Radar Tulungagung - Ambrolnya Dam Pacar mulai berdampak terhadap kondisi pengairan di wilayah sekitar. Sedikitnya lima desa disebut berpotensi terdampak akibat kerusakan struktur bangunan bendung yang selama ini menjadi salah satu penunjang kebutuhan air pertanian.
Meski demikian, dampak kerusakan tersebut belum terlihat signifikan di lahan pertanian. Tim BBWS Brantas Andri Setiawan mengatakan, kondisi itu salah satunya dipengaruhi pola tanam petani yang saat ini mayoritas berupa palawija.
“Memang ada lima desa yang kemungkinan terdampak. Tapi dampaknya belum begitu terlihat meskipun ketinggian air turun, karena lahan pertanian di sana mayoritas palawija,” ujarnya.
Menurut Andri, kebutuhan air tanaman palawija relatif tidak sebesar tanaman padi. Kondisi tersebut membuat penurunan ketinggian air akibat ambrolnya bendung belum langsung menimbulkan gangguan besar terhadap pertanian di wilayah terdampak.
Namun, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian karena masih terdapat lahan yang ditanami padi. Terlebih, kebutuhan air tanaman padi lebih tinggi sehingga penurunan pasokan air berpotensi dirasakan apabila kerusakan bendung tidak segera ditangani.
Andri menjelaskan, ambrolnya Dam Pacar berkaitan dengan kerusakan pada struktur bangunan. Kerusakan tersebut kemudian membuat fungsi bendung sebagai salah satu penunjang pengairan tidak berjalan secara optimal.
“Kerusakannya karena struktur bangunan,” jelasnya.
Sementara itu, Parmin, warga Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, mengatakan kekhawatiran terhadap pasokan air terutama dirasakan petani yang masih menanam padi. Tanaman tersebut belum memasuki masa panen sehingga masih membutuhkan pengairan.
“Yang terdampak mungkin daerah sawah di Wajak. Daerah Wajak bisa kekurangan air, karena tanaman padinya juga belum tua dan masih membutuhkan air,” ujarnya.
Parmin menyebut Dam Pacar selama ini menjadi salah satu sumber air bagi lahan pertanian di wilayah sekitar, termasuk Sanggrahan.
“Ini merupakan sumber air untuk sawah-sawah. Sawah di daerah Sanggrahan dan sekitarnya airnya berasal dari sini,” katanya.
Meski dampak terhadap pertanian saat ini belum terlalu terasa, warga berharap kerusakan segera mendapatkan penanganan. Hal tersebut penting untuk menjaga pasokan air, terutama apabila kebutuhan pengairan meningkat.
“Harapannya segera diperbaiki karena ini merupakan sumber air untuk sawah,” pungkas Parmin.
Editor : Rahiiq Al BachriSumber : Radar Tulungagung