Volume Air Waduk Wonorejo Tinggal 49,7 Juta Meter Kubik, PLTA Mulai Atur Jam Operasional

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:58 WIB
Volume air Waduk Wonorejo tersisa sekitar 49,7 juta meter kubik di tengah kondisi kemarau.(RAHIIQ/RATU)
Volume air Waduk Wonorejo tersisa sekitar 49,7 juta meter kubik di tengah kondisi kemarau.(RAHIIQ/RATU)

 

RADAR TULUNGAGUNG – Kemarau mulai menggerus tampungan Waduk Wonorejo. Hingga pertengahan Agustus, volume air waduk tercatat sekitar 49,7 juta meter kubik.

Kondisi tersebut membuat pengelola harus mengetatkan pengaturan air agar kebutuhan listrik dan irigasi tetap aman.

Pengelola Operasional Perum Jasa Tirta I Wilayah Wonorejo/Tulungagung, Didik Edy Susilo mengatakan, berdasarkan data per 14 Agustus 2026 pukul 12.00, elevasi waduk berada pada 166,47 meter. Sementara volume air tersimpan mencapai sekitar 49,7 juta meter kubik.

"Ada penyusutan volume air di waduk selama kemarau ini,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat pengelolaan tampungan harus dilakukan secara cermat.

Baca Juga: Ayunkan Joran, Warga Gondang Tersengat Listrik hingga Meninggal di Waduk Wonorejo

Salah satu langkah mitigasi yang diterapkan yakni mengatur jam operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan mempertimbangkan ketersediaan air.

“Untuk menghadapi kondisi kemarau tahun ini, salah satu upaya mitigasi yang dilakukan adalah pengaturan jam operasional PLTA. Pengaturan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan ketersediaan air waduk,” jelas Didik.

Meski jam operasional diatur, PLTA tetap beroperasi. Produksi listrik disesuaikan dengan kebutuhan beban tetap atau fix load serta kondisi waduk.

Jadi, produksi listrik tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi operasional yang ada.

“Operasional PLTA tetap kami jalankan untuk memenuhi beban tetap atau fix load,” ungkapnya.

Baca Juga: Pompanisasi Dongkrak Indeks Pertanaman Sawah Tulungagung hingga IP 300 Saat Kemarau

Selain pembangkit listrik, tampungan Waduk Wonorejo juga menopang kebutuhan irigasi.

Karena itu, pengelola harus menjaga keseimbangan pemanfaatan air agar pasokan untuk pertanian tetap tersedia selama kemarau.

Sejauh ini, kebutuhan irigasi masih terpenuhi, khususnya di wilayah Bendung Tiudan.

Berdasarkan pola dekade kedua, kebutuhan air tercatat sekitar 1,13 meter kubik per detik, sedangkan kondisi aktual berada di kisaran 1,11 meter kubik per detik.

“Untuk kebutuhan irigasi selama ini masih terpenuhi, khususnya di Bendung Tiudan. Berdasarkan pola dekade kedua, kebutuhan air sekitar 1,13 meter kubik per detik, sementara kondisi aktual sekitar 1,11 meter kubik per detik,” pungkasnya. (bac/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
volume air elevasi plta irigasi Waduk Wonorejo