
TULUNGAGUNG - Perbaikan SD Tulungagung masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah.
Dari total 566 sekolah dasar (SD), sekitar separo atau diperkirakan 283 sekolah membutuhkan perbaikan karena bangunan termakan usia dan mengalami kerusakan.
Namun, kemampuan anggaran daerah masih jauh dari kebutuhan tersebut. Pada 2026, baru 43 SD yang mendapat bantuan perbaikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tulungagung.
Anggaran yang disiapkan berada di kisaran Rp 6 miliar hingga Rp 8 miliar.
Kondisi itu membuat ratusan sekolah lainnya belum tersentuh program perbaikan. Penanganan pun harus dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan anggaran pemerintah daerah.
Plt Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tulungagung Fajar Widariyanto mengatakan, kondisi bangunan sekolah memang menjadi perhatian. Namun, tidak seluruh kebutuhan dapat ditangani sekaligus.
“Untuk sekolah-sekolah yang roboh, tahun depan kita ajukan anggaran untuk pembangunan kembali,” jelasnya.
Baca Juga: CKG Pelajar Belum Rampung, Ini Alasan Pemeriksaan Kesehatan Anak di Sekolah Perlu Berkala
Persoalan infrastruktur pendidikan tersebut semakin mendapat perhatian setelah dua bangunan sekolah roboh dalam beberapa bulan terakhir.
Keduanya yakni SDN 1 Babadan, Kecamatan Karangrejo, dan SDN 3 Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo.
Khusus di SDN 3 Wonorejo, bangunan yang roboh bukan ruang kelas utama. Bangunan tersebut merupakan ruang guru yang kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.
“SDN 3 Wonorejo yang roboh itu bukan ruang kelas, tetapi ruang guru yang digunakan untuk belajar,” terang Fajar.
Di sisi lain, kebutuhan perbaikan sekolah jauh lebih besar dibandingkan jumlah sekolah yang telah mendapatkan bantuan.
Selain 43 SD melalui APBD, terdapat 11 SD yang memperoleh alokasi anggaran dari APBN.
Jika digabungkan, jumlah sekolah yang memperoleh bantuan dari kedua sumber anggaran tersebut tetap belum sebanding dengan sekitar 283 SD yang diperkirakan membutuhkan perbaikan.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Tulungagung Tetap Dibangun, Desain Diubah karena Jalur Sutet
Fajar menambahkan, SDN 3 Wonorejo sebenarnya telah memperoleh dana revitalisasi pada 2026. Namun, anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan ruang kelas.
“Untuk tahun ini SD tersebut mendapat dana revitalisasi yang digunakan untuk ruang kelas,” imbuhnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan penanganan sarana pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali bangunan yang roboh.
Sekolah yang mengalami kerusakan juga membutuhkan pemetaan dan perbaikan sebelum kondisinya semakin parah.
Pemkab Tulungagung mendorong pihak sekolah lebih aktif menyampaikan kondisi bangunan kepada pemerintah. Pelaporan dinilai penting agar kerusakan dapat diketahui dan dipetakan sejak awal.
Dengan begitu, ruang atau bangunan yang berpotensi membahayakan siswa maupun guru dapat segera masuk dalam usulan perbaikan.
Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin mengatakan, bangunan di SDN 1 Babadan dan SDN 3 Wonorejo yang roboh telah diusulkan untuk pembangunan kembali.
Baca Juga: Usia Bangunan Sekolah Jadi Perhatian, Ini Alasan Gedung Puluhan Tahun Perlu Diperiksa dan Direnovasi
“Bangunan di dua sekolah dasar yang roboh sudah diusulkan untuk pembangunan,” ujarnya.
Ahmad juga meminta kepala sekolah tidak menunggu sampai kondisi bangunan semakin parah. Ruang kelas yang dinilai rawan harus segera diusulkan untuk mendapatkan penanganan.
“Semua kepala sekolah diinstruksikan untuk mengusulkan perbaikan ruang kelas yang rawan ambruk,” tegasnya.
Besarnya jumlah sekolah yang membutuhkan perbaikan membuat pembenahan sarana pendidikan menjadi agenda yang tidak bisa dilakukan secara sporadis.
Dengan jumlah sekitar 283 SD yang diperkirakan membutuhkan perbaikan, pemerintah daerah perlu menyesuaikan prioritas dengan tingkat kerusakan dan kemampuan anggaran.
Di sisi lain, pemetaan kondisi bangunan secara berkala menjadi bagian penting untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi persoalan keselamatan.
Penanganan lebih awal diharapkan dapat mengurangi risiko bangunan roboh sekaligus menjaga kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.(sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri