
TULUNGAGUNG - Atap SDN 3 Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, ambruk dan membuat belasan siswa harus mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di tenda darurat.
Tenda berukuran 6 x 4 meter itu kini digunakan sementara oleh satu rombongan belajar (rombel) yang ruang kelasnya terdampak.
Atap ruang kelas III tersebut ambruk pada Senin (17/8) sekitar pukul 12.00. Tidak ada korban dalam kejadian itu karena ruang kelas sedang dalam kondisi kosong ketika bangunan mengalami kerusakan.
Dugaan sementara, bangunan ambruk karena konstruksi yang sudah lapuk akibat termakan usia. Dari hasil pengecekan, kayu pada bagian atas bangunan diketahui telah mengalami pelapukan. Material atap yang jatuh juga menyebabkan sebagian dinding ruang kelas ikut runtuh.
Kasi Sarpras SD Dinas Pendidikan (Disdik) Tulungagung Rizki Ramadhan mengatakan, ruang kelas yang ambruk merupakan bangunan lama dan belum masuk dalam program renovasi. Saat kejadian, sekolah justru tengah melakukan revitalisasi terhadap tiga ruang kelas lainnya.
Baca Juga: Tersapu Angin Kencang, Atap Asbes Rumah di Campurdarat Tulungagung Beterbangan
“Jadi pada tanggal tersebut ada satu ruang kelas yang tidak ikut direnovasi, itu yang mengalami roboh,” ujarnya.
Menurut Rizki, kondisi bangunan yang ambruk memang sudah tidak layak. Bangunan tersebut diperkirakan merupakan peninggalan program SD Inpres yang dibangun sekitar era 1970–1980-an.
Kerusakan ruang kelas membuat sekolah harus mencari tempat sementara agar proses pembelajaran tetap berjalan.
Disdik mendapat bantuan dari BPBD Tulungagung untuk mendirikan tenda berukuran 6 x 4 meter sebagai ruang belajar.
Tenda tersebut hanya digunakan oleh satu rombel, yakni siswa yang sebelumnya menempati ruang kelas terdampak. Jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran di tenda diperkirakan sekitar 10–15 anak.
“Yang di tenda hanya satu kelas. Kelas lainnya masih menggunakan ruang yang tersedia,” terang Rizki.
Dengan ukuran tenda yang terbatas, aktivitas belajar siswa menghadapi sejumlah kendala. Selain ruang gerak yang lebih sempit dibandingkan kelas, siswa juga harus berhadapan dengan kondisi panas ketika cuaca sedang terik.
Sementara itu, jumlah seluruh siswa SDN 3 Wonorejo berkisar 80–90 anak. Siswa lainnya masih mengikuti pembelajaran menggunakan ruang kelas yang tersedia di sekolah.
Kondisi tersebut menambah tantangan bagi sekolah karena kegiatan belajar mengajar tetap harus berlangsung di tengah keterbatasan ruang.
Terlebih, SDN 3 Wonorejo telah menerapkan sistem dua shift selama proses revitalisasi ruang kelas berlangsung.
Rizki menjelaskan, ruang kelas yang ambruk tidak akan direnovasi. Disdik memilih menghapus bangunan lama tersebut dari aset dan membongkarnya secara keseluruhan karena kondisinya sudah tidak layak digunakan.
“Yang ambruk itu atap jatuh sampai ke bawah, hanya menyisakan dinding. Sebagian dinding juga ada yang ambruk karena tertimpa atap,” jelasnya.
Baca Juga: Angin Kencang Terjang Tulungagung Selatan, Sejumlah Atap Rumah Warga Desa Besole Rusak
Dengan demikian, penanganan ruang kelas tersebut tidak diarahkan pada perbaikan bangunan lama. Disdik kini menyiapkan opsi agar siswa tidak terlalu lama menjalani pembelajaran di tenda.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah memanfaatkan ruangan lain yang masih memungkinkan digunakan.
Ruang perpustakaan maupun ruangan yang belum digunakan secara optimal menjadi alternatif untuk mendukung kegiatan belajar siswa.
Langkah tersebut diperlukan agar proses pembelajaran tetap berlangsung dengan kondisi yang lebih mendukung.
Di sisi lain, revitalisasi tiga ruang kelas yang sebelumnya sudah berjalan tetap menjadi bagian dari kondisi yang harus disesuaikan sekolah selama keterbatasan ruang.
Untuk sementara, tenda darurat menjadi tempat belajar bagi siswa kelas III yang ruangannya terdampak. Sekolah harus mengatur penggunaan ruang yang tersedia agar seluruh kegiatan belajar mengajar tetap berjalan di tengah proses penataan dan perbaikan fasilitas sekolah.(sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri