Wali Murid Soroti Rasa dan Kualitas Makanan dalam Pelaksanaan MBG

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:25 WIB
Sejumlah wali murid menilai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih perlu dievaluasi, terutama dari sisi kualitas, rasa, variasi menu, serta keamanan makanan.(ILUSTRASI AI)
Sejumlah wali murid menilai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih perlu dievaluasi, terutama dari sisi kualitas, rasa, variasi menu, serta keamanan makanan.(ILUSTRASI AI)

Radar Tulungagung - Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tulungagung mendapat respons beragam dari wali murid. Program tersebut dinilai membantu memenuhi kebutuhan makan anak selama di sekolah, namun masih terdapat sejumlah catatan terkait rasa, kualitas makanan, hingga keamanan pangan.

Halimatus, salah satu wali murid, menilai menu yang diberikan cukup beragam dengan porsi yang memadai. Namun, kualitas pengolahan makanan dinilai belum konsisten, terutama dari sisi rasa dan kematangan.

“Menurut saya, dari segi pemilihan menu sudah cukup baik dan cukup beragam. Namun, dalam pengolahannya terkadang masih kurang maksimal, terutama dari segi rasa dan tingkat kematangan makanan. Untuk porsinya sendiri, yang diterima adik saya lumayan cukup,” ujarnya.

Menurut Halimatus, persoalan rasa membuat anak terkadang tidak menghabiskan makanan. Selain menu yang kurang sesuai selera, kebiasaan anak sarapan dari rumah juga membuat makanan MBG tidak selalu habis. Karena itu, dia berharap evaluasi tidak hanya memperhatikan kandungan gizi, tetapi juga cita rasa dan penyajian.

“Kalau menu sesuai dengan selera anak, makanan akan lebih menarik untuk dikonsumsi sehingga tidak banyak yang tersisa. Saya berharap kualitas bahan makanan dan proses pengolahannya lebih terjaga,” katanya.

Sementara itu, Fredo menilai MBG cukup membantu, terutama bagi anak yang menjalani sekolah sejak pagi hingga sore. Keberadaan program tersebut membuat anak tidak perlu selalu membawa bekal dari rumah untuk memenuhi kebutuhan makan siang.

“Kandungan gizi tetap menjadi prioritas, tetapi rasa juga tidak bisa diabaikan. Kalau makanan gizinya bagus tetapi anak tidak mau menghabiskan karena rasanya kurang cocok, pada akhirnya manfaat gizinya juga tidak maksimal,” katanya.

Fredo juga mengakui sempat muncul kekhawatiran dari wali murid setelah adanya kasus keracunan makanan di sejumlah sekolah. Meski demikian, dia melihat adanya pembenahan dalam pelaksanaan program dan berharap pengawasan terus diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Berbeda, Arif menyoroti aspek keamanan pangan. Menurutnya, produksi dan distribusi ribuan porsi makanan membutuhkan pengawasan ketat agar kualitas dan higienitas tetap terjaga hingga makanan diterima siswa.

“Ini bukan sekadar persoalan makanan enak atau tidak enak. Ini urusannya nyawa. Sekali terjadi keracunan, bisa ada puluhan orang yang menjadi korban. Jangan sampai program yang tujuannya baik justru menimbulkan persoalan baru karena aspek keamanan makanan tidak menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Menurut Arif, tata kelola distribusi juga perlu diperhatikan karena makanan diproduksi dalam jumlah besar dan membutuhkan waktu sebelum dikonsumsi siswa. Dia berharap standar keamanan pangan menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan pelaksanaan MBG.

“Yang harus dilihat juga adalah apakah makanan itu benar-benar aman, bergizi, layak dikonsumsi, dan memberikan manfaat jangka panjang. Jangan hanya mengejar berapa banyak porsi yang berhasil dibagikan setiap hari,” pungkasnya.

Editor : Rahiiq Al Bachri
Sumber : Radar Tulungagung
evaluasi dan harapan Program MBG radar tulungagung Resah MBG Del Serdang