TULUNGAGUNG – Sobontoro Night Fest 2026 tak sekadar menjadi parade kemerdekaan. Gelaran Baris Kreasi di Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, ini menjelma menjadi panggung besar kreativitas warga.
Sebanyak 22 tim turun ke jalan, melampaui target awal 20 tim, membawa beragam kreasi seni, budaya, hingga cerita legenda masa lalu.
Ribuan warga memadati sepanjang rute, mulai Perempatan Veteran hingga Balai Desa Sobontoro, Sabtu (5/9) malam.
Puncak kemeriahan terlihat ketika rombongan peserta memasuki panggung kehormatan di kawasan Dusun Prayan 3.
Satu per satu tim mempertontonkan kreativitasnya di hadapan masyarakat dan tamu undangan.
Kepala Desa Sobontoro, H. Sodiq Afandi, S.Sos. mengatakan, antusiasme warga menjadi bukti bahwa konsep baris kreasi mendapat sambutan kuat.
Pemdes awalnya menargetkan dua tim dari masing-masing RW. Yakni dengan target 20 tim untuk 10 RW.
Namun, jumlah peserta akhirnya mencapai 22 tim dengan anggota sekitar 25–40 orang per kelompok.
“Antusiasme masyarakat cukup baik dan bersemangat. Target awal 20 kelompok ternyata menjadi 22 tim. Kalau rata-rata 30 orang per tim, sudah sekitar 600 lebih peserta. Ditambah panitia dan unsur pendukung, lebih dari 1.000 personel terlibat,” ujarnya.
Sebab, kemeriahan tidak hanya diukur dari banyaknya peserta, tetapi dari keberanian warga mengolah budaya menjadi pertunjukan yang atraktif.
Berbagai cerita legenda tempo dulu dan kesenian tradisional dikemas dalam bentuk baris kreasi. SDN 2 Sobontoro, misalnya, tampil membawa kreasi reog kendang.
Menurut Sodiq, baris kreasi sengaja dipilih setelah pada tahun sebelumnya Desa Sobontoro menggelar karnaval.
Konsep tahun ini diarahkan untuk menonjolkan filosofi kebersamaan, kekompakan, dan keserasian.
“Baris kreasi ini mempunyai filosofi tersendiri, yakni kebersamaan, kekompakan, dan keserasian masyarakat,” jelasnya.
Lebih jauh, tema “Kreatif, Kompak, Berbudaya” menjadi pesan utama yang ingin ditanamkan Pemdes Sobontoro.
Di tengah tren karnaval dan hiburan yang semakin modern, pemerintah desa tidak ingin kreativitas warga justru menjauh dari akar budaya.
Kreatif berarti memberi ruang bagi warga untuk berinovasi. Kompak menggambarkan kuatnya gotong royong antarwarga. Sedangkan berbudaya menjadi penegas bahwa modernisasi tidak harus menghilangkan kesantunan dan karakter masyarakat.
“Kami tidak ingin meninggalkan kemodernan, tetapi budaya santun dan sopan tetap harus dipertahankan,” tegas Sodiq.
Panggung kehormatan di Dusun Prayan 3 menjadi salah satu titik paling ramai. Ribuan penonton menyaksikan penampilan setiap tim sekaligus memberikan dukungan kepada peserta.
Hadir di panggung kehormatan, jajaran Forkopimcam Boyolangu yakni Camat Boyolangu, Kapolsek Boyolangu dan Danramil Boyolangu, bersama Kepala Desa Sobontoro. Turut diundang unsur Puskesmas Beji, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta perwakilan organisasi perempuan seperti Muslimat dan Fatayat.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa Sobontoro Night Fest dibangun bukan hanya oleh pemerintah desa.
Masyarakat menjadi aktor utama, sementara pemerintah dan unsur lintas sektor hadir sebagai penguat kegiatan.
Bahkan, Kepala Desa Sobontoro bersama jajaran Forkopimcam Boyolangu beberapa kali turun dari panggung kehormatan untuk menyerahkan penghargaan kepada tim peserta.
Apresiasi diberikan sebagai bentuk penghormatan terhadap kreativitas, kekompakan, dan penampilan budaya yang ditampilkan masing-masing kelompok.
Peserta pun tidak hanya berasal dari perwakilan RW. Sejumlah lembaga pendidikan ikut ambil bagian, di antaranya SMK Brawijaya, SDN Sobontoro 1, SDN Sobontoro 2, SMK Veteran, serta komunitas pemuda di Desa Sobontoro.
Dari sisi pengamanan, panitia melibatkan Linmas, Karang Taruna, Polsek, Koramil, Kecamatan, hingga Puskesmas Beji.
Kolaborasi itu dilakukan untuk memastikan parade malam berjalan aman dan tertib. Selain itu, Sobontoro Night Fest berakhir pukul 23.00 sesuai surat edaran dari pemerintah kabupaten.
Sodiq menegaskan, kegiatan tersebut akan terus menjadi bagian dari agenda peringatan HUT Kemerdekaan RI di Desa Sobontoro. Bentuknya bisa berubah setiap tahun, namun semangatnya tetap sama.
“Harapan kami, masyarakat tetap bersatu dan rukun. Desa akan kondusif apabila warganya guyub, saling gotong royong, mengerti, memahami, dan menghormati,” pungkasnya.(rin)
Editor : Vidya Sajar Fitri