RADAR TULUNGAGUNG – Puncak musim kemarau mulai menekan ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Tulungagung.
Sumber air warga yang mulai mengering membuat BPBD Tulungagung meningkatkan distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung, Sudarmaji mengatakan, dropping air kini menjadi salah satu fokus penanganan kekeringan.
Dalam kondisi tertentu, armada BPBD dapat turun hingga lima kali dalam sepekan.
“Dropping air, kami lakukan sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan,” ujarnya saat ditemui di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa Tulungagung, Rabu (12/8).
Menurut Sudarmaji, distribusi tidak boleh terhambat persoalan administrasi.
Ketika kondisi warga sudah membutuhkan pasokan air, pemerintah desa dapat segera mengajukan bantuan tanpa harus menunggu seluruh proses administrasi rampung.
“Kalau masyarakat sudah membutuhkan air, jangan sampai persoalan surat justru membuat distribusi terlambat,” tegasnya.
Saat ini terdapat sedikitnya empat desa yang menjadi perhatian BPBD karena sumber air warga mulai mengering.
Yakni, Desa Kalidawe, Kecamatan Pucanglaban; Desa Sebalor, Kecamatan Bandung; serta Desa Kresikan dan Desa Pakisrejo di Kecamatan Tanggunggunung.
Desa Sebalor menjadi salah satu lokasi yang baru mendapat pasokan air.
Sementara di Desa Pakisrejo, BPBD telah mengirimkan dua tangki untuk memenuhi kebutuhan warga.
Kondisi di Desa Pakisrejo menunjukkan bahwa keberadaan infrastruktur air belum sepenuhnya menjamin ketahanan warga menghadapi kemarau.
Sumur bor yang sebelumnya dibangun pemerintah belum menjangkau titik kekeringan yang kali ini berada di RT/RW berbeda.
BPBD meminta masyarakat aktif memantau stok air di tempat penampungan.
Jika persediaan mulai menipis, warga diminta segera melapor agar kebutuhan dapat dihitung dan armada dikirim sebelum kondisi semakin kritis.
“Kami berharap masyarakat tidak menunggu sampai air benar-benar habis. Kalau stok mulai menipis, segera laporkan sehingga bisa kami tindak lanjuti,” kata Sudarmaji.
Distribusi air juga menghadapi kendala geografis.
Di sejumlah lokasi, kondisi tanah berpasir membuat air yang telah disalurkan cepat meresap sehingga tidak tertampung secara optimal.
Karena itu, penanganan kekeringan tidak sekadar bergantung pada ketersediaan armada tangki.
Penentuan titik penampungan dan kondisi lingkungan juga harus diperhitungkan agar bantuan benar-benar bisa dimanfaatkan warga. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri