membunuh ular secara mandiri. Selain berisiko dipatuk, masyarakat umumnya tidak mengetahui apakah ular yang ditemukan berbisa atau tidak.

"Kami mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menangkap atau memegang ular yang ditemukan karena jenis dan tingkat bahayanya belum diketahui," jelasnya.

DPKP Tulungagung pun terus mengimbau masyarakat agar segera menghubungi petugas apabila menemukan ular di sekitar rumah.

Dengan peralatan khusus dan personel yang telah terlatih, proses evakuasi dapat dilakukan lebih aman, baik bagi warga maupun satwa tersebut. (bac/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
dpkp tulungagung evakuasi ular nonkebakaran ular