Radar Tulungagung - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menghadapi tantangan dalam penyediaan dan distribusi makanan, tetapi juga dari sisi rantai pasok bahan baku. Sejumlah supplier menilai pola pemesanan serta pembayaran perlu diperbaiki agar kebutuhan bahan makanan dapat dipenuhi tepat waktu dan kualitasnya tetap terjaga.
Supplier MBG, Umam mengatakan salah satu kendala yang dihadapi adalah pemesanan yang terkadang dilakukan secara mendadak. Kondisi tersebut membuat supplier harus menyesuaikan kembali ketersediaan barang, terlebih ketika jumlah pesanan cukup banyak.
“Dari pihak supplier, salah satu kendala dalam pelaksanaan MBG ada pada teknis pemesanan yang terkadang dilakukan secara mendadak. Kondisi itu membuat kami bingung ketika barang yang dibutuhkan belum tentu tersedia dalam jumlah sesuai pesanan,” ujarnya.
Menurutnya, koordinasi yang lebih awal diperlukan agar supplier memiliki waktu untuk menyiapkan barang sesuai jumlah dan kualitas yang dibutuhkan. Ia berharap pola komunikasi antara SPPG dan supplier dapat diperbaiki apabila program MBG terus berjalan.
Sementara itu, supplier lainnya, Nining, menyoroti persoalan serupa. Selain pesanan mendadak, ia menyebut keterlambatan pembayaran juga dapat mengganggu perputaran modal supplier untuk membeli bahan baku.
“Selain pemesanan mendadak, beberapa supplier juga mengalami keterlambatan pembayaran. Ini cukup berpengaruh karena ketika pembayaran terlambat, perputaran modal kami untuk membeli bahan baku berikutnya menjadi ikut terganggu,” kata Nining.
Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat berimbas pada proses pengadaan bahan baku. Ketika modal untuk pembelian bahan berikutnya belum tersedia, supplier menjadi lebih lambat dalam memenuhi kebutuhan sehingga kualitas barang yang disuplai juga berpotensi terdampak.
“Keterlambatan pembayaran akhirnya membuat pembelian bahan baku menjadi lebih lambat. Kalau bahan bakunya terlambat tersedia, tentu bisa berpengaruh terhadap kualitas barang yang disuplai,” jelasnya.
Di sisi lain, Nining menilai dari aspek harga sejauh ini sudah sesuai dengan ketentuan yang ada. Ia justru berharap rantai pasok MBG dapat lebih banyak melibatkan pedagang kecil sehingga manfaat ekonomi program tidak hanya dirasakan oleh mitra tertentu.
“Menurut saya, seharusnya supplier untuk program ini juga lebih banyak melibatkan pedagang-pedagang kecil. Jangan sampai sebagian kebutuhan justru dimonopoli oleh mitra tertentu,” ungkapnya.
Selain persoalan pengadaan, Nining menilai kualitas makanan dan variasi menu juga perlu menjadi perhatian. Menurutnya, bahan baku yang baik perlu didukung pengolahan makanan yang berkualitas agar siswa memiliki selera makan dan tidak mudah bosan.
“Yang paling penting pada akhirnya adalah kualitas makanan yang diterima anak-anak. Makanan harus dibuat dengan kualitas yang baik supaya anak memiliki selera makan dan mau menghabiskannya,” pungkasnya.
Editor : Rahiiq Al BachriSumber : Radar Tulungagung