Pasar Susu Mulai Pulih, Peternak Tulungagung Tak Lagi Khawatir Produksi Tak Terserap

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:48 WIB
Produksi susu sapi peternak Tulungagung kini memiliki pasar yang lebih pasti setelah diserap sejumlah industri pengolahan.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)
Produksi susu sapi peternak Tulungagung kini memiliki pasar yang lebih pasti setelah diserap sejumlah industri pengolahan.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)

Radar Tulungagung - Kekhawatiran peternak sapi perah di Kabupaten Tulungagung terhadap produksi susu yang tidak terserap mulai berkurang. Sejumlah industri pengolahan kini kembali menyerap produksi susu dari unit usaha lokal, membuat pasar susu lebih terjamin dan harga di tingkat produsen relatif stabil.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Tulungagung, Ersthanty Novelita, mengatakan harga susu di tingkat produsen saat ini berada di kisaran Rp8.000 per liter. Nilai tersebut dapat berbeda sesuai kualitas susu yang dihasilkan.

“Untuk harga susu saat ini relatif stabil. Dari produsen, rata-rata berada di kisaran Rp8.000 per liter. Ada yang Rp7.900, Rp8.200 sampai Rp8.300 per liter, tergantung kondisi dan kualitas susu,” ujarnya.

Menurut Ersthanty, kondisi pasar susu saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Peternak pernah menghadapi situasi ketika susu yang diproduksi tidak seluruhnya terserap sehingga harga mengalami penurunan.

“Sekarang harga susu sudah cukup baik. Kondisinya berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika harga susu sempat anjlok dan susu tidak terserap,” jelasnya.

Saat ini, produksi susu dari unit usaha di Tulungagung dikirim ke sejumlah industri pengolahan susu. Tujuan pengiriman tersebar di beberapa daerah, di antaranya Pasuruan, Jakarta, dan Jawa Barat.

“Susu dari unit usaha di Tulungagung diserap oleh beberapa industri pengolahan susu. Pengirimannya ada yang ke industri di Pasuruan, Jakarta, Jawa Barat dan daerah lainnya, sesuai kerja sama masing-masing,” katanya.

Adanya sejumlah tujuan penyerapan tersebut memberikan pilihan bagi unit usaha dalam menentukan mitra. Namun, keputusan tersebut tetap mempertimbangkan harga yang ditawarkan masing-masing industri.

Bahkan, perbedaan harga yang terlihat kecil dapat menjadi pertimbangan. Selisih sekitar Rp500 per liter, menurut Ersthanty, sudah cukup memengaruhi pilihan unit usaha dalam menentukan tempat penjualan.

“Selisih harga sekitar Rp500 per liter saja kadang sudah menjadi pertimbangan unit usaha dalam menentukan ke mana susu akan disetorkan,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepastian pasar menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha peternakan sapi perah. Sebab, produksi susu berlangsung setiap hari sehingga peternak membutuhkan penyerapan yang berkelanjutan.

Di sisi lain, harga susu juga harus mampu mengimbangi biaya produksi, terutama kebutuhan pakan. Jika harga susu stabil dan biaya produksi masih dapat ditutup, usaha sapi perah dinilai masih memiliki prospek untuk dipertahankan.

Harga susu di tingkat konsumen saat ini berada di kisaran Rp8.500 hingga Rp9.500 per liter. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan harga di tingkat produsen karena terdapat proses distribusi dan pengolahan sebelum produk sampai kepada konsumen.

Ersthanty berharap kondisi penyerapan susu lokal dapat terus dipertahankan. Kepastian pasar dinilai penting agar peternak tidak kembali menghadapi persoalan susu yang tidak terserap.

“Yang paling penting bagi peternak adalah harga susu tetap stabil. Kalau bisa semakin naik dan tetap seimbang dengan harga pakan, itu yang paling diharapkan,” pungkasnya.

Editor : Rahiiq Al Bachri
Sumber : Radar Tulungagung
produksi susu penholahan industri pengolahan susu sapi perah radar tulungagung